Kekuatan Sosial Media Sesungguhnya

Tag

, ,


Beberapa dari kita masih sibuk untuk menambah follower dan mencari perhatian orang-orang yang kita follow. Karena kesibukan itu kadang kita lupa untuk memanfaatkan kekuatan sosial media yang sebenarnya.

Berikut adalah sebuah uraian yang sangat menarik betapa beberapa orang telah mampu melakukan yang sangat luar biasa lewat sosial media dan sesungguhnya siapapun bisa melakukannya, termasuk kita semua.

Bagaimana Keterhubungan di Media Sosial Mendorong Orang untuk Berbuat Kebaikan?

Link berita yang di-twit oleh Pemimpin Redaksi Detikcom @budionodarsono Rabu (11/8/2010) sekitar pukul 23.00 WIB itu menggelisahkan banyak orang. Alissa Wahid yang baru saja selesai mengeloni anaknya langsung bangun dan sibuk dengan BB-nya untuk menghimpun informasi lebih jauh. Dengan setengah histeris dia nge-twit:
@alissawahid : @budionodarsono ya ampuun.. Wartawan detiknya sopo pak, mungkin aku bs kontak lgs

Berita itu berjudul “Terlilit Utang Rp 20 Ribu, Ibu Ajak Dua Anaknya Bakar Diri“.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Waktunya untuk lebih peduli!

Seni Memilih

Tag

, ,


Presentasi berikut adalah satu presentasi yang menarik. Sang presenter, Sheena Iyengar, adalah seorang peneliti sekaligus penulis buku: The Art of Choosing. Presentasi ini begitu menarik bagi kami, karena kadang tidak menyadari bahwa dibalik hal-hal yang biasa kita lakukan (memilih) kadang terkandung banyak aspek luar biasa.

Dari Sofa Untuk Istana

Tag

, ,



Dear Bapak Yang Bekerja di Istana,

Belakangan ini Saya membaca banyak sekali masalah yang sedang menimpa Bapak. Dari mulai para anak-anak yang melapor ditoyor salah satu oknum yang mirip anggota pengawal Bapak, anak pengguna jalan yang kabarnya sedikit trauma karena kegarangan para pengawal Bapak, anak yang terluka bakar karena ketidakmampuan anak buah Bapak membuat produk yang aman, dan mungkin ratusan masalah lainnya yang disebabkan oleh mereka yang dekat dengan Bapak.

Bapak, Bapak rajin berkeluh kesah pada kami semua, bahwa ada banyak pihak yang coba memperburuk citra kerja Bapak. Tapi apakah Bapak sudah benar-benar melihat sekeliling Bapak? Mungkin yang memperburuk citra Bapak adalah mereka yang selalu berada di dekat Bapak. Bapak, Saya dulu sempat mengagumi Bapak atas ketegasan Bapak menentang salah satu penghuni istana sebelumnya. Ketegasan Bapak itulah yang begitu membekas bagi Saya. Belakangan ketegasan itu tidak lagi tersisa di penampilan Bapak. Bapak kadang hanya terlihat membaca, bukan berbicara. Kami rakyat jelata kadang bingung apakah yang Bapak sampaikan sungguh suara hati Bapak atau hasil olahan mereka yang coba membentuk citra tertentu bagi Bapak? Lebih parah lagi, kadang bahasa yang Bapak sampaikan begitu berbelit dan susah kami mengerti.

Bapak, Bapak bekerja di sebuah istana, dengan tugas mulia – menjadi pelayan bagi seluruh bangsa. Mungkin citra itulah yang seharusnya Bapak jaga: seorang pelayan, bukan penguasa. Begitu sulitkah untuk menjadi pelayan yang baik? Bangsa ini rumah kami, kami cuma berharap pelayan Bangsa ini bisa secara rutin membersihkan Bangsa ini dari segala bentuk kotoran dan tikus-tikus perusak. Bangsa ini memiliki segalanya, kami cuma berharap pelayan Bangsa ini tahu bagaimana mengolah segala sumber daya yang ada untuk kenyamanan dan kesejahtraan kita bersama. Bangsa ini sebuah bangsa besar dan kami cuma mengharapkan pelayan bangsa ini selalu mampu membawa hal tersebut kapanpun dan dimanapun ia berada, bukan kemudian hanya berkeluh kesah di mana-mana. Mungkin cuma itu harapan kami semua.

Bapak, di sekitar kita begitu banyak manusia-manusia yang luar biasa. Mereka bekerja keras untuk membuat pekerjaan Bapak lebih mudah. Mereka melakukan itu semua tanpa fasilitas penunjang apapun dan sedikitpun mereka tidak pernah berkeluh kesah. Saya coba belajar dari mereka, mungkin ada baiknya jika Bapak bersedia bergabung bersama Saya.

Bapak, kami tidak pernah mengerti apa yang Bapak keluhkan. Jika Bapak mengeluh karena banyak orang coba menjelekkan Bapak, lalu kenapa? Kita selalu memiliki pilihan dalam hidup kita dan pilihan kita adalah yang menentukan siapa diri kita. Kita bisa memilih untuk hidup berdasarkan pandangan orang atau tetap berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan segala tugas dan kewajiban kita. Adalah hak setiap orang untuk menilai Bapak. Tetapi Bapak sendirilah yang sesungguhnya bisa menentukan apakah penilaian mereka benar atau salah. Kami bisa membantu Bapak menunjukkan pada mereka semua bahwa mereka salah – tapi kami juga perlu sedikit bukti, bahwa Bapak benar-benar peduli.

Bapak, Saya mohon maaf – bukan Saya bermaksud menggurui Bapak. Saya kadang merasa begitu geli dan gereget. Karena Saya yakin bahwa Bapak sebenarnya mampu menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Hanya kadang entah kenapa, Bapak terlihat ragu dan tidak pernah berani mengambil sebuah keputusan sendiri. Bapak, jaman dulu kala ketika seorang raja bingung – ia kadang menyediri, menyepi, bersemedi. Mungkin konsep yang sama bisa coba Bapak terapkan. Bapak bisa coba menyendiri – menjauhkan diri dari orang-orang yang selama ini selalu berada dekat dengan Bapak. Menyepi, coba menutup telinga dari ratusan bahkan ribuan saran yang tak berarti dan coba lebih mendengar suara hati Bapak sendiri. Bersemedi, melihat dan mengenal segalanya kemudian coba mendekatkan diri dan menyatu pada lingkungan sesungguhnya. Saya tidak berharap Bapak menyamar menjadi rakyat biasa dan hadir di warung kopi untuk mendengar keluhan rakyat semua. Tapi mungkin ada baiknya Bapak sedikit meluangkan waktu untuk berbicara langsung dari hati dengan kami (baca: ngetweet). Mungkin dengan melakukan itu semua, segala solusi atas segala permasalahan yang Bapak hadapi kini bisa muncul dengan sendiri.

Bapak, apa yang kami tulis di sini hanyalah sedikit upaya kami berbagi. Jika memang ada sedikit manfaatnya, tentu kami bahagia. Jika ternyata tidak, tidaklah mengapa. Kami akan selalu berdoa untuk Bapak. Semoga Bapak bisa sehat dan bisa menyelesaikan segala tugas Bapak. Kami juga berdoa semoga ungkapan kami berikutnya tentang Bapak bisa lebih banyak berisi pujian dan doa, bukan lagi berisi keprihatinan belaka.

Salam hangat,
Dari kami yang duduk di sofa.

Sopuy Rica-Rica -Sarapansabtu


Janji mau bagi-bagi resep Sarapansabtu kami, kali ini koki Rangga membuat Sopuy Rica-rica.

Bahan:

  • Sosis 1 bungkus
  • Telur Puyuh secukupnya
  • Baso 1 bungkus
  • Kemiri secukupnya
  • Bawang Putih 4 siung
  • Bawang Merah 4 siung
  • Cabe Merah 1/4 kg
  • Gula, garam, vetsin secukupnya
  • Air 400ml

Cara Pembuatan:

  1. Rebus telur puyuh sampai matang, kupas, sisihkan.
  2. Rebus baso dan sosis sampai matang, sisihkan.
  3. Tumbuk bawang merah, bawang putih dan kemiri, masukan garam, gula dan vetsin.
  4. Tumis bumbu halus sampai masak, angkat.
  5. Tumbuk kembali bumbu tersebut bersama cabe merah sampai halus.
  6. Tumis bumbu halus tersebut sampai matang, lalu masukkan air, sosis, telur puyuh dan baso sampai mendidih.
  7. Hidangkan dengan nasi putih.

PS: Telur, sosis dan baso bisa diganti dengan menggunakan bahan lain.

Selamat mencoba!

Roti Jala Kari Ayam -Sarapansabtu


Sejak bulan lalu, saya dan suami beserta adik-adik kami memulai sebuah kegiatan (wajib) ‘Sarapan Sabtu’ di setiap sabtu pagi, yang tentunya tidak jauh dari acara sarapan. Uniknya, setiap minggu kami memilih salah satu dari kami untuk menjadi koki yang bertanggung jawab penuh menyediakan sarapan di sabtu pagi, menu sarapan yang dipilih pun harus makanan yang berasal dari luar Jawa Barat (boleh dari luar negeri). Dengan begitu, kami bisa mengenal dan mencicipi berbagai makanan yang ada di belahan dunia ini.

Koki tentunya boleh dibantu oleh siapa pun yang bersedia membantu, dalam hal belanja atau pun memasak. Makanan yang disajikan, nantinya akan dinilai. Kriteria penilaian di bagi menjadi 3 kategori: Rasa, Unik, dan Tampilan. Setelah seluruh anggota mendapatkan giliran memasak, maka koki yang mendapatkan nilai terbesar akan menjadi  pemenangnya. Seperti pada umumnya, maka pemenang akan mendapatkan hadiah (buku/tiket nonton).

Alhamdulillah, sarapan sabtu ini telah berjalan sebulan lebih. Sebenarnya bukan makanan & hadiahnya yang penting dalam sarapan sabtu ini, tapi kebersamaan yang tercipta. Mungkin tidak semua keluarga mempunyai kesempatan seperti ini. Pagi-pagi walaupun dengan mata yang masih mengantuk, bisa berkumpul, berdoa bersama, mengenal berbagai makanan, curhat dan bercanda ria memberikan kebahagiaan tersendiri. Walaupun sarapan sabtu mungkin hanya berlangsung selama 1 jam, namun cukup membekas dalam hati kami. Semoga sarapan sabtu ini bisa terus berjalan dan terus mempererat keluarga kami dan semoga sarapan sabtu kami bisa menjadi inspirasi di keluarga Anda.

Oya, kami akan selalu menuliskan resep dari sarapan sabtu yang kami lakukan. Ini salah satunya, Roti Jala Kari Ayam, yang katanya dari Aceh:

Bahan Roti Jala:

  • Santan kental 250 ml
  • Tepung terigu Bogasari Kunci Biru atau Roda Biru 110   gram
  • Telur ayam 2 butir
  • Garam 1/2 sendok teh

Kari Ayam:

  • Dada ayam 250 gram, potong dadu
  • Bawang Bombay 1/2 buah, cincang kasar
  • Minyak goreng 2 sendok makan
  • Bumbu kari ayam 1 bungkus, siap pakai
  • Sereh 1 batang, memarkan
  • Daun jeruk purut 3 lembar
  • Air 100 ml
  • Santan kental 300 ml

Cara Membuat:

1.     Roti Jala: Blender semua bahan hingga halus lalu masukkan ke dalam kantung semprot. Panaskan pan dadar yang telah diberi margarin, semprotkan adonan menyerupai jala, masak hingga matang lalu angkat. Lakukan hingga adonan habis, sisihkan.

2.     Kari Ayam: Panaskan minyak, tumis bawang Bombay hingga harum lalu masukkan bumbu kari, sereh dan daun jeruk. Masukkan ayam, aduk-aduk lalu tambahkan air, masak hingga mendidih.

3.     Tambahkan santan kental, masak hingga mendidih lalu angkat.

4.     Sajikan roti jala bersama kari ayam hangat.

Hasil Jadi  4 Porsi

SELAMAT MENCOBA 😀

Asiknya Tinggal di Gang


Mencari rumah di bandung, memang sulit. Harganya yang cukup tinggi, membuat saya dan suami memilih untuk mengontrak. Mencari rumah kontrakan pun sebenarnya sangat sulit bagi kami, butuh waktu berminggu-minggu hingga akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang cukup besar, fasilitasnya bagus, sangat dekat dengan mesjid, dan berada di tengah-tengah lingkungan yang ramah walaupun hanya di sebuah gang.

Ini adalah pengalaman pertama saya tinggal di sebuah gang. Setiap pagi saya dibangunkan oleh adzan subuh dari mesjid, suara pintu rumah tetangga, atau langkah kaki para tetangga yang akan melaksanakan ibadah solat subuh. Kalau pun suara-suara tersebut tidak mampu membuka mata yang terlelap. Tidak lama, mata pun akan terbuka karena suara-suara lainnya yang berdatangan, tukang roti keliling, tukang bubur, atau suara tetangga yang sedang berbincang-bincang. Tidak hanya itu, suara gemercik air dari kran yang dibuka, atau wangi masakan yang menyentuh hidung, juga mampu membangunkan tubuh ini 🙂 . Tembok yang berdempetan satu sama lain ternyata tidak mampu meredam suara-suara tersebut.

Kadang tanpa sengaja, telinga ini mengikuti percakapan para tetangga yang sedang asik berbincang di sebelah rumah. Bukan bermaksud menguping, tapi suara tersebut menghampiri dengan sendirinya. Mungkin ini cara tercepat untuk mengenal tetangga lebih jauh, tanpa perlu bertatap muka :D.

Tanpa melihat, saya pun bisa tahu, kalau tetangga saya sedang mengajarkan burungnya bernyanyi. Tawa anak-anak yang sedang bermain bola, bermain sepeda. atau sekedar memanggil temannya untuk bermain. Suara-suara tersebut sedikit pun tidak menggangu saya, tapi justru memberikan suasana ‘hidup’, sehingga tidak merasa sepi.

Tetangga kami sangat ramah, kami sering dikirim dan saling mengirim makanan. Pernah satu kali, kami menghirup wangii yang sangat enakk, -sepertinya tetangga kami sedang membuat kue-. Beberapa saat kemudian, datanglah semangkuk kue putri salju. Senangnya 😀

Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berada di lingkungan yang ramah, bersih dan aman ini, meskipun hanya di sebuah gang. Ternyata tinggal di Gang itu asik 🙂

Konsultan berbulu DOMBA

Tag

,



Dari ketawa.com

Seorang gembala menggiring domba-dombanya di padang rumput terpencil ketika tiba-tiba sebuah BMW baru meluncur arahnya. Pengemudi, seorang pemuda dalam setelan Broni, sepatu Gucci, kacamata hitam Ray Ban dan dasi YSL, melongok keluar jendela dan bertanya gembala, “Jika saya mengatakan dengan tepat berapa banyak domba yang ada dalam kawanan Anda, maukah Anda memberi aku satu ekor?”

Gembala itu memandang pria itu, lalu melihat sekawanan domba gembalaan dan dengan tenang menjawab, “Tentu.”

Pria muda itu memarkir mobilnya, mengeluarkan IBM ThinkPad yang tersambung ke ponsel, kemudian ia berselancar ke website NASA dan menggunakan sistem navigasi satelit, mengamati daerah tersebut, dan kemudian membuka database dan Excel spreadsheet dengan formula kompleks. Dia mengirim email melalui Blackberry dan setelah beberapa menit, mendapatkan tanggapan. Akhirnya, ia print laporan 130 halaman pada printer mininya kemudian berkata kepada gembala itu, “Anda memiliki tepat 1586 domba”.

“Itu benar! silakan ambil salah satu domba,” kata gembala.

Pemuda itu memilih satu ekor hewan dan memasukkan ke dalam mobilnya.

Kemudian gembala mengatakan: “Jika saya bisa mengatakan dengan tepat apa pekerjaan Anda, apakah Anda akan memberikan kembali hewan saya?”

“OK, mengapa tidak” jawab orang muda itu.

“Jelas, Anda adalah konsultan,” kata gembala itu.

“Itu benar” kata pria muda itu, “tapi bagaimana Anda bisa tahu?”

“Tidak perlu menebak,” jawab gembala. “Anda muncul di sini meskipun tidak ada yang memanggil Anda. Anda ingin dibayar untuk jawaban yang sudah saya ketahui, dan Anda ingin dibayar untuk sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan. Dan Anda tidak tahu apa-apa tentang bisnis saya… Sekarang kembalikan anjing saya.”

————————————————————–

Cerita di atas adalah salah satu cerita favorit Saya. Kadang kita begitu bergantung pada saran orang lain dan lupa bahwa kitalah yang paling tahu akan apa yang paling kita butuhkan. Kita tahu kita perlu hidup sehat tetapi kita butuh dokter untuk mengingatkan kita. Kita tahu kita tahu bahwa kita harus selalu memupuk motivasi kita tetapi kita butuh motivator untuk memberikannya pada kita. Bukan berati Saya beranggapan bahka kita tidak butuh mereka semua, tetapi seperti yang tertulis pada cerita di atas, seorang konsultan (dokter, dosen, ahli marketing, dsb) tetaplah seorang manusia dengan pikiran dan tujuan mereka sendiri. Sebagian adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi, mengabdikan dirinya bagi kebaikan orang lain dan sebagian hanyalah seseorang yang sangat lihai berpura-pura. Kadang kita tidak bisa memilih mereka, tetapi kita selalu bisa memilih untuk mendengar mereka tanpa tanya atau mendengar mereka penuh tanya (kritis).

Jaman Gini Razia? Apa Kata Dunia?

Tag

, ,


Beberapa hari ini seperti telah kita ketahui (dan nikmati), telah beredar beberapa video “dokumentasi” yang menarik perhatian. Jauh lebih menarik adalah berbagai efek langsung yang ditimbulkannya. Akibat peredarannya yang luar biasa cepat, banyak institusi pendidikan kita mempertontonkan merasa panik dan melakukan berbagai tindakan spontan-sporadis-jangka pendek- tak terlalu berguna, dengan melakukan berbagai razia alat komunikasi dan sejenisnya.

Razia-razia yang belakangan digalakkan mungkin memang bertujuan baik, namun sesungguhnya disini letak masalah sebenarnya. Kadang kita mendasarkan sesuatu hanya pada tujuan dan melupakan prosesnya yang sebenarnya jauh lebih penting. Segala macam razia ini tidak akan pernah efektif. Dari semenjak saya SMP hanya murid-murid “baik” yang tidak berpengalaman melanggar peraturan dan kebetulan penasaran hingga akhirnya nmelanggar yang umumnya tertangkap. Murid-murid yang lebih “berpengalaman” umumnya memiliki banyak mekanisme kreatif  lain untuk bisa menghindari berbagai razia tersebut. Jika memang demikian adanya, lalu apa gunanya berbagai razia ini? untuk memperlambat proses penyebaran? Omong kosong – tehnologi yang ada saat ini sudah sedemikian maju sehingga pendistribusian suatu info atau konten apapun tidak akan lagi bisa dibatasi, tidak oleh negara, apalagi oleh sekedar kegiatan razia. Untuk memberi efek jera? Ini double omong kosong – ketika dulu saya tertanggap waktu razia (seingat Saya sekitar 7 kali, mungkin lebih),  pikiran pertama yang ada dibenak saya adalah untuk bisa melanggar dengan lebih kreatif dan lebih baik lagi. Razia kemudian hanya jadi sebuah ajang test, seberapa kreatif seseorang melanggar satu peraturan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan menghadapi keadaan ini? Mungkin bisa dimulai dengan sedikit lebih kreatif. Misal dengan membentuk acara diskusi, bertahap dan berlanjut, di tiap kelas. Membahas berbagai efek buruk dari segala hal yang terjadi. Memberikan penegasan tentang nilai-nilai moral masyarakat kita yang harus selalu dijaga, menumbuhkan empati ditiap siswa – tentang perasaan keluarga korban dan sang korban sendiri, memperkenalkan hukum yang mengatur hal-hal tersebut, menekankan pentingnya etika dan moral dimanapun kita berada, dan puluhan topik penting lainnya. Berbagai video “dokumentasi” tersebut kemudian bisa kita manfaatkan sebagai alat picu kesadaran tiap siswa tentang nilai, etika, serta efek negatif satu teknologi (jika digunakan tanpa pengetahuan dan kedewasaan).

Hal di atas hanya satu contoh, masih ada banyak hal lain yang tentunya bisa kita lakukan bersama dimulai dari rumah (mematikan TV – mengaktifkan sistem filtering internet, lewat nawala project misalnya dan lebih mengintensifkan waktu bersama), di sekolah (mengadakan berbagai diskusi dan kegiatan postif – tanpa razia!), dan dilingkungan dengan coba mengangkat beberepa isu lainnya yang jauh lebih penting daripada sekedar menikmati penderitaan (atau kesenangan?) orang lain. Semua hal ini kemudian bisa kita manfaatkan untuk memicu hal-hal lain yang lebih baik: waktu bersama yang lebih banyak (dirumah), kegiatan-keagiatan kretif (di sekolah), kesadaran sosial yang lebih tinggi (di masyarakat).

Ayolah Ibu-Bapak Guru yang terhormat, stop razia, Ibu-Bapak semua terlalu terhormat untuk melakukan tindakan-tindakan yang tak (terlalu banyak) guna seperti itu.

Let’s Dig!

Tag

,



Some of us need motivation from the others, why? because some of us just afraid to look deep on a dark place in our self …our hearth. So we are looking some light – borrowing from other, looking for a motivation, just to look deep on our self. But … some of us forget, that what important is not the light, it is the size of our heart. We can borrow the 1000 lights, but when our heart is just too narrow to enter, those are worthless.

There is a hall in our heart, some of us have it big, and we can bring as many light as possible there. Some of us have it too small – and nothing can enter. Only us who can make it bigger … or smaller, and we just need the right tools. Perhaps it would be better to look for the best tool first, to dig and make our heart bigger, before we borrow a light from other. And who knows, by making it big we will bring so much light automatically and shine for the rest of our live.

Ketika Kumis Tak Lagi Bermakna

Tag

, , ,


Beberapa elit partai dari daerah baru saja tiba di Bandung untuk mengikuti kongres dan bertekad mendukung salah satu calon sebagai ketua umum. Ketika sedang berjalan-jalan tiba-tiba mobil mereka terpana melihat puluhan angkot yang dihias dengan wajah sang calon ketua harapan, lengkap dengan kumisnya, yang berlalu lalang tanpa tau aturan bahkan hampir saja menyerempet kendaraan mereka ….

Di lain tempat, beberapa para elit partai lainnya terpana melihat wajah-wajah berkumis sang calon ketua umum harapan yang tiba-tiba “menghiasi” Bandung. Bahkan ketika malam tiba wajah-wajah itu terlihat sangat menyeramkan. Anak istri mereka – dan kabarnya banyak masyarakat sekitar juga kemudian mendapat mimpi buruk. Mereka pun berpikir, belum saja dipilih – sudah sedemikian merepotkannya ….

Dibelahan bandung lainnya, seorang petinggi partai dengan waswas menghitung banyaknya poster liar dari sang calon ketua umum harapannya. Kemudian ia juga melihat beberapa anak jalanan dengan penuh tawa melempari wajah di poster tersebut dengan kotoran. Di satu tikungan ia bahkan melihat seseorang dengan tenang berbagi air seni hadapan wajah sang calon harapan …

Dan hari pemilihanpun tiba …. dan wajah tampan berkumis itu tidak lagi bermakna.

In the people era you don’t need ads. You need acts! (Leo Burnett) | via Yhanuar.