Resiko mempunyai kendaraan baru, selain harus pintar ‘memelihara’, juga tentunya harus punya surat izin mengemudikannya (SIM).

Entah mengapa ketika harus membuat SIM, terlintas rasa ‘malas’. Mungkin karena saya masih punya pikiran kuno, ‘pasti ribet, pasti ngantri, dan harus melewati prosedur yang sulit’. Tapi karena ‘butuh’ saya coba jalani.

Berbekal informasi di internet, saya sudah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pembuatan SIM yaitu fotokopi KTP yang berlaku, dan sejumlah uang. Sesampainya di Polres, saya masuk pintu utama, di situ saya menanyakan di mana tempat pembuatan SIM. Bapak yang menjaga di kantor tersebut tidak langsung menjawab malah menanyakan sesuatu yang terasa sedikit ‘aneh’, “Mau buat SIM sendiri?” lalu saya menjawab, “iya Pak”. Beliau kemudian menunjukkan arahnya kepada saya. Hmm, nampaknya ‘jalur nembak’ masih ada dalam proses pembuatan SIM.

Ternyata tidak jauh dari tempat tadi, saya langsung menemukan tempat yang dimaksud. Banyak tersedia papan petunjuk yang memberikan informasi bagaimana proses pembuatan SIM, dan ada pos khusus yang akan menjelaskan bagaimana tata cara pembuatan SIM. Berhubung saya juga sudah membaca langkah-langkahnya di internet, maka saya tidak menghabiskan waktu untuk bertanya, saya langsung mencari pos kesehatan untuk melakukan tes kesehatan.

Ada petunjuk yang mengarah kepada pos kesehatan, saya ikuti arah tersebut, namun saya sempat salah masuk, yang saya masuki adalah polikliniknya, sedangkan tempat pemeriksaan kesehatan untuk pembuatan SIM, berada di sebelahnya🙂. Tidak ada antrian, jadi saya bisa langsung memasuki ruang pemeriksaan. Sangat mudah dan cepat. Saya hanya menyerahkan KTP (yang nantinya dikembalikan lagi), kemudian diperiksa tekanan darah, tes buta warna (hanya 4 pertanyaan) dan tes penglihatan (menyebutkan huruf2 di baris ke5). Kemudian, ditanya tentang tinggi dan berat badan. Setelah itu, saya mendapatkan kertas hasil tes kesehatan, lalu membayar uang sejumlah Rp. 25.000. 25rb untuk secarik kertas tipis bertanda-tangan dan bercap🙂. Hmm, berbeda dengan yang saya baca di internet yang kisarannya Rp. 10.000-Rp.15.000. Mungkin memang sudah mengalami kenaikan.

Setelah itu, saya menuju loket pendaftaran. Di situ, saya menyerahkan hasil tes kesehatan, dan foto kopi KTP. Lalu mendapat nomor untuk melakukan tes teori. Kesulitan saya waktu itu, adalah menemukan ruangan tes teori, karena tidak ada petunjuknya, yang ada malah sebuah pintu dengan tanda berupa tulisan ‘selain petugas dilarang masuk’. Dan saya harus memasukinya. Haha.. petunjuk yang aneh. Ruangan tersebut berada di belakang loket pendaftaran, untuk menuju ruang tersebut, saya harus memasuki pintu yang bertanda aneh tersebut🙂.

Ruangannya cukup luas, sudah tersedia layar proyektor dan kursi-kursi. Saya menunjukkan nomor antrian, lalu saya dipersilahkan menduduki kursi no.3. Kursinya dari kayu dengan dudukan tangan khusus, sehingga di atasnya terdapat 2 tombol, bertuliskan Benar dan Salah. Sistemnya sudah cukup canggih, sehingga tidak memerlukan kertas dan pinsil/pena. Cukup menekan tombol tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Tes dimulai ketika seluruh peserta sudah hadir. Sebelum tes, tombol-tombol tersebut diuji apakah sudah berfungsi dengan baik. Setelah itu tes dimulai. Seluruh petunjuk disampaikan melalui slide di layar proyektor. Cukup menegangkan, karena setiap pertanyaan harus dijawab kurang dari 15-20 detik. Pertanyaannya ada 2 jenis, menganalisa gambar dan menganalisa situasi (biasanya situasi diulang 2-3x). Di sini, saya harus berkonsentrasi, mendengarkan, melihat dan menekan tombol.

Kesulitan saya menghadapi tes teori ini, adalah 1) ruangan kurang gelap, sehingga gambar menjadi kurang jelas, 2) pertanyaan kadang muncul ditengah-tengah, sehingga konsentrasi kita harus berpindah, setelah mendengar pertanyaan, 3) waktu yang sangat singkat. Nilai lebih dari tes teori ini adalah setelah seluruh peserta menjawab, akan disampaikan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, sehingga menambah informasi kepada kita, bagaimana etika di perjalanan, juga sedikit tentang rambu-rambu lalu lintas yang penting. Namun syukurlah, saya berhasil lulus di tes teori ini. Hanya terpaut 1 poin dengan skor tertinggi saat itu. Tes ini juga saya lalui dengan cepat.

Setelah itu saya harus menunggu untuk tes selanjutnya, yaitu tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil dan motor, sudah ditentukan jadwalnya (hal ini harus diperhatikan, supaya tidak menunggu lama di sana). Biasanya tes praktek motor didahulukan, baru kemudian tes praktek mobil (dimulai jam 11.30an).

Ketika menunggu, saya berbincang-bincang dengan bapak-bapak yang senasib dengan saya, kebetulan yang membuat mobil saat itu hanya bapak-bapak🙂. Salah satu dari mereka, terlihat begitu tegang, beliau menyampaikan tentang tes praktek mobil yang akan kami hadapi bersama. Beliau juga sudah mencari informasi kalau ingin tes prakteknya diluluskan harus membayar sejumlah uang sebesar Rp. 50.000. Tapi, kami semua menunggu, tetap penasaran dengan tes prakteknya.

Karena posisi tempat duduk saya langsung berhadapan dengan tempat tes praktek motor, saya juga melihat beberapa orang yang tidak lulus tes ini. Mereka diberi 2x kali kesempatan untuk tes praktek ini, jika keduanya gagal, maka harus diulang 2 hari kemudian. Ternyata cukup sulit untuk lulus tes ini.

Setelah lama menunggu (karena saya datang kepagian), akhirnya saya pun dipanggil untuk melakukan tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil, hanya diberikan 1x kesempatan, begitu gagal harus diulang 2 hari kemudian atau maximal sampai 3 bulan. Sangat tegang, karena memang cukup sulit. Mobil dikelilingi patok-patok (kiri-kanan dan belakang), jarak patok ke mobil hanya 20cm. Ceritanya itu adalah garasi mobil yang sempit. Dari garasi mobil, saya harus mengeluarkan mobil lalu berbelok ke kanan menuju tempat parkir (dibatasi patok juga, namun ruangnya besar), setelah itu saya harus berjalan mundur, berbelok dan memasukan mobil kembali ke garasi yang sempit tadi. Hal tersebut harus dilakukan sekaligus, jadi tidak boleh memindahkan gigi (misal pindah ke gigi depan, maju dulu kemudian mundur lagi untuk mengatur posisi kendaraan). Jika tes tadi berhasil dilakukan, lakukan kembali ke arah sebaliknya (berbelok ke kiri). Fuihhh.. ternyata cukup sulit buat saya. Banyak yang gagal menghadapi tes ini, dan saya pun termasuk di dalamnya😀

Satu orang langsung mengundurkan diri setelah melihat tesnya terasa sulit, mungkin beliau memilih ‘jalur cepat’ saja. Beberapa orang menganalisa dan sedikit protes, karena hanya diberikan 1x kesempatan, sedangkan motor 2x kesempatan, mengapa dibedakan. Namun memang prosedurnya sudah begitu, jadi tetap tidak dipedulikan petugas. Beberapa orang yang gagal memohon untuk ‘dipermudah’ untuk diluluskan namun petugas tidak bisa membantunya, tetap harus mengulang 2 hari ini. Saya salut juga dengan para petugas yang telah menolak ‘ketidakjujuran’ ini.

Selidik selidik dari blog tetangga yang tinggal di jakarta, ternyata tes praktek mobil ini juga tidak ada standarisasinya. Tes praktek di jakarta jauh berbeda dengan tes praktek di sini. Aneh juga yaa..

Anyway, hari ini saya melihat bahwa masih banyak orang yang berbuat jujur, namun beberapa orang kembali berniat untuk ‘tidak jujur’ karena sistem yang mereka anggap mempersulit (tidak adanya kesempatan ke2 untuk yang gagal) dan untuk membayar waktu yang terbuang hari itu.

Apakah sistem yang harus diperbaiki, atau kah niat kita yang harus diperbaiki?

Waktunya kita menguji diri sendiri😀