Tag

, ,


Beberapa hari ini seperti telah kita ketahui (dan nikmati), telah beredar beberapa video “dokumentasi” yang menarik perhatian. Jauh lebih menarik adalah berbagai efek langsung yang ditimbulkannya. Akibat peredarannya yang luar biasa cepat, banyak institusi pendidikan kita mempertontonkan merasa panik dan melakukan berbagai tindakan spontan-sporadis-jangka pendek- tak terlalu berguna, dengan melakukan berbagai razia alat komunikasi dan sejenisnya.

Razia-razia yang belakangan digalakkan mungkin memang bertujuan baik, namun sesungguhnya disini letak masalah sebenarnya. Kadang kita mendasarkan sesuatu hanya pada tujuan dan melupakan prosesnya yang sebenarnya jauh lebih penting. Segala macam razia ini tidak akan pernah efektif. Dari semenjak saya SMP hanya murid-murid “baik” yang tidak berpengalaman melanggar peraturan dan kebetulan penasaran hingga akhirnya nmelanggar yang umumnya tertangkap. Murid-murid yang lebih “berpengalaman” umumnya memiliki banyak mekanisme kreatif  lain untuk bisa menghindari berbagai razia tersebut. Jika memang demikian adanya, lalu apa gunanya berbagai razia ini? untuk memperlambat proses penyebaran? Omong kosong – tehnologi yang ada saat ini sudah sedemikian maju sehingga pendistribusian suatu info atau konten apapun tidak akan lagi bisa dibatasi, tidak oleh negara, apalagi oleh sekedar kegiatan razia. Untuk memberi efek jera? Ini double omong kosong – ketika dulu saya tertanggap waktu razia (seingat Saya sekitar 7 kali, mungkin lebih),  pikiran pertama yang ada dibenak saya adalah untuk bisa melanggar dengan lebih kreatif dan lebih baik lagi. Razia kemudian hanya jadi sebuah ajang test, seberapa kreatif seseorang melanggar satu peraturan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan menghadapi keadaan ini? Mungkin bisa dimulai dengan sedikit lebih kreatif. Misal dengan membentuk acara diskusi, bertahap dan berlanjut, di tiap kelas. Membahas berbagai efek buruk dari segala hal yang terjadi. Memberikan penegasan tentang nilai-nilai moral masyarakat kita yang harus selalu dijaga, menumbuhkan empati ditiap siswa – tentang perasaan keluarga korban dan sang korban sendiri, memperkenalkan hukum yang mengatur hal-hal tersebut, menekankan pentingnya etika dan moral dimanapun kita berada, dan puluhan topik penting lainnya. Berbagai video “dokumentasi” tersebut kemudian bisa kita manfaatkan sebagai alat picu kesadaran tiap siswa tentang nilai, etika, serta efek negatif satu teknologi (jika digunakan tanpa pengetahuan dan kedewasaan).

Hal di atas hanya satu contoh, masih ada banyak hal lain yang tentunya bisa kita lakukan bersama dimulai dari rumah (mematikan TV – mengaktifkan sistem filtering internet, lewat nawala project misalnya dan lebih mengintensifkan waktu bersama), di sekolah (mengadakan berbagai diskusi dan kegiatan postif – tanpa razia!), dan dilingkungan dengan coba mengangkat beberepa isu lainnya yang jauh lebih penting daripada sekedar menikmati penderitaan (atau kesenangan?) orang lain. Semua hal ini kemudian bisa kita manfaatkan untuk memicu hal-hal lain yang lebih baik: waktu bersama yang lebih banyak (dirumah), kegiatan-keagiatan kretif (di sekolah), kesadaran sosial yang lebih tinggi (di masyarakat).

Ayolah Ibu-Bapak Guru yang terhormat, stop razia, Ibu-Bapak semua terlalu terhormat untuk melakukan tindakan-tindakan yang tak (terlalu banyak) guna seperti itu.