Tag

, ,


Tiga orang “selebriti” menari diiringi musik, tiba-tiba berhenti dan mereka harus diam seperti patung, semua penonton lalu bertepuk tangan – lalu adegan berlanjut dimana sekitar dua puluhan wanita harus memutuskan apakah mereka mau disandingkan dengan sang pria tersebut, ada lima yang memutuskan bersedia – lalu sang pria mesti memilih dua diantara lima wanita tersebut, setelah itu ia mengajukan sebuah pertanyaan untuk melihat mana yang paling cocok untuk dirinya, pertanyaannya: maukah makan di kaki lima?  …….*dan Saya tidak lagi mampu melihat pertunjukan “kebodohan” yang katanya menghibur tersebut.*

Charlie Chaplin, Three stooges, warkop DKI, srimulat, dalam lawakannya selalu menampilkan banyak “kebodohan”. Bedanya, kebodohan yang mereka tampilkan adalah satu aksi kreatif yang benar-benar menghibur dan cerminan dari bakat mereka sesungguhnya, bukan suatu kebodohan yang dipaksakan dan kemudian jadi memuakkan.

Belakangan ini begitu banyak acara televisi yang dengan bangga menampilkan aksi “kebodohan” tiada tara.  Reality show, sinetron, panggung politik sandiwara, berita rekayasa, debat kusir tak berguna, pertunjukan musik pura-pura, dan berbagai iklan yang sungguh-sungguh bodoh! Dengan dalih rating yang tinggi, setiap stasiun TV dengan egois terus menayangkan berbagai kebodohan tersebut. Pelan tapi pasti kebodohan-kebodohan yang dipertontonkan diterima masyarakat sebagai satu “kewajaran”, wajar untuk menjadi bodoh dan wajar untuk dibodohi.

Tentu, kita bisa saja mematikan TV dan mencari bentuk hiburan lain, buku? harganya yang masih mahal membuatnya hanya jadi milik sebagian golongan. Internet? Dengan kualitas layanan pas-pasan, cuma jadi satu ajang tes kesabaran. TV kabel? dengan harga paketnya yang masih selangit, cuma jadi pilihan mereka yang berduit. Untungnya …. kita masih bisa mendapat DVD bajakan.

Dengan kisaran harga Rp 5000-6000  saja kita bisa mendapatkan berbagai bentuk hiburan yang kita inginkan. Dari musik, film, dokumentasi, hingga berbagai pilihan serial kartun dan drama bisa kita nikmati. Harga itu menjadi sangat murah, karena dengan harga tersebut adalah tempat berlindung dari segala pertunjukan kebodohan yang ada.

Membajak adalah kejahatan? Ya. Membajak pikiran untuk kemudian dijejali acara-acara tidak bermutu adalah kejahatan. Membajak lahan para penerbit buku kecil sehingga harga buku bisa terus dimonopoli dan tetap tinggi adalah kejahatan. Membajak setiap kesempatan untuk menebar janji-janji palsu adalah kejahatan. Membajak uang rakyat untuk kemudian dijadikan sandiwara politik tidak bermutu adalah kejahatan. Membajak film untuk kemudian jadi satu pilihan alternatif hiburan bermutu? Iya, tetap sebuah kejahatan, sebuah kejahatan yang mungkin perlu dipertahankan selama bentuk-bentuk pembajakan lainnya dibiarkan.

Gambar: http://patrissimo.livejournal.com/864834.html