Tag

, , , , ,


Makin berat  makin sexy?

Berat dan sexy, dua kata ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di mana pun kita berada, kadang kita mendengar kata ini, di rumah, di mall, di jalan bahkan di kendaraan umum atau di pasar.

Jika kita ingin menghubungkan kata berat dengan sexy, ada dua kata yang paling umum untuk ditambahkan dengan kata berat, yaitu badan dan suara.

1. Berat Badan

Jarang saya mendengar seseorang yang mempunyai berat badan minim (kurus) dikatakan sexi. Kebanyakan orang beranggapan ‘montok/berisi itu sexi‘. Jadi, untuk orang kurus *sambil ngaca* cepat-cepatlah menambah berat badannya jika ingin dikatakan sexy *berharap*. Maka persamamaan: makin berat = makin sexi akan berlaku bagi kita yang kebetulan lebih ramping dari mereka yang sudah ramping.

Nah, sekarang bagaimana untuk orang yang sudah kelebihan berat badan (gemuk) *lirik Honey*. Istilah ‘gemuk itu sexy‘ sepertinya belum pernah terdengar, yang ada hanyalah ‘big is beatiful‘. Beautiful tidaklah sama dengan sexy. Maka persamaan: makin berat=makin sexi mungkin sulit berlaku bagi yang gemuk. *Honey-ku beautiful*.

2. Suara Berat

Banyak yang bilang seseorang yang mempunyai suara ‘berat‘ katanya sexi, karena terasa lebih enak didengar di telinga di banding si suara ramoing (aka ‘cempreng). Untung suara honey seukuran dengan berat badannya, kalau suara honey ‘ramping’ bisa repot dengernya, apalagi honey bisa ‘cerewet’ 2×60 menit tanpa rehat. Karena kebetulan suaranya aga berat, akan terasa berbeda dan sejuk di telinga, tiap ‘ceramah’ pasti bikin ngantuk. Kesimpulannya,  makin berat  makin sexy berlaku bagi suara. *Honey-ku suaranya sexy*

Dari dua aspek di atas, bisa disimpulkan bahwa Honey tuh beautiful dan sexy . *SENYUM*.

————

Makin berat makin sexy?

Kalo objeknya Saya sendiri, dengan setengah ragu Saya jawab YA. Klo Objeknya Ayang, dengan penuh semangat Saya jawab YA! Kok bisa?

Berdasarkan pengalaman, klo objeknya Saya sendiri, ada dua faktor fisik yang ikut berubah klo ada perubahan berat.

1. Wajah/tampang.Banyak orang bilang wajah/tampang Saya keliatah sedikit lebih “cerah” waktu Saya gemuk. Mungkin karena kulit muka yang ketarik jadi keliatan agak rapi dan cerah. Kalau Saya kurus mungkin wajah terlihat lebih kelam dan berkerut. Untuk faktor wajah, makin nambah berat Saya merasa lebih rapih dan sexy (kalo bilang ganteng takut dianggap hiperbola).

2. Lingkar Pinggang.Nah ini yang repot. Setiap penambahan berat badan, umumnya selalu diikuti dengan penambahan ukuran pinggang. Untuk yang satu ini, makin berat = makin besar ukuran pinggang dan makin sulit merasa sexy.

Keadaan aktual sementara ini adalah wajah Saya lumayan rapih (alias lingkar pinggang besar). Apa saya kemudian merasa sexy? dengan penuh ragu Saya jawab YA!

Kenapa? Satu, karena cuma Ayang yang bilang kalau Saya Sexy. Dua, karena selama ini Ayang cuma bilang sexy untuk hidung dan pantat Saya, tapi tidak pernah untuk semua bagian secara umum😦. Kadang Ayang juga suka nepuk-nepuk perut dan itu Saya artikan sebagai sebuah harapan bahwa suatu hari perut Saya bisa sedikit lebih landai. Tepukan lembut ini yang bikin saya ragu klo Saya cukup sexy.

Mungkin ini juga penyebab utama kenapa pada umumnya pada pria yang sudah menikah bertambah berat badannya. Karena kami punya istri yang selalu membuat kami merasa sexy, sehingga kadang kami lupa bahwa ke-sexy-an kami mungkin adalah sebuah ke-sexy-an yang dipaksakan atau dikondisikan oleh sebuah pernikahan.

Klo Objeknya Ayang – ini beda lagi. Ayang nih cantik dan sexy (ini kenyataan dan bukan dipaksakan) tapi Ayang juga kurus. Tiap kg penambahan berat Ayang bakal langsung keliatan dari bentuk pipinya. Makin berat pipi ayang makin merekah dan keliatan makin cantik. Makin berat, Ayang juga keliatan makin berisi dan makin sexy tentunya. Sexy ketika kurus tentu beda dengan sexy ketika berisi (berlaku juga untuk saya, cuma kata “kurus”-nya mesti diganti “gemuk”). Makanya klo ada objeknya Ayang – dengan semangat saya bakal bilang makin berat = makin sexy!

Ada anggapan bahwa kita harus menerima pasangan kita apa adanya dan menyayanginya sepenuh hati tanpa syarat dan tanpa henti. Tapi sepertinya tidak ada salahnya membantu pasangan kita untuk bisa lebih mudah melakukan itu semua, salah satunya dengan coba tampil sexy dan penuh percaya diri. Dan itu yang sedang saya coba lakukan, sayangnya sampai sekarang belum bisa dibilang berhasil.

Kesimpulannya, dalam batas-batas tertentu Saya percaya makin berat = makin sexy. Batasannya tentu harus kita sendiri yang menentukan. Selama kita merasa percaya diri, sehat, segar, dan pasangan kita belum menepuk-nepuk perut (atau cerewet bilang kurus), itu artinya kita masih dalam batas ke-sexy-an sebenarnya. Begitu kita mulai sesak sehabis makan, kancing celana rusak berkali-kali, dan pasangan mulai menepuk-nepuk perut kita (atau cerewet), terlepas masih tetap sehat dan percaya diri, mungkin ada baiknya kita mulai rajin lari pagi (atau nambah porsi sarapan pagi).

—————

Insya Allah, mulai hari ini kami berdua akan mulai menulis tentang berbagai tema yang kebetulan melintas di pikiran kami (tema berikutnya: Kopi & Susu). Mudah-mudahan dengan ini kami bisa belajar lebih banyak untuk bisa saling mengerti dan menghargai berbagai perbedaan yang muncul dari sudut pandang kami masing-masing.  Semoga juga bisa sedikit memberi manfaat buat semua. Selamat menikmati – Eko & Kanty.

Oh ya, menurut teman-teman sendiri bagaimana? Makin berat Makin Sexy?

Gambar: http://www.aaci.org.il

*This post is powered by googlewave*