Tag

, ,


Berikut ada satu paragraf menarik dari buku: The Law Of Simplicity (John Maeda – MIT)

http://www.amazon.com/Laws-Simplicity-Design-Technology-Business/dp/0262134721

“I was once advised by my teacher Nicholas Negroponte to become a light bulb instead of a laser beam, at an age and time in my career when I was all focus. His point was that you can either brighten a single point with laser precision, or else use the same light to illuminate everything around you.” p.53

Kadang berdalih prioritas dan tanggung jawab kita sengaja memilih menjadi sinar laser yang hanya mampu menyinari beberapa titik dalam kehidupan kita: istri, anak, pekerjaan dan teman terdekat.

Tentu sulit untuk bisa memberikan yang terbaik bagi semua orang, tetapi seperti halnya cahaya dari bola lampu, bagian yang terdekat akan memperoleh intensitas cahaya lebih banyak di banding bagian lainnya. Istri dan anak akan selalu menjadi bagian terdekat dalam hati dan pikiran kita, tetapi mengapa kita tidak coba bagi sedikit berbagai hal lainnya: senyum, cerita bahagia, rejeki, tenaga, ide, ilmu, atau apa saja yang memang layak untuk dibagi ke orang lain di sekitar kita? Dengan intensitas yang berbeda (sesuai kemampuan) kita tentunya.

Begitu juga dalam proses belajar, kadang kita memilih untuk menyinari beberapa titik dalam otak dan proses belajar kita.

Sebagian dari kita yang suka sains, kadang menutup diri untuk hal lain di luar sains dan begitu pula sebaliknya. Bahkan untuk beberapa hal yang jauh lebih spesifik lagi.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Sangat sulit untuk bisa tahu semua hal dengan tingkat pengetahuan yang sama. Kita memang harus menfokuskan energi kita untuk satu atau beberapa hal yang memang kita geluti, kita senangi, dan kita nikmati. Hanya tentu akan jauh lebih baik kalo kita juga tetap membuka pikiran dan “keingin-tahuan” kita terhadap hal-hal lainnya. Biarkan cahaya ilmu menerangi seluruh bagian otak kita, tidak perlu kita batasi atau tutupi.

Satu bahasan di buku tersebut yang Saya suka adalah bahwa “simplicity need complexity” karena dengan adanya komplesitas kita menjadi tahu mana yang simple/sederhana. Dan Saya percaya hal ini berlaku untuk hal yang lebih luas dalam hidup kita. Adanya makanan yang tidak enak, membuat kita lebih mmampu menghargai dan mensyukuri makanan yang enak. Adanya lagu yang jelek, membuat kita mampu menikmati dan mensyukuri lagu yang bagus. Begitu juga dalam hal belajar dan ilmu. Saya percaya jika kita mampu senantiasa membuka pikiran kita dan terus memompa rasa ingin tahu kita untuk mempelajari banyak hal, apresiasi dan rasa syukur kita akan ilmu/pekerjaan yang sedang kita dalami/geluti akan semakin bertambah.

Eko Nugroho

PS: Untuk adik2 semua, kalian udah tahu banyak tentang facebook, ayo belajar pake twitternya :)!