Tag

, , ,


book

Ketika membuka lembaran baru kadang berarti menutup lembaran sebelumnya. Ketika kita menulis dilembaran baru, kadang kita tidak bisa lagi menulis dilembaran sebelumnya. Tapi apakah harus selalu begitu?

Ketika mempunya blog baru, blog lama terlantar begitu saja. Tidak pernah disapa atau diraba. Ketika pindah dari satu tempat ke tempat lainya, tak ada lagi waktu untuk bertukar kata dengan tetangga lama. Ketika ada pekerjaan baru, pekerjaan lama hanyalah embusan angin lalu. Ketika menikah, segalanya berubah, kadang sebuah cita-cita hanya menjadi mimpi belaka.

Tidak ada yang salah, semua hanya masalah prioritas – setiap orang berhak memiliki prioritasnya masing-masing. Blog mana yang harus ditulis, siapa yang harus disapa, pekerjaan mana yang harus didahului, dan cita-cita siapa yang harus diwujudkan.

Hanya sayang seribu sayang, jika semua lembaran-lembaran lama kita lupakan begitu saja. Mengapa tidak kita sempatkan waktu, sehari dalam seminggu misalnya, untuk duduk dan membaca kembali semua lembaran lama yang kita punya, karena pasti ada banyak cerita dan ada banyak bahagia disana.  Mungkin kita juga bisa dapatkan setitik percaya, bahwa cita-cita kita masih ada dan bisa kita buat nyata, tanpa perlu berlindung dibalik kata “tanggung jawab “.

Pagi ini duduk sendiri, membaca banyak ucapan syukur disini – yang belakangan tidak pernah lagi kami tuliskan. Bukan kami tidak beryukur..bukan ya Allah. Begitu banyak karunia yang kami dapatkan. Hanya saja, lembaran baru kami begitu besar, dan telah menutupi lembaran-lembaran lain dalam hidup kami, termasuk lebaran kecil di blog ini yang seharusnya menjadi lembaran syukur kami.

Mudah-mudahan, suatu hari,kami berdua bisa kembali hadir disini. Mengucap syukur dan kembali berbagi sedikit cerita.

Kami beruntung, masih bisa membaca beberapa lembaran lama kami. Bagaimana dengan kalian? apakah lembaran lama itu masih ada?