Tag

, ,


Sabtu pagi ini kita nonton satu film dokumenter (biasanya nonton kartun cuma kebetulan lagi gak punya) judulnya the secret (bisa di akses online di sini). Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama.

Waktu nulis post ini, Ayang masih nonton (berarti filmnya lumayan menarik), bukan berarti Saya tidak suka filmnya – hanya Saya gampang bosan. Dari sisi visualisai tidak ada hal yang terlalu menarik dari film tersebut, dari sisi konten Alhamdulillah banyak, tapi menurut Saya pribadi bukan hal yang baru, semua yang disampaikan sebenarnya telah sering kita dengar disekeliling kita.

Saya adalah seorang yang skeptis terkait dengan segala hal tentang buku manajemen diri, motivasi, atau pelatihan-pelatihan sejenisnya.  Saya selalu berpandangan bahwa tidak ada yang lebih bisa mengarahkan diri kita selain Allah dan diri kita sendiri dan bahwa setiap individu adalah unik. Tentu kita butuh orang lain untuk mengingatkandan mengarahkan kita tetapi bukan berarti apa yang mereka sampaikan sepenuhnya akan sesuai untuk diri kita.  Selamanya kita harus bisa memilah mana yang baik yang kemudian bisa kita terapkan dan mana yang mungkin harus kita kesampingkan. Saya selalu coba kritis dalam setiap hal, kadang banyak orang melihat itu sebagai pembangkangan atau penolakan tetapi sebenarnya yang coba saya sampaikan adalah menampilkan segala hal dari sisi lain supaya kita benar-benar bijaksana dalam mengambil kesimpulan.

Kembali lagi ke film dokumenter yang kita lihat, saya pribadi melihatnya sebagai sebuah pengingat akan segala hal yang telah diajarkan oleh Islam, dalam konteks yang lebih sempit dan sederhana: biasakan berpikir positif dan jangan pernah lupa bersyukur.

Satu pertanyaan muncul dibenak Saya, jika nara sumber difilm tersebut hanya orang2 biasa, tukang becak yang bahagia, tukang sate yang sukses menyekolahkan anak-anaknya, atau sekedar tukang sayur yang selalu gembira, akankan kita bersedia duduk dan terus mendengarkan tuturan mereka? Atau kita selalu perlu seseorang dengan gelar, buku best seller, atau harta yang melimpah sebagai pengingat kita?