Tag

, ,


Hari itu adalah jadwal ke rumah Silke. Silke sebelumnya sudah titip pesan, ‘kalau saya tidak ada di rumah, masuk aja, kuncinya tinggal ambil di sana (satu tempat rahasia)’. Udara pagi itu dinginnya bukan main, tapi karena sudah janji mau datang, mau gak mau harus pergi. Di luar masih gelap penuh dengan kabut, hanya lampu jalan dan sorotan lampu dari mobil yang berlalu lalang yang mampu menerangi pandangan mata ini. Kaki ini melangkah dengan cepat, istirahat sebentar di kereta, melangkah lagi, istirahat di bis, dan terus melangkah menuju rumah Silke.

Rumah Silke nampak sunyi senyap. Biasanya setidaknya ada satu mobil yang terparkir di samping rumah Silke. Tapi saat itu, tidak ada satu pun penampakan. Di depan mata ada sebuah bel. Meskipun sudah bisa mengira, tidak ada seorang pun di dalam rumah itu, tetapi karena ingat etika, jari ini pun mulai menekan bel. Satu kali, tidak ada suara pintu yang terbuka. Ke dua kali, tetap begitu. Ok, sekarang baru yakin seyakin yakinnya, tidak ada siapa pun di rumah itu. Teringat akan pesan Silke ‘kunci disimpan di tempat rahasia’, mulailah pencarian sebuah kunci di tempat yang dimaksud. Alhamdulillah, kunci itu tergantung di sebuah paku, di dalam ruangan yang sempit dan gelap. Hati ini terasa lega, akhirnya bisa menikmati kehangatan kembali, karena di luar ini dingin sekali.

Beberapa detik kemudian, perasaan was-was mulai menghampiri, jantung pun mulai berdetak kencang. Kuncinya tidak bisa diputar. Tiga menit berlalu, Alhamdulillah kuncinya bisa diputar hampir setengahnya, tapi mengapa perasaan khawatir tetap datang. Kuncinya tidak bisa bergerak lebih jauh, dan pintu tetap tidak bisa dibuka. Kalau dipaksa bisa-bisa kunci ini patah. Kalau patah, akan muncul masalah baru yang mungkin bisa mengorbankan banyak hal. Di tempat ini, untuk membayar tukang kunci, membutuhkan biaya yang sangat besar.

15 menit berlalu, tetap mencoba tapi tiada hasil. Pintunya tetap tidak bisa dibuka. Angin dingin terus menghampiri, bacaan doa mulai mengalir. Ok, berusaha tetap tenang dan memutuskan untuk istirahat dulu. 20 menit berlalu, akhirnya tangan ini meraih benda lain, sebuah telefon genggam yang baterainya hampir habis. Coba menghubungi Silke, tapi hanya nada tut..tut..tut yang terdengar. Silke tidak menjawab.

Daerah dekat tempat tinggal Silke sangat sepi, sempat melirik ke rumah tetangga Silke, tapi entah kenapa kaki ini enggan melangkah ke sana. Tetap di depan pintu itu, bergelut dengan kunci dan pintu yang tetap enggan terbuka. Rumah ini mungkin ada ‘penghuninya’ dan tidak mau dikunjungi oleh orang-orang sepertiku. Kesal, marah, bt. ughh.

Angin dingin terus menghampiri, rangkaian do’a pun terus mengalir, mencari petunjuk dan ketenangan. Tiba-tiba petunjuk itu datang, satu-satunya kesempatanku. Aku mendengar sesuatu dari samping rumah. Sepeda spesial berwarna kuning, khasnya tukang pos di sini terparkir di samping rumah. Pengantar pos berjalan menghampiriku sambil menyerahkan beberapa surat untuk Silke. Pengantar pos itu bertanya, ‘Apakah Anda penghuni rumah ini?’ ‘Bukan’, kataku. ‘Saya teman Silke, dan harus masuk rumah ini. Saya sudah mencoba membuka pintu ini tapi tetap tidak bisa membukanya’. Tanpa ragu, aku ceritakan masalah yang sedang aku hadapi.

Pengantar Pos itu melihat sebuah kunci yang sedang aku pegang. Tak disangka, tanpa ada rasa curiga dan prasangka buruk terhadapku, Pengantar Pos itu mengajukan bantuan ‘Boleh saya coba membukanya?’ Dengan senang hati, aku berikan kunci itu.

Hanya dengan hitungan detik, pintu itu terbuka. Aku kaget sekaligus bahagia, Alhamdulillah. ‘Hanya butuh sedikit trik’, kata Pengantar Pos itu. Bibirku mulai tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu, Pengantar Pos itu pergi.

Pengantar Pos itu adalah seorang wanita yang umurnya jauh lebih tua dariku. Penolongku adalah seorang Ibu yang tangguh, pikirku. Di cuaca yang dingin seperti ini, Beliau masih harus mengayuh sepeda yang berat karena penuh dengan surat-surat dan paket selama berjam-jam. Mungkin dibanding dengan diriku, yang hanya berdiri di depan pintu ini kurang dari satu jam, Beliau lebih kedinginan dan lebih lelah. Aku ucapkan syukur kepada Allah dan berdoa untuk Ibu itu, semoga Beliau diberi kebaikan yang lebih oleh-Nya.