Tag

, , , ,


Pendidikan adalah hak semua orang, terutama anak-anak. Tapi kadang begitu banyak hal yang mesti dipenuhi untuk mendapatkan apa yang menjadi hak kita, sehingga kadang menjadi begitu mahal dan tidak ada artinya sama sekali.

Semua anak-anak berhak atas pendidikan, tapi ketika seorang anak terlahir di keluarga yang kurang mampu bahkan kadang dengan kekurangan fisik lainnya, pendidikan yang layak hanya menjadi sebuah mimpi belaka.

Kemarin, kebetulan kami membaca artikel menarik tentang perjuangan Bapak Izak Timisela yang baru saja mendirikan sebuah Sekolah Luar Biasa Yanaiz di Pinang Tanggerang. Sekolah tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah Jepang dan saat ini telah melayani 123 siswa yang sebagian besar hanya perlu membayar biaya Rp 5.000 -Rp 10.000 setiap bulannya (mereka tidak perlu membayar apapun jika memang tidak mampu).

Cerita beliau menjadi begitu menarik karena beliau memulai semuanya dari nol. Bapak Izak Timisela meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta untuk berkonsentrasi pada cita-citanya untuk bisa membantu menyediakan pendidikan yang layak untuk anak-anak cacat. Beliau bahkan harus menjual rumahnya untuk bisa membiayai usaha mulianya. Tertulis di artikel terbut, sang Istri ikut membatu segala usaha beliau dengan jalan berjualan bawang putih setiap hari. Tahun 2000 Bapak Izak mulai mengumpulkan data tentang anak-anak cacat di daerahnya dan tahun 2003 beliau mulai mendirikan pusat pendidikan untuk anak cacat di sebuah rumah petak. Usaha beliau mulai mendapat dukungan berarti ketika beliau melalui yayasannya berhasil mendapatkan dana bantuan dari Bank Dunia pada tahun 2005 dan tahun ini Yayasan beliau kembali mendapat bantuan dana dari pemerintah Jepang yang digunakan untuk membangun sekolah khusus anak cacat di Pinang Tanggerang. Sekolah yang dimulai dari sebuah rumah petak kecil kini telah berubah menjadi sebuah Istana berlantai tiga.

Sejak lama kita tahu bahwa kerja keras akan memberikan hasil yang berarti, tapi kadang kita lupa bahwa kerja keras untuk sesuatu yang lebih berarti dari sekedar kepentingan pribadi/kelurga kadang butuh lebih dari sekedar janji dalam hati. Kita tidak bisa membantu lingkungan kita hanya dengan berjanji memberikan sumbangan, berjanji membantu anak yatim, berjanji menyediakan pendidikan gratis, berjanji… dan hanya berjanji. Sudah waktunya kita semua turun dari panggung kampanye dalam hati kita untuk bekerja coba memberikan yang terbaik untuk lingkungan sekitar dan cerita di atas adalah contoh nyata dari seorang individu yang berani mencoba dengan sepenuh hati.

Ada sebuah pepatah, “belajarlah hingga ke negeri Cina” Cerita di atas mengingatkan kembali apa arti sebenarnya pepatah tersebut, bahwa kadang pemerintah kita sudah terlalu sibuk dengan banyak hal, sehingga untuk masalah pendidikan (dan banyak hal lainnya) harus kita dapatkan dari negeri lain. Sebuah ironi yang kadang perlu kita syukuri.

Semoga semakin Banyak Izak Timisela lainnya di Indonesia.

Artikel asli:
http://www.thejakartapost.com/news/2008/11/24/izak-timisela-nurse-fights-educate-disabled.html

http://www.thejakartapost.com/news/2008/10/29/japanesebuilt-school-opens-kids-with-disabilities.html