Tag

, ,


Suatu ketika ada seorang anak SMP yang mengundang beberapa temannya datang ke rumah. Kebetulan teman-teman yang datang adalah para “jäger” (biasa kita baca jeger) yang dalam bahasa Jerman artinya adalah pemburu.  Ketika semuanya telah berkumpul, tuan rumah mulai memaparkan rencananya untuk menyerbu SMP lain yang ada jauh di luar kota lengkap dengan rencana untuk kabur secara efektif. Singkat cerita, esok harinya serangan dilaksanakan dan berhasil. Dua hari kemudian berita peyerbuan sampai di sekolah penyerbu, semua tersangka dipanggil dan minta mengaku. Karena tidak ada yang mengaku, semuanya dijemur di tengah lapangan sekolah, termasuk sang tuan rumah.

Sehabis dijemur sepanjang hari, sang anak pulang ke rumah dan langsung istirahat. Ketika sore hari tiba, sang anak khawatir berita penyerbuan itu tiba ke telinga Ibu dan Bapak, tapi ternyata semuanya biasa saja. Sore itu, Ibu dan Bapak pulang sedikit terlambat dan tampak sedikit lelah, tapi semunya tampak biasa saja. Sang anakpun bisa tersenyum lega.

Di lain hari, sang anak mengendarai motor hasil kredit Bapak dan Ibu secara ceroboh sehingga tidak melihat ada anak lain yang sedang mengejar layangan berlari dari arah samping hingga akhirnya keduanya bertubrukan dan terjatuh. Sang pengejar layangan sedikit terluka tapi tidak lama kemudian berdiri. Sang anak pengendara motor sangat kesal dan setelah puas marah-marah dia langsung pergi tanpa peduli. Tidak lama dia tiba di rumah dengan motornya yang rusak. Bapak datang bertanya apa penyebabnya. Setelah diceritakan semuanya, Bapak terdiam lalu berkata: ” Cari anak yang kamu lukai dan jangan pulang sebelum kamu temui dia!”  Setelah mencari kesana kemari  tidak ada, akhirnya pulang dengan bingung. Tiba di rumah Ibu yang membuka pintu. Semenjak saat itu hampir selama 3 hari Bapak tidak menyapa. Di hari ketiga Bapak berkata, “Terlepas dari siapa yang salah, meninggalkan orang yang terluka adalah sikap tidak bertanggung jawab dan Bapak malu anak Bapak seperti itu”.

Di SMA berbagai kenakalan kembali dilakukan, tidak peduli berapa banyak kenakalan yang dilakukan dan mungkin membuat malu, Ibu dan Bapak tidak pernah memukul atau menghukum dengan kekerasan apapun. Satu hal yang Bapak minta adalah selalu coba tanggung jawab atas segala keputusan dan perbuatan yang dilakukan, jangan pernah lari!

Ketika suatu hari sang anak pamit pergi jauh, Ibu memeluk erat dan MOHON MAAF, Ibu yang telah melahirkan, mengurus, dan membesarkan, memohon maaf pada seorang anak yang tidak ada hentinya membuat kekacauan. Ibu mohon maaf karena tidak bisa memberikan lebih dari apa yang beliau telah berikan selama ini, sang anak hanya bisa diam membisu bingung dan malu!

Ketika berumur 26 tahun, sang anak memberanikan diri mengajukan permohonan menikah. Ibu dan Bapak tanpak begitu bahagia, dengan ekspresi lega Bapak berkata: ” Alhamdulillah ada yang mau juga  dengan anak Bapak!” Sebelum hari pernikahan, Ibu dan Bapak bercerita banyak, tentang mereka yang dipanggil kepala sekolah SMP yang juga kebetulan teman Bapak terkait penyerbuan yang direncanakan anaknya. Tentang Bapak yang waktu itu marah dan malu, tentang Ibu yang memohon supaya Bapak tidak memberikan hukuman karena sekolah telah memberikan hukuman. Tentang berbagai kenakalan dan kekacauan lainnya yang mendatangkan kekhawatiran tiada henti di hati  Ibu Bapak. Tentang usaha Ibu Bapak yang pontang panting kesana kemari untuk memenuhi keinginan anaknya. Tentang semuanya. Saat itu…sang anak cuma bisa tersenyum, bingung dan malu.

Malam ini, seperti beberapa malam lainnya. Sang anak bingung dan malu.  Bingung tidak tahu bagaimana bisa membahagiakan Ibu dan Bapak. Malu karena begitu banyak waktu, begitu banyak kesempatan, tapi belum bisa maksimal mewujudkan harapan Ibu dan Bapak.

Ibu-Bapak, tolong jaga kesehatan Ibu dan Bapak. Beri anak Ibu Bapak waktu untuk bisa lebih baik tunjukkan bakti, bangga, dan sayang.  Ya Allah, tolong Jaga Ibu dan Bapak.