Tag

, ,


Hingga tanggal 11 oktober nanti kota Bielefeld mengadakan festival sains yang diberi judul Geniale (= Luar Biasa). Flyer, booklet, poster, dan web menjadi alat promosi utama untuk menyampaikan pesan: “Mari bergabung dalam petualangan dan perjalan riset ke dunia sains yang seru!”

Terlepas dari kalimat tersebut hanyalah sebuah ide marketing, apa yang tertulis mencerminkan sebuah kreativitas dalam upaya mendekatkan ilmu pengetahuan ke masyarakat dan memasyarakatkan ilmu pengetahuan.

Festival sains ini disponsori oleh pemerintah kota bekerja sama dengan 6 perguruan tinggi yang ada di Bielefeld, perusahaan, dan beberapa institusi lainnya. Berbagai acara menarik terkait dengan ilmu pengetahuan disuguhkan di berbagai pojok kota. Dibuka pada hari jumat lalu dengan menampilkan sirkus sederhana dikemas dalam bentuk teater bertema ilmu fisika, Geniale Bielefeld menjanjikan suatu bentuk hiburan berkualitas bagi masyarakat.

Apa yang coba Geniale suguhkan bukanlah hasil riset atau percobaan-pecobaan yang luar biasa, melainkan sekedar berbagai pertunjukkan dan presentasi sains, dari yang paling sederhana hingga pada hal yang sangat kompleks namun dikemas sedemikian rupa sehingga bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Selama satu minggu ini kita bisa memilih untuk melihat peragaan pembuatan jembatan, simulasi air terjun, atau melihat miniatur mesin CERN. Atau kita bisa mendengar presentasi sejarah kota, seminar ekonomi, atau masuk ke berbagai perpustakaan yang ada di seluruh kota dan menikmati seluruh koleksinya hingga larut malam…GRATIS!

Ketika melihat keramaian Geniale, Saya lalu teringat pada festival musik Dago di Bandung. Apa hubungannya? Yang paling jelas bagi Saya, kedua-duanya merupakan ajang untuk berpacaran murah meriah. Festival musik Dago merupakan ajang paling efesien untuk pacaran, ke mana-mana macet dan mesti jalan kaki (sambil bergandengan tangan tentunya) dan banyak tempat untuk menikmati suguhan musik (sambil bergandengan tangan juga tentunya) secara gratis. Walaupun tanpa macet dan suguhan musik yang jauh lebih sedikit, Geniale juga merupalam ajang kami berpacaran secara murah meriah (jujur waktu pembukaan tidak sempat pacaran karena sibuk bikin foto dan mesti buru2 untuk nonton bola, Insya Allah akhir minggu ini acara pacaran kami akan lebih baik).

Dilihat dari beberapa aspek, Geniale relatif lebih sederhana jika dibanding dengan festival musik Dago. Sayangnya, untuk sebuah kota yang dinilai mampu mengakomodasi festival apapun (kecuali partai Persib vs Persija) hingga saat ini pemerintah kota Bandung belum tergiur untuk coba memfasilitasi sebuah festival sains yang efektif dan meriah di seluruh pojok kota (bukan hanya terbatas di sebuah mall elit). Ijinkan Saya bicara dari sudut pandang masyarakat awam yang egois (yang mengharapkan banyak festival gratis untuk pacaran), Saya yakin Bandung (dan berbagai kota lainnya di Indonesia) seharusnya mampu menampilkan sebuah festival sains yang jauh lebih meriah dibanding apa ada di Bielefeld saat ini. Lalu kenapa hanya festival musik/film/seni saja yang bisa rutin hadir di berbagai kota di Indonesia? Kenapa festival sains (ilmu pengetahuan) begitu sulit untuk masuk dalam jadwal kami, para pencari tempat hiburan gratis? Mungkinkah sains( ilmu pengetahuan), seperti berbagai hal lainnya di Indonesia sudah menjadi sebuah komoditi yang dimonopoli pihak-pihak tertentu, sehingga segala bentuk promosi sains ke masyarakat tidak lagi diperlukan? Atau mungkin sains belum menjadi sebuah komoditi yang layak untuk dipromosikan? Mudah-mudahan bukan itu alasannya. Mudah-mudahan sebagian besar dari kita hanya sedang sibuk menyiapkan diri untuk bisa menjadi duta sains terbaik yang mampu memasyarakatkan sains dan mendekatkan sains pada masyarakat.