Tag

, ,


Kebetulan minggu ini baca satu artikel menarik tentang kreatifitas kolektif (penggabungan kreatifitas). Artikel tesebut menjelaskan beberapa poin penting untuk bisa menumbuhkembangan kreatifitas kolektif. Berikut adalah beberapa poin utama dari artikel tersebut*:

  1. Ide brilian/kreatifitas biasanya datang dari orang yang berbakat/kreatif, jadi menemukan orang yang kreatif adalah hal pertama yang perlu dilakukan untuk bisa menumbuhkembangkan kreatifitas.
  2. Ketika kita menemukan orang yang kreatif, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa individu tersebut mampu bekerja secara efektif dengan individu kreatif lainnya untuk bisa menghasilkan kreatifitas kolektif.
  3. Untuk bisa mencapai situasi di atas (poin 2) maka perlu dibudayakan suatu lingkungan di mana setiap individu merasa bebas untuk mengemukakan ide-idenya.
  4. Selalu membuka diri terhadap berbagai perkembangan dan ide-ide baru.

Setelah membaca artiket tersebut jadi bertanya sendiri, mungkinkah membentuk sebuah keluarga kreatif (yang mampu menumbuhkembangkan kreatifitas kolektif)? Karena artikel di atas berasal dari sebuah majalah bisnis terkemuka tentu sasarannya adalah perusahaan atau organisasi, tapi bukankah keluarga juga merupakan sebuah organisasi?

Tentu perlu ada sedikit penyesuaian untuk penerapan poin-poin tersebut, terutama poin no 1 di atas. Hal paling mendasar dalam sebuah keluarga adalah ikatan kontrak kerja yang ada berlaku seumur hidup. Kontrak kerja suami-istri, orang tua-anak, adik-kakak adalah berlaku seumur hidup dan tidak dikenal (di keluarga kami) adanya PHK (Pemutusan Hubungan Keluarga). Karena itu, poin no 1 di atas relatif sulit untuk diterapkan di sebuah keluarga. Kita tidak bisa mencari istri/suami baru hanya karena suami/istri yang ada kurang kreatif. Kita juga tidak bisa asal mengadopsi anak kreatif untuk bisa membentuk keluarga kreatif. Ketika kita memilih seseorang menjadi pasangan hidup kita tentu kita memiliki kreteria tertentu dan Saya tidak pernah memasukkan kreatifitas dalam kreteria Saya (kreteria utama Saya waktu memilih istri adalah: sang wanita yang mau dan bersedia menjadi Istri Saya – terserah terpaksa atau tidak). Alhamdulillah setelah menikah ternyata Ayang (istri) adalah seorang wanita yang cukup kreatif (TeBoRaRa adalah sedikit bukti kreatifitas Ayang). Sayangnya Saya, bukanlah seseorang yang kreatif – Saya punya beberapa ide dan hanya sebatas ide, untuk mewujudkannya kadang bingung sendiri. Kalau mengikuti poin no 1 di atas harusnya Ayang mencari suami lain untuk bisa membentuk keluarga kreatif, untungnya Ayang sangat kreatif sehingga dengan segala kreatifitasnya Ayang mampu memaksa Saya untuk bisa belajar lebih kreatif. Dari beberapa uraian di atas, ijinkan Saya menulis beberapa poin yang coba kami terapkan dalam membentuk sebuah keluarga kreatif:

  1. Ide brilian/kreatifitas biasanya datang dari orang yang berbakat/kreatif, jadi menemukan suami/istri yang kreatif adalah hal pertama yang perlu dilakukan untuk bisa membentuk sebuah keluarga kreatif. Berikut tips khusus untuk wanita: Cara yang paling mudah untuk mendeteksi calon pasangan kita kreatif atau tidak adalah dari caranya merayu dan mentraktir kita, jika rayuannya itu-itu saja dan tempat makannya sama saja, berarti pria tersebut agak malu-malu untuk tampil kreatif. Jika rayuannya bervariasi bahkan sesuai dengan keadaan cuaca dan suka mengajak ke tempat yang berbeda, sesuai dengan keadaan kantongnya, berarti dia cukup kreatif.
  2. Jika kebetulan kadar kreatifitas kita atau pasangan kita masih kurang, dan kita terlanjur jatuh hati maka langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah berjanji sehidup-semati, tapi berjanji untuk saling belajar menjadi lebih kreatif – sampai mati.
  3. Untuk bisa belajar menjadi lebih kreatif, setiap anggota keluarga harus bisa saling bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik. Langkah pertama untuk bisa berkomunikasi dengan baik adalah belajar komunikasi efektif. Ketika Saya marah, Saya selalu bilang: “Ayang, Saya marah ……”. Dengan begitu Saya tidak perlu bingung pasang muka seram atau diam (buang waktu) menunggu istri sadar klo saya lagi marah. Dulu Ayang sulit melakukan hal yang sama, kalo marah biasanya diam membisu lama sampai akhirya bosen sendiri soalnya Saya tidak pernah sadar kalau Ayang lagi marah🙂 . Belakangan ini Ayang jauh lebih efektif, kalau marah langsung marah dan kadang pake acara “mantot” (manyun/cemberut +melotot). Alhamdulillah mantot-nya Ayang selalu bikin Saya bahagia, soalnya jadi keliatan lebih sexy. Kita berdua juga selalu mengatakan secara jelas apa yang kita inginkan. Misal: tiap bikin gorengan Saya selalu pesan agak gosong, pake cabe, terigu banyak, seasin mungkin (biar irit), dll, pokoknya sedetail mungkin. Jadi lebih efektif, kita dapatkan apa yang kita mau pada saat kita memang menginginkannya. Bayangkan jika pesan gorengan cuma dengan lirikan dan senyum paling yang saya dapat senyum dan lirikan balik bukannya gorengan.
  4. Mengkondisikan rumah yang kreatif. Ini relatif mudah. Kami selalu membatas isi lemari makan dan kulkas sehingga kami dipaksa untuk kreatif dalam memasak dan juga memaksa kami untuk lebih kreatif mencari tempat menumpang makan kalau kebetulan persediaan sudah habis.
  5. Membuka diri terhadap perkembangan ide-ide kreatif baru. Kreatifitas bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja, yang perlu kita lakukan hanya membuka pikiran kita terhadap ide-ide kreatif tersebut dan kami masih belajar untuk itu. Langkah pertama yang kami lakukan adalah coba membebaskan pikiran kami dari segala prasangka, sehingga kami bisa melihat segalanya dengan lebih baik. Cara lainnya yang kami rasa paling efektif adalah melalui membaca. Setiap minggu Ayang pergi ke perpustakaan kota untuk meminjam berbagai buku. Buku adalah sumber ide-ide kreatif, yang perlu kita lakukan hanyalah menyempatkan diri membacanya.

Semua poin di atas adalah hal-hal yang sedang dan telah kami lakukan, Alhamdulillah kami belajar banyak dan terus belajar. Jika teman-teman ada ide lainnya mengenai cara membentuk/menumbuhkan kreatifitas dalam keluarga, silahkan membaginya di kolom komentar di bawah atau langsung ke email kami. Insya Allah semua masukan tema-teman akan menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi kami.

*Harvard Business Revies Sept 2008, hal 65-72: How Pixar Foster Collective Creativity