Tag

, ,


Beberapa hari lalu sempat ngobrol banyak dengan adinda adik tercinta (Piet). Berikut Saya kutip kata-kata nya:

“ketika saat-saat sebelum melahirkan, keberadaan Ibu (orang tua) adalah yang terpenting , tapi sedetik setelah melahirkan  keberadaan suami adalah yang paling penting…”

Kesimpulannya, beruntunglah para pasangan yang bisa dekat dengan orang tua ketika masa-masa kehamilan, dan beruntunglah seorang wanita ketika suaminya bersedia (baca:berani) masuk ruang bersalin ketika saat persalinan (dan bukannya berencana nonton bola di stadion). Ketika Piet (adik) mengatakan hal di atas, Saya langsung menggunakannya sebagai alasan (pembenaran) mengapa kami rela didahului dalam lomba “setor cucu”. Saat ini Kami jauh dari orang tua dan Saya masih bersikukuh dengan rencana “kabur nonton bola” kalau honey (Istri) masuk kamar bersalin.

Bicara mengenai masalah kehamilan/kelahiran, siang ini kebetulan Saya sedang menikmati website BPS, dan ada beberapa data terkait yang mungkin menarik untuk bisa kita nikmati:

Berikut data populasi yang Saya peroleh dari BPS: (sayangnya Saya baru melihat hingga tahun 2000)

1971 1980 1990 1995 2000
119208229 147490298 179378946 194754808 206264595

Tahun ini (2008) di perkirakan jumlah penduduk Indonesia lebih dari 237 juta jiwa*, meningkat lebih dari 97 persen dari tahun 1971 (jika dirata-ratakan = peningkatan sekitar hampir 2,5% per tahun). Dari data tersebut kita bisa menarik kesimpulan: pasutri Indonesia sangat bersemangat (produktif ).  Benarkah?  jika kita lihat berdasarkan periode waktu di atas kita bisa memperoleh perspektif baru sebagai berikut:

1971-1980 23.7249% 2.6361%
1980-1990 21.6208% 2.1621%
1990-1995 8.5717% 1.7143%
1995-2000

2000-2008

5.9099%

10,51%

1.1820%

1,3175%

Kolom pertama adalah periode tahun, kolom berikutnya adalah peningkatan jumlah penduduk (dalam persentase) pada periode tahun tersebut dan kolom terakhir adalah rata-rata peningkatan per tahun dalam periode waktu tersebut. Sekarang sepertinya kita harus sedikit memodifikasi kesimpulan kita: Pasutri Indonesia memang produktif, tapi tidak se-produktif pasutri terdahulu . Kesimpulan ini juga ditunjang dengan data Total Fertility Rate (rata-rata bayi yang dilahirkan oleh seorang wanita) yang menunjukkan penurunan dari 5.605 pada tahun 1971 menjadi 2.34 pada tahun 2008 (penurunan lebih dari 50%)*. 

Kehamilan dan kelahiran adalah suatu kebahagiaan bagi setiap pasangan juga untuk seluruh keluarga dan akan selalu seperti itu, tidak ada keraguan dalam hal tersebut. Jika kelahiran anak adalah suatu kebahagiaan – lalu mengapa (dari data diatas) jumlahnya semakin berkurang? Apakah karena kehidupan di Indonesia jauh lebih sulit jika di banding beberapa tahun lalu? apakah karena banyak pasangan yang semakin terbuai dengan karirnya? apakah karena tinggkat pendidikan masyarakat yang semakin membaik sehingga mampu merencanakan rumah tangga secara lebih hati-hati? Mungkin iya, tapi menurut Saya, jawabannya sederhana: mungkin diluar sana, (semakin) banyak suami-suami yang masih belum berani berada disamping istrinya ketika melahirkan, sehingga akhirnya para istri menjadi kurang bersemangat untuk melahirkan.

*Estimasi CIA world fact book

Oh ya, ini alamat blognya nawla (keponakan baru kami):

http://www.nawla.blogspot.com/