Bohong bukanlah barang baru dalam kehidupan penulis. Dari kecil hingga dewasa sudah tidak terhitung lagi berapa kebohongan yang pernah Saya lakukan. Mengajak orang lain untuk berbohong adalah hal lain dan hingga saat ini (seingat Saya) sangaat jarang Saya lakukan.

Mungkin terkesan naif – apa bedanya berbohong dan mengajak orang lain berbohong? ada beda sedikit – jumlah korbannya. Ketika kita mengajak orang lain berbohong sama halnya kita mempercepat penyebaran suatu kebohongan dan otomatis jumlah korbannya pun relatif lebih besar.

Alhamdulillah sampai saat ini Saya belum berkenalan dengan orang yang secara sadar mengajak Saya untuk ikut berbohong bersama, kalau secara tidak sadar, banyak dan lumayan rutin. Contohnya bulan ini ada beberapa e-mail yang intinya memberi kabar baik bahwa kita berpeluang memperoleh rejeki nomplok cukup dengan meneruskan (forward) e-mail tersebut ke teman-teman yang lain. Saya lihat dari alamat-alamat e-mail yang tercantum, ternyata ada puluhan teman lainnya yang juga mendapat e-mail yang sama. Salah satu contoh e-mailnya bisa di lihat di sini (klik).

Saya sadar bahwa teman-teman bermaksud baik dan jujur Saya tidak keberatan untuk menerima email-email tersebut. Hanya kadang Saya sedikit prihatin ketika e-mail tersebut datang dari seorang teman yang Saya hormati. Tentu kita bisa berargumen bahwa hal tersebut tidak ada ruginya. Tapi coba kita renungkan sedikit – apa benar tidak ada ruginya?

1. Seperti yang tertulis di atas, mem-forward Hoax (wikipedia indonesia: usaha untuk memperdaya orang-orang agar mempercayai sesuatu yang salah adalah benar) sama halnya mengajak orang lain berbohong (secara sadar atau tidak) – jika ada suatu kebohongan, hampir pasti ada pihak yang dirugikan! Jadi ada ruginya!

2. Jika orang yang menerima e-mail tersebut tahu pasti bahwa e-mail itu adalah kebohongan, nama baik kita sangat mungkin bisa tercoreng. Jadi ada ruginya!

Terus kenapa kadang kita tergoda untuk tetap melakukannya? Apakah karena adanya peluang (yang sangat kecil) untuk mendapat keuntungan begitu besar? Mungkin iya.

Tapi apakah layak menukar sebuah peluang kecil (mendapat keungtungan) dengan peluang besar (merusak nama baik dan merugikan banyak orang)? Menukar sesuatu yang kecil menjadi besar – tentu sebuah hal yang layak untuk dilakukan dan mungkin hal inilah yang menyebabkan Saya masih saja rutin menerima email-email di atas.