Ada yang tahu bagaimana?

Berikut sekelumit pemikiran Saya. Pertama mari kita definisikan apa yang dimaksud dengan suami teladan, caranya mari kita bandingkan dengan beberapa karakteristik yang melekat dari kata teladan berikut:

1. Mahasiswa teladan = mampu memberi teladan bagi seluruh mahasiswa lainnya dan diakui sebagai mahasiswa teladan seluruh mahasiswa lainnya.

2. Pegawai teladan = mampu memberi teladan bagi semua pegawai lainnya dan diakui sebagai pegawai teladan minimal oleh semua pegawai lainnya.

Dari dua definisi di atas, kita bisa menyimpulkan definisi suami teladan sebagai berikut:

Suami teladan = bisa memberi teladan bagi semuanya istrinya yang sah dan diakui sebagai suami teladan oleh semuanya istrinya yang sah.

Sekarang pertanyaannya apa yang dimaksud dengan memberi teladan?

Memberi teladan bisa diartikan memberikan contoh yang baik secara konsisten. Suatu contoh yang baik tanpa dibarengi dengan konsistensi tidak bisa diartikan memberi keteladanan. Jadi menurut Saya, langkah awal menjadi suami teladan adalah belajar memberi teladan.

Syarat berikutnya untuk menjadi suami teladan adalah adanya pengakuan dari istri (-istrinya). Adalah tidak mungkin menjadi seorang suami teladan jika hanya mendapat pengakuan dari istri orang lain atau bahkan istri gelap. Dengan kata lain, langkah berikutnya untuk mempermudah menjadi suami teladan adalah meminimalkan jumlah istri, karena mendapatkan pengakuan satu istri rasanya lebih mudah dari pada mendapat pengakuan dari beberapa istri. Perlunya pengakuan istri menggambarkan betapa pentingya peranan istri dalam menentukan seorang suami teladan atau bukan. Oleh karena itu pengakuan terhadap peran penting istri tersebut juga merupakan sebuah hal yang sangat penting dan hal ini umumnya lebih mudah dilakukan dibanding dengan memberi teladan. Untuk kasus Saya, yang perlu Saya lakukan hanyalah bercermin, setiap kali bercermin, Saya melihat sebuah wajah gemuk dan sehat (Saya ingin menulis “tampan” tapi tidak cukup percaya diri). Melihat wajah tersebut mengingatkan Saya betapa beruntungnya Saya dan betapa pentingnya Ayang (pangilan Saya untuk istri) dalam kehidupan Saya. Ayanglah yang menjadi alasan utama mengapa wajah tersebut terlihat begitu gemuk dan sehat, hadirnya Ayang mengahadirkan ribuan senyum dan tawa yang berefek langsung terhadap bentuk wajah Saya. (alasan: riset mengungkapkan bahwa tertawa membakar kalori, karena terlalu sering tertawa Saya menjadi lebih sering lapar dan akhirnya mengkonsumsi lebih banyak kalori)

Setelah dipikir-pikir ternyata susah menjadi seorang suami teladan. Lewat tulisan ini Saya hanya ingin menyampaikan pada Ayang untuk tidak pernah berharap memiliki suami teladan. Yang paling bisa Ayang harapkan hanyalah seorang suami yang begitu bahagia bisa belajar bersama dan Insya Allah tidak akan pernah berhenti untuk belajar bersama untuk memberi teladan bagi lingkungan di sekitar kita, plus seorang suami yang mungkin akan semakin gemuk!