Alhamdulillah, kami berkesempatan kenal dengan seseorang yang begitu luar biasa dan dengan segala kerendahan hatinya beliau berkenan membagi sedikit pemikirannya di sofa ini. Berikut tulisan beliau:

Saat ini saya hanya bisa melotot, bengong, kesal.
Coba saja lihat. Mengapa saudara-saudara kita ini koq bisa khilaf?

Yang saya maksud adalah maraknya protes saudara-saudara kita terhadap satu aliran, yang katanya sesat.
Menurut saya, itu bukan jalan Islam. Saya 100% tidak percaya. Ada energy apa gerangan pada saudara-saudara kita itu?
Apakah mereka tidak pernah berpuasa? Apakah mereka tidak pernah belajar menahan emosi?
Saya hanya bisa termenung. Betapa tidak? Ini adalah satu tindakan mencoreng muka sendiri. Membunuh diri sendiri.

Sebenarnya, orang yang sesat itu kan harus diberi petunjuk jalan. Dan memberi petunjukkan harus dengan baik. Bukan dipaksakan.
Bukan dengan doktrin yang tidak dimengerti. Jika kita menemukan orang tersesat, apakah kita akan malah mencambukinya? Memaki? Mengusir?
Sungguh bukan perilaku seorang muslim.

Saya saat ini malah berfikir terbalik. Kondisi yang kita hadapi saat ini adalah merupakan hasil yang kita panen dari apa yang ditanam dahulu. Saya memprediksi munculnya aliran aliran tersebut ada dasarnya. Yakni: ketidaktahuan akan jalan yang benar atau ketidakpuasan terhadap sistem yang ada.

Maraknya aliran-aliran tersebut sebenarnya bukan 100% salah dari pembawa aliran itu. Namun jelas karena mandulnya para pemuka agama ini dalam menyampaikan kebenaran yang dimengerti umat. Seringkali seorang ulama tidak memberikan pengertian yang baik, akan tetapi menjejalkan pola fikir dan pendapatnya terhadap umat. Pendekatan dakwah, menurut sinisnya saya, tidak dengan alur logika yang benar, melainkan dengan memberikan satu dogma yang harus terlebih dahulu diyakini sebelum pembuktian.

Sering terdengar ucapan: INI HARUS DIYAKINI DENGAN IMAN BUKAN DENGAN LOGIKA/FIKIRAN. Biasanya saya terdiam dengan kening terkerut jika mendengar kalimat ini. Saya tidak melihat perbedaan sesatnya Ahmadiyah dengan orang yang menerima kalimat ini secara _dogmatis_. Kongkretnya, di tanah air kita banyak sekali orang yang percaya kalau air doa itu bisa memberikan khasiat tertentu. Bahkan di beberapa tempat, percaya jika air bekas cucian senjata pusaka seorang sunan bisa menyembuhkan segala penyakit. Dan sebagainya, dan sebagainya. Saya yakin tidak ada yang ingin membakar sebuah keraton karena kesesatan yang satu ini.
Coba fikir! Kasus-kasus ini lebih sesat dari ahmadiyah. Mengapa?
Jika Ahmadiyah mempercayai nabi setelah Muhamad, mereka ini mempercayai kekuatan lain selain Allah!!! Mereka percaya akan adanya CALO yang bisa memperlicin doa kepada Allah!!
Pendapat saya, inilah hal-hal yang membuat orang tidak tahu jalan yang benar. Karena banyak ulama yang bertindak seperti itu, sedangkan dia mengajari untuk menjauhi musyrik.

Selain itu banyak pula para ustadz, kiyai, atau apapun, membuat Islam ini terlihat sulit. Seperti contohnya, pakaian harus begini lah, harus pake sorbanlah, harus pake gamis lah, dll. Mungkin saja pergi kuliah juga harus pakai Unta.
Maaf, saya memang suka agak kontroversial. Terus terang saya bingung dengan beberapa kelompok pengajian yang mengajarkan hal-hal ini. Kalau ngaji harus pakai baju putih semua lah, pake sorban yang cara membelitkannya begini-begitu lah, dst. Bagi kelompok itu sendiri mungkin baik. Anggotanya merasa tentram dan bangga. Tapi bagi orang lain? Saya sendiri kadang suka geli jika ada orang Indonesia dengan dandanan Arab di Bandung. Saya hanya berfikir, mengapa untuk mengemban islam kita harus kesulitan seperti itu dan asing di rumah kita sendiri? Bukankah Allah mengutus rasul itu dari kaumnya? Rasulullah juga orang arab dan di utus di tanah arab. Iya kan?

Ini hanya sebuah contoh, yang sangat mungkin tidak benar. Tapi hal-hal yang menyulitkan umat justru berakibat ketidak puasan umat. Pertanyaannya mungkin: Mengapa harus begini-begitu kalo begini saja bisa?

Jadi kembali lagi, maraknya aliran-aliran (mungkin) sesat adalah sebagai akibat kesalahan kita juga. Jadi seharusnya diselesaikan dengan baik, dengan jalan Islam. Nanti yang bertobat juga bukan hanya yang pernah sesat, akan tetapi termasuk kita yang menyesatkan, baik langsung maupun tidak.
Apa yang dilakukan saudara-saudara kita sekarang, melalui jalan mengumbar emosi, berdampak sangat buruk bagi kita. Orang-orang yang tidak suka terhadap Islam semakin menunjuk hidung kita. Orang yang tidak tahu mengenai Islam menjadi membenci. Orang yang baru meraih Islam mundur kembali. Seluruh umat Islam yang tidak berkepentingan menjadi korban, dari ulah ceroboh segelintir saudara kita yang bodoh.

Jujur. Saat ini bila ada orang bicara miring tentang umat Islam…. Saya tidak bisa membela. Saya hanya bisa mengatakan… Mereka itu bodoh. Atau…. saya juga bodoh.

Astagfirullah,

Yudi Rosandi*

*Kang Yudi Rosandi adalah seorang ilmuwan muda Indonesia. Saat ini berdomisili di Kaiserslautern, Jerman. Disela-sela kesibukan risetnya beliau senantiasa coba kritis dengan lingkungannya. Beliau seorang yang sederhana, ayah dan suami yang luar biasa, dan bagi kami beliau adalah seorang kakak yang membuat kami begitu bangga.

Artikel terkait: