Ada sebuah artikel menarik yang membahas efek “suami” terhadap beban kerja rumah tangga seorang istri. Artikel tersebut di muat di Reuters awal bulan ini dengan judul: Husband create 7 hours of extra housework a week. Artikel tersebut merangkum hasil penelitian di Amerika yang menyatakan bahwa ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah (bersuami) mereka umumnya juga “diberkahi” rata-rata 7 jam tambahan beban kerja rumah tangga (misal: beres-beres). Tambahan beban kerja ini bahkan semakin parah dengan hadirnya seorang anak. Karena penelitian tersebut dilakukan di Amerika di mana umumnya pekerjaan rumah tangga sudah dibantu alat-alat modern, kita bisa berargumentasi bahwa para ibu rumah tangga di Indonesia mungkin mendapat tambahan beban kerja lebih dari 7 jam setiap minggunya. Dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa seorang pria yang memutuskan untuk menikah umumnya “kehilangan” satu jam beban kerja rumah tangga.

Saya pribadi relatif setuju dengan hasil penelitian tersebut. Semenjak menikah Saya semakin jarang beres-beres kamar, Saya juga semakin jarang cuci piring. Sebaliknya, Ayang (Istri) semakin sering beres-beres segala macem. Semenjak menikah kami berdua telah berkomitmen bahwa pekerjaan rumah adalah HAK kami berdua, bukan suatu KEWAJIBAN. Karena pekerjaan rumah tangga tersebut adalah HAK, maka kami bisa memutuskan untuk melakukannya atau tidak sama sekali. Kebetulan Ayang yang selalu paling semangat untuk mengambil HAK-nya.

Membaca artikel di atas dan apa yang kami lakukan dalam rumah tangga kami, seorang suami bisa dengan mudah dituduh sebagai biang onar (tukang biking acak-acakan) dan mahluk egois…. mungkin ada benarnya. Tapi ada satu sisi yang tidak sempat dibahas dalam artikel tersebut, yaitu perasaan seorang istri ketika melakukan pekerjaan rumah tangga. Saya hanya memiliki 4 sampel data, Ibu, Mamah, Bibi, dan Istri tercinta, walau kadang pekerjaan rumah tangga memang berat, umumya mereka semua menikmatinya. Banyak penelitian menyatakan bahwa ketika kita melakukan suatu pekerjaan yang bisa kita nikmati, seberat apapun perkerjaan itu, dan sebanyak apapun jam kerja yang mesti dijalani, hal tersebut jauh lebih menyenangkan dari pada menjalani satu jam pekerjaan yang kita benci. Jadi mungkin sebenarnya para wanita tidak begitu peduli dengan tambahan 7 jam kerja tersebut, karena mungkin mereka sangat menikmatinya.

Terlepas banyak penafsiran yang bisa diambil, hasil penelitian tersebut mengingatkan Saya bahwa Saya harus lebih giat bekerja, belajar bekerja, dan bekerja bersama dengan istri tercinta.

Ayang…terima kasih!