(komentar untuk tulisan iyang: Teh, Kopi, dan Kue Tambang)

Selamat kepada dua Srikandi muda yang telah dengan lincah menghadapi hidupnya yang mulai merambat meninggalkan masa muda-belia-merdeka menuju masa yang tidak pernah diketahui dengan pasti seperti apa, meskipun telah membaca, melihat, mendengar cerita, bahkan menduga-duga; tetap tidak tahu persis, seperti apa, hidup kedepan ini, sebagai isteri, sebagai ibu.
Senang membaca tulisan-tulisan Pit & Mbak Kus-Eko, mengalir enak, menyusuri aliran kehidupan yg bagi orang lain sering kali terjadi begitu saja, tanpa bisa dirasai, tanpa bisa disajikan, tanpa bisa dinikmati.

Terima kasih ya Pit, dapat menjadi pemanjang kesegaran diketuaan MbahGun. Menjadikan Mbah Gun tidak sendiri, sepi. Bapak juga ga tahu benar, apa yang ada dalam benak Mbah Gun. Mestinya beliau lebih suka di kampung, di sawah, sendirian, kerja keras, dengan kedua kaki tertanam di tanah lumpur yang sudah lebih dr 70 tahun diinjaknya; kemudian pulang ketika menjelang dzuhur, yang sampai di rumah tak akan dijumpainya apapun; alih2 kopi, kue tambang, dan obrolan ringan-menyegarkan, dan koran, bahkan belum tentu ketemu orang. Kamar kosong tempat Mbah Marni dulu menggeletak sakit saja yang ditemuinya.

Dalam kelaparan Mbah Gun sering kali mendapatkan air termos hangat sudah sangat menyenangkan; kemudian ke mesjid, di depan rumah, bersimpuh, entah membaca apa; tetapi pasti do`a, untuk semua anak cucunya.
Rasanya beliau tak pernah mengeluh, apalagi meratapi hidupnya yang ditinggal pergi duluan Mbah Marni. Barangkali yang masih dibanggakan adalah anak2nya yang meskipun telah pada hidup di kota, atau tetap di desa tapi hidup lebih baik, masih eling (ingat) dan hormat dengan orang2 kampung, itu saja; setiap kita mendapati rejeki, selalu kita ingat mereka, bahkan Mbah Gun yang selalu bertugas untuk keliling kampung, ke rumah para janda dan lansia untuk berbagi kesenangan.

Sampai sekarang, ketika comment ini Bapak tulis di Tokyo, Mbah Gun masih seneng-seneng saja diBogor, itu membahagiakan aku, Bapakmu. Sudah 4 bln, diselingi pulang kampung 2minggu, Mbahmu di Bgr, di rumah kita, dan beliau masih seneng2 saja, menurut Pit; adalah karena wanita-wanita baik seperti Pit & Mbak Kus, yang mampu menyulap keseharian sebagai sesuatu yang selalu bisa diserutup; enak, sedikit, tipis, tidak menggelegak, menyegarkan; itulah jasa kalian.

Bapak, betapapun ingin, membahagiakan Simbahmu, orang yang mengukir jiwa ragaku, yang seluruh hartaku adalah haknya, yang selalu aku takut salah berbuat, yang dia guru besar hidupku; toh tak bisa; aku punya hidup sendiri, yang betapapun ingin kuseiringkan dengan irama Mbah Gun, tetap tak sejalan.
Mbahmu lah yang menjadikanku, Bapakmu, tetap bersemangat. Banyak yang ingin dilakukan Mbah Marni, sejak mudanya, tetapi karena keterbatasannya tak dpt dilakukan; kini setelah beliau wafat, tinggal Mbah Gun, yang jika saja Bapakmu dapat mengantarkan Mbahmu menikmati tuanya dengan makin mendekatkannya kepadaNya, itulah hakikat suksesku, Bapakmu.

Makanya program Shubuh-Selalu-Berganti-Mesjid, yang sudah memasuki kali ke 100 itu, Bapak perhatikan dg serius adalah karena hal itu menyenangkan Mbah Gun; jika Mbah Gun senang, maka Mbah Marnipun akan sangat senang.
Untuk itu, sekali lagi, selamat kepada Pit, dan terima kasih dr Bapakmu, yang tak mungkin dapat membalasi jasa baikmu.

Bersabarlah Pit, bersabarlah Mbak Kus; begitu banyak wanita lain yang lebih tidak menentu bukan saja masa depannya, bahkan hari ininyapun mereka tak jelas. Sementara Pit dan Mbak Kus, masih sempat memikirkan bangsanya, dan nasib rakyat kecil serta kiat menenteramkan diri dalam mendapingi Kekasih yang sedang memantapkan dirinya menjadi Ksatria Kehidupan, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Bangsa.

Terus bantu Mbahmu menikmati dunia yang jauh dr habitatnya, Haji yang berhaji bukan dari hasil taninya, tetapi hasil menjual sawahnya, seluruhnya.
Sediakan diri, waktu, intelektualmu, sabarmu, dan berbagai kelebihanmu, sebagian … untuk Mbah Gun, orang tua yang kesedihannya akan sangat melukai kebahagiaan Bapakmu yang juga sedang seperti ini.

Bapak menangis sepanjang menulis ini, di Tokyo; bukan sedih, tetapi bersyukur, bangga: ada Pit dan ada Mbak Kus yang Bapak lihat sbg sedikit wanita yang rela menjalani kewanitaannya, yang meski diketahuinya jalan itu yang akan membawanya ke surga, sering kali ditinggalkannya.

Selamat ya Pit, Selamat ya Mbak Kus; nikmati komunikasi luar biasa ini melalui medialuar biasa.
Selamat Berjuang Mas Eko. Aku punya sesuatu untuk Mas Eko & Mbak Kus; sesuatu yang dapat diberikan oleh siapapun, bahkan orang yang sangat miskin; semoga dengan sesuatu itu, Mas Eko&MbakKus semakin sukses, Aamiin.
Sampai jumpa!