Tanpa disadari, beberapa minggu belakangan ini ada ritual rutin yang menjadi kegiatan pagi. Jam 6 di beranda rumah, menikmati koran pagi bergantian dengan mbah Gun. Saya di temani teh melati manis yang masih mengepul tebal asapnya, dan Mbah Gun kopi hitam pekat yang di seduh air mendidih. Kadang di temani singkong goreng atau pisang goreng, kalau tidak ada, roti selai juga jadi. Kalo gak ada juga, biskuit roma atau biskuit kelapa. Dan pagi ini, dengan kue tambang.

Sudah lama sekali tidak makan kue tambang, di warung-warung kampung pasti selalu dijual. Dulu di rumah Aki di purwakarta juga Uwa Eem atau Bi Atit sering bikin. Kue tambang pagi ini adalah kiriman Bulek Pur dari Depok kemarin. Walau bukan buatan sendiri, tapi enak juga. Pagi yang agak mendung, teh panas yang harum, plus kopi dan koran baru. Alhamdulillah, nikmat…

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, ritual pagi ini diselingi oleh obrolan ringan yang kadang penting kadang tidak. Campur aduk bahasa jawa Mbah Gun dan bahasa jawa saya yang sok-sokan menyesuaikan (logatnya doang!). Pagi ini karena tanggal merah, saya agak lama ngaso di beranda, setelah sebelumnya mengantar Bulek Pur sekeluarga yang pulang subuh ke Depok. Mestinya hari ini gak libur karena kantor ada acara di Agrinex (Pameran Pertanian di Jakarta) 5 hari kedepan. Tapi badan rasanya agak cape, setelah kemarin seharian keliling jakarta dan pulang agak malam (sampai rumah langsung ketiduran tanpa buka baju kerja). Mungkin akan sedikit telat ngantor, atau bolos aja sekalian (hehehe…), pengen beres-beres rumah juga karena minggu depan Putri dan Robin (adek ipar) pulang dari Jepang.

Bulek Pur sekeluarga pulang, rumah kembali sepi. Seperti hari-hari sebelumnya, cuma ada Saya, Mbah Gun dan Mba Olis. Kadang berdua doang dengan Mbah Gun karena mba olis pulang. Maka ritualpun dijalankan…dengan menu breakfast “Kue Tambang” pagi ini.

Obrolan dibuka dengan membicarakan sariwan mbah yang belum pulih benar, padahal sudah di kasih Abotil dan Vit C. Tapi tidak mengurangi mbah bercerita banyak seperti hari-hari sebelumnya. Obrolanpun tidak terganggu oleh sariawan. Mungkin Kopi pekat itu teramat nikmat buat mbah, sampai sariwannya tidak terasa. Obrolan beralih ke soal kue tambang, rupanya semua kampung di Jawa Tengah atau Sunda memang mengenal kue ini. Mbah bilang, bisa gak ya kue ini dibuat dari jagung bukan terigu? Karena mbah adalah seorang petani jagung. Saya ketawa, saya bilang, kalo jagung nanti malah jadi kripik, susah di plintir jadi tambang. Mbah akhirnya sependapat juga, walau mungkin di hati kecilnya masih ada harapan besar bahwa jagung bisa didifersifikasi pemanfaatannya menjadi aneka pangan, persis pemikiran Prof.Syarifudin Baharsyah, mantan menteri pertanian RI pelita 6 jaman Suharto, yang usinya mungkin tidak jauh beda dengan mbah Gun.

Membahas kampung, jagung, tanpa terencana obrolan mengalir ke soal beras. Harga beras di kampung mbah yang sangat murah. Padahal di kota mahalnya minta ampun. Beras di tempat mbah ternyata gabahnya kurang kering akibat musim hujan, jadi tidak bisa di jemur. Bulog bahkan gak mau beli. Harga jatuh untuk gabah, cuma sampai 1600 rupiah, padahal harga dasar adalah 2000. Sedih sekali, kata mbah, tapi apa boleh buat? Ketika saya tanya kenapa gak di oven? (ada semacam teknik pengeringan gabah tanpa matahari, yaitu di oven, tapi gak semua desa punya pengeringan ini). Mbah bilang repot, minimal kalo mau ngoven harus sekitar 5 ton beras dan pastinya butuh biaya tambahan. Jauh dengan matahari yang gratis. Akhirnya petani lebih memilih untuk menjual gabah basah, tanpa pengeringan, yang tentu harganya lebih murah lagi. Dilema yang sangat biasa, persoalan yang menjadi pemakluman sepanjang tahun bagi masyarakat desa. Seperti Mbah Gun, yang hanya bisa menghela nafas dan mengurut dada, petani di desa itu tumbuh dalam kebersahajaan dan kelapangan dada yang luar biasa. Mengeluhpun paling hanya sehari dua hari, selanjutnya, tandur harus dimulai kembali, walau panen nanti akan membawa nasib yang sama, tapi itulah hidup yang mereka yakini harus mereka terima apa adanya.

Obrolan bergulir lagi, tak sengaja, ke Pak Harto (Mbah Gun suka sekali topik ini). Pak Harto yang anak wong tani, yang ndeso juga. Tapi bisa menjadi penguasa yang hebat. Kekuasaan yang mematikan jutaan orang, begitu kata mbah Gun, terlepas dari kekaguman Mbah Gun pada kharisma presiden selama 32 tahun itu. Kekuasaan yang membuat lupa akan masa lalunya sebagai wong cilik, tambah mbah Gun. Terus saya bilang, justru Pak Harto begitu karena teringat terus sama masa lalunya, dia gak mau jadi wong cilik lagi, gak mau susah terus. Mbah Gun ketawa, “Gak mau susah, apa iya jadi gak susah setelah kaya raya begini?” kata Mbah Gun, toh akhirnya ketika meninggal, tak sepersenpun harta di bawa mati. Malah mungkin akan menjadi bencana bila diperebutkan dengan tidak bijak oleh anak-anaknya.

Pemikiran itulah yang rupanya menjadi pegangan hidup mbah Gun, mungkin pegangan hidup mbah-mbah lainnya di Desa, yang ditempa oleh kelapangan dada luar biasa sepanjang hidupnya. Pemikiran tentang “Toh, harta tidak dibawa mati..”.

Mbah Gun sebetulnya masih sangat beruntung, seperti Aki di Purwakarta yang punya tanah cukup banyak, dan kebun lain selain sawah yang bisa diandalkan. Bahkan Mbah Gun bisa naik haji dari hasil taninya. Tapi petani yang hanya punya 0,3 Ha tanah, bahkan hanya jadi buruh tani jauh lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang seperti Mbah Gun. Orang-orang yang mungkin tidak punya alasan yang cukup kuat untuk berfikir menumpuk harta hingga menggunung seperti Pak Harto. Bagi mereka bisa makan setiap hari adalah cukup. Mereka itu, yang mensuplai beras bagi orang-orang kota. Yang kadang bagi mereka makan beras itu sendiri adalah sesuatu yang sangat mewah… tapi toh, semua diterima dengan lapang dada, ikhlas…

Sayapun akhirnya ikut menghela nafas… cerita ini, entah sudah berapa ribu kali terdengar. Di sudut-sudut kampus IPB yang sok idealis, di jurnal-jurnal ilmiah yang bertebaran di penjuru dunia, bahkan di artikel yang saya tulis sendiri di majalah. Tapi semua tidak sedikitpun mengurangi cerita-cerita ini, hingga Februari kemarin, cerita beras murah masih santer terdengar. Belum soal barang pokok yang mahal… cerita sedih masyarakat kecil tidak pernah habis… seperti hanya menjadi bahan paper dan skripsi yang tidak pernah habis untuk diteliti, didiskusikan… seperti di sekarang ini, di pagi yang sejuk dengan teh, kopi dan kue tambang.

Satu jam berlalu… mbah beranjak, waktunya ke kebun. Kebun belakang rumah yang sedang dibangun kolam ikan sekalian panen pisang, kata Mbah. Buat mbah, cerita di pagi ini adalah biasa, toh tidak perlu menjadi larut dan sedih, mbah tetap mencintai kebun dan pekerjaannya sebagai petani. Kopi hitam dan kue tambang, cukup untuk mbah bekerja sampai dzuhur mengurus kebun.

Maka ritual pagi itu selesai. Saya sendiri, entah kenapa jadi merasa sangat kenyang dan enggan mengambil kue tambang lagi, padahal kuenya enak… Entahlah, saya merasa kalah telak oleh mbah Gun. Mbah Gun bisa menghadapi kisah yang ia menjadi pelaku utama di dalamnya dengan sangat hebat. Alih-alih merasa sedih, mbah Gun sepertinya tidak peduli sama sekali, dan tetap bersemangat ke kebun. Mbah Gun punya “cara menghadapi persoalan hidup” yang baik sekali. Sedangkan saya malah merasa campur aduk, bingung… hidup makin berat rasanya, tanggung jawab makin besar…

Sayup-sayup terdengar tukang sayur, mencelos hati ini… ah, harus belanja lagi… terbayang sayur mayur dan lauk yang semakin kurang berasahabat dengan kantong. Perasaan yang mungkin dialami oleh ratusan juta penduduk Indonesia. Tapi sedikitpun saya tidak pernah berani menawar harga sayur, memang mungkin seharusnya begitu, semoga harga mahal ini berdampak pada petani yang menanamnya (sebetulnya tidak yakin juga sih, biasanya tengkulak yang untung dalam hal ini), tapi tak apalah. Kalaupun tidak ke petani, setidaknya tidak terlalu menyakitkan bagi si mba tukang sayur, seorang janda yang harus menghidupi anak-anaknya dnegan membawa gerobak sayur super berat setiap pagi buta keliling komplek. Walau berat, rasanya tidak tega menawar sayur, apalagi jika ingat bahawa diri ini belum melakukan sesuatu yang berarti untuk mengurangi cerita sedih bangsa. Padahal saya seorang sarjana…dari IPB… Kalah telak. Pagi ini saya kalah telak sekali.

Semoga Tuhan berkenan memberi saya sedikit saja semangat yang dimiliki Mbah Gun dalam menghadapi hidupnya. Mungkin saya bisa merasa lebih optimis dan berarti.

 

-Pipit-

20 Maret 2008, 08.14 WIB