Dari semenjak kecil sampai usia seperti sekarang ini, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya sendirian di rumah. Biasanya selalu ada keluarga di sekeliling yang menemani. Mereka pun tidak pernah tega untuk meninggalkan saya sendiri di rumah. Kalaupun harus terpaksa pergi, mereka tidak pernah meninggalkan saya sepanjang hari. Saya juga tidak pernah merasakan yang namanya nge-kost, harus mandiri, mengerjakan segala sendiri dan juga harus sendirian di malam hari.

Setelah menikah, kami tinggal di sebuah appartemen mungil, hanya berdua dan jaauuh sekali dari keluarga. Selama ini, kalo suami tercinta belum juga pulang padahal hari sudah larut malam, saya pasti merayu supaya dia bersedia cepat pulang, karena saya tidak suka kalau harus sendiri di rumah -terutama jika di luar sedang hujan besar atau angin kencang-. Jadi sampai saat ini saya tidak pernah terbiasa untuk sendirian di rumah.

Rencananya pada bulan depan (suami ter)cinta harus pergi ke kota lain untuk jalan-jalan (diselingi acara Konferensi) selama 20 hari. Karena hal tersebut adalah tuntuan pekerjaan, mau tidak mau selama 20 hari mesti tinggal sendiri. Membayangkan 20 hari harus sendiri tanpa suami, rasanya masih berat untuk saya. Maklum baru pertama kali. Tapi mau bagaimana lagi, itu semua harus dihadapi. Akhirnya setelah dipikirkan kembali, daripada membayangkan hal yang tidak-tidak, mungkin akan lebih baik jika saya memikirkan hal-hal positif yang bisa saya lakukan selama 20 hari tersebut.

Berikut adalah beberapa hal (positif) yang sempat terlintas di pikiran saya :

Tanpa honey, sprei gak akan acak-acakan, lemari baju akan selalu rapi, gak perlu rebutan sofa, gak ada sepak bola, gak ada yang bangunin tengah malem kalo lupa belum sikat gigi, gak perlu bingung masak apa waktu weekend, gak perlu bersihin dapur sering2 (soalnya kalo honey yang masak pasti berantakan), gak perlu buru-buru kalo mau pergi jalan-jalan, gak perlu lari-lari ngejar kereta, gak perlu buru-buru kalo lagi belanja, gak ada yang cerewet soal makan, gak perlu rebutan kamar mandi kalo pagi-pagi, gak perlu denger ceramah panjang lebar (karena klo lewat telepon biayanya mahal) dan mudah-mudahan lebih banyak kata-kata romantis yang didenger.

Insya Allah, waktu 20 hari tersebut akan menjadi pengalaman berharga buat saya, walau berat mudah-mudahan bisa saya manfaatkan untuk belajar lebih mandiri, belanja sebanyak-banyaknya, nginep di rumah temen, jalan-jalan kemana-mana dan nonton film semaunya🙂 .