Beberapa waktu lalu kami berdikusi mengenai cara terbaik memperkenalkan seks kepada anak. Mungkin terlalu berlebihan, wong punya momongan saja belum, tapi daripada diskusi mengenai pengeluaran akhir bulan kemarin (yang banyak didominasi oleh tiket bola dan kopi di cafetaria) dari sudut pandang Saya topik di atas relatif lebih menarik untuk didiskusikan.

Ketika Saya bertanya pada adinda istri tercinta bagaimana cara terbaik untuk memperkenalkn seks pada anak jawaban adinda sangat sederhana: “ya ngomong !”. Setelah kesal dan bingung (yang diharapkan jawaban detail, yang keluar cuma 2 kata) akhirnya Saya sadar bahwa jawaban adinda memang tepat. Saat ini anak-anak memiliki begitu banyak alternatif untuk belajar tentang seks, sayangnya tidak semuanya berdampak positif, dan dari sekian banyak cara yang ada, mungkin “omongan” orang tua adalah cara yang ter-“aman” untuk memperkenalkan seks kepada anak. Sebelum kami ceritakan kesimpulan diskusi kami, berikut ada beberapa artikel menarik yang juga membahas topik yang sama yang kami pikir cukup relevan dengan topik diskusi kami.

Hanyawanita.com sempat memuat sebuah artikel menarik mengenai topik yang sama. Artikel tersebut menganjurkan bahwa pengetahuan tentang seks sebaiknya diajarkan kepada anak dari sejak dini disesuaikan dengan tingkat pengertian sang anak. Dari artikel tersebut, Saya baru tahu bahwa ada sebagaian orang yang menggunakan kata “kue moci” sebagai penyebut alat kelamin wanita dan “burung” untuk alat kelamin pria, kenapa mesti kue moci dan kenapa mesti burung? (kalo ada yang tau rasionalisasinya, tolong kasih tau kami).

Kompas beberapa waktu lalu juga menampilkan satu artikel menarik berjudul: Diskusi seks dengan anak kenapa tidak? artikel tersebut membahas mengenai hasil penetian terbaru yang mengungkapkan pentingnya komunikasi seks antara orang tua dan anak juga efek positif yang bisa didapat dari terjalinnya komunikasi tersebut. Selain itu disebutkan pula bahwa komunikasi atau diskusi mengenai seks sebaiknya dilakukan berulang kali. Masalahnya, jika kami nanti mesti rajin berdiskusi dengan anak, kami tidak yakin bahwa kami punya cukup bahan unuk di diskusikan.

Dua artikel tersebut di atas membenarkan jawaban adinda bahwa cara terbaik untuk memperkenalkan seks pada anak: “ya ngomong!” . Yang jadi masalah bagaimana cara ngomong-nya? mulai dari mana? kapan mesti ngomongnya? berapa kali mesti ngomong? dan yang paliiing penting – siapa yang mesti paling banyak ngomong?

Pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki terlalu banyak alternatif (kadang 2 alternatif sudah terlalu banyak) dan kami belum bisa sepakat, tapi kami sepakat bahwa kami tidak akan melibatkan nama-nama kue, atau nama binatang sebagai ganti nama-nama alat kelamin, mungkin kita akan memanfaatkan alpabet yunani seperti di matematika: alpha untuk alat kelamin pria dan gamma untuk alat kelamin wanita.

Selain itu kami berdua juga sepakat untuk berdoa dan belajar sekuat tenaga memperbaiki kemampuan komunikasi kami, terutama dengan anak-anak. Dan mudah-mudahan ketika waktunya tiba, seks dan segala hal yang terkait didalamnya bukan menjadi sebuah topik tabu dimana kami enggan mendiskusikannya, melainkan menjadi salah satu topik diskusi menarik antara kami dan anak-anak kami. Dan untuk mempermudah jalannya diskusi tersebut, Saya percaya stadion sepakbola bisa menjadi salah satu alternatif tempat diskusi yang menarik (anak-anak tidak bisa kabur selama 2 jam, dan kalau topiknya terlalu sensitif bisa kita sampaikan waktu stadionnya lagi rameee)