Sampai saat ini Saya telah melakukan beberapa kali diet untuk mengurangi berat badan. Diet pertama Saya lakukan ketika kelas 2 SMP, dengan motivasi utama: untuk bisa mendapat pacar cantik nan jelita. Diet kedua Saya lakukan pada waktu kelas 2 SMU dengan motivasi utama: untuk mempertahankan pacar yang mulai banyak digoda. Diet ketiga Saya lakukan ketika semester ketiga masa kuliah, dengan motivasi utama: coba ngirit uang saku untuk nonton bola dan nelpon pacar tercinta. Diet keempat waktu sekitar tahun 2003, karena memang tidak punya apa-apa dan senantiasa rindu pacar nun jauh dimata. Diet terakhir Saya lakukan tahun lalu ketika celana yang cukup hanya tinggal satu-satunya dan mantan pacar mulai terkesima.

Kenapa Saya melakukan diet sampai berkali-kali? karena memang Saya tidak tahan. Mungkin memang itulah arti diet sebenarnya, DiET = Ditahan-tahan Engga Tahan juga. Setelah sekian lama menahan diri untuk tidak makan-makanan tertentu Saya biasanya akan tiba pada satu titik dimana Saya sudah tidak tahan lagi.

Buat sebagian orang penambahan berat badan bisa membawa efek samping positif, banyak teman-teman yang makin gemuk makin tanpan atau cantik, ada juga yang makin gemuk makin lucu dan menarik, buat Saya, efek samping makin gemuk adalah makin sulit pura-pura keliatan kurus.

Jika mengacu kepada standar kesehatan internasional, Saya sebenarnya harus segera memulai diet kembali. Berat badan saat ini adalah sekitar 69 Kg dengan tinggi badan sekitar 164 cm artinya Saya memiliki BMI (Body Mass Index) = berat badan (kg)/tinggi badan (m)^2 =25,66. Dari angka tersebut maka Saya bisa diklasifikan overweight atau kelebihan berat badan dan kalau mengikuti standar klasifikasi yang diterapkan di Singapura maka Saya bisa dimasukkan kedalam golongan orang-orang dengan resiko kesehatan moderate atau menengah.

Untungnya, Saya bukanlah warga negara Singapura. Saya tidak begitu yakin acuan yang sama bisa diterapkan untuk warga negara Indonesia, karena setahu Saya negara kita adalah negara yang adil, gemuk atau kurus umumnya sama-sama memiliki resiko kesehatan yang tinggi. Masalah penyakit jantung atau penyakit lainnya (yang biasanya berhubungan erat dengan kelebihan berat badan) di Indonesia sepertinya lebih berhubungan dengan status ‘tersangka’ . Semakin besar kemungkinan seseorang dijadikan tersangka suatu kasus korupsi, kurus ataupun gemuk, semakin besar resiko dia untuk ‘terkena’ (atau malah mencari-cari) penyakit-penyakit tadi.

Sebagai indikator untuk memulai diet, BMI adalah salah satu alternatif terbaik, selain mudah dan relatif akurat, kita bisa pura-pura tetap pada nilai normal (tidak butuh diet) jika memang dibutuhkan, misalnya jika kita sedang banyak makanan hasil berkunjung dari rumah teman atau ada banyak undangan untuk makan. Dan didasari oleh pemikiran-pemikiran di atas, maka saya memutuskan bahwa Saya akan segera memulai diet Saya berikutnya jika BMI Saya telah mencapai nilai 26. Jika teman-teman ingin memotivasi Saya untuk diet, maka Saya persilahkan untuk sering-sering mengundang Saya makan, kapanpun dan dimanapun!

sumber gambar: http://www.answer.com