Belakangan ini Alhamdulillah diberi kesempatan untuk banyak merenung dan memikirkan beberapa hal dengan lebih hati-hati. Pekerjaan yang saat ini sedang dijalani telah tiba di suatu persimpangan, jalan yang satu terlihat begitu sulit dan dipenuhi warung kopi sepi sedangkan jalan yang lain terlihat begitu sesak, macet, dan dipenuhi ‘pak ogah’ dimana-mana.

Waktu yang digunakan untuk merenung telah menjadi bahan bakar untuk mesin serakah, yang semakin menggelora ingin mencoba melalui kedua jalan tadi, mencoba menyelesaikan riset sampai tetes kopi terakhir dan mencoba memulai usaha sampai uang receh terakhir. Berbekal keyakinan bahwa niatan baik akan berhasil baik, ditambah pengalaman dan wawasan minim (ini bisa dilihat sebagai hal positif, wawasan minim = modal ‘nekat’ tersedia), maka diputuskanlah untuk mencoba melakukan kedua hal tersebut pada waktu yang bersamaan. (Sangat) Pelan dan (sangat) tidak pasti, riset terus digeluti dan berbagai peluang bisnis juga diayomi, yang didapat tiap hari adalah kurang tidur dan bingung tiada henti.

Dari apa yang dialami, jadi ingat salah satu artikel Stephen J. Dubner dan Steven D. Levitt di The New York Time mengenai Law of Unintended Consequences, yang intinya mengungkapkan bahwa suatu keputusan (hukum/peraturan) yang sebenarnya memiliki niatan baik kadang malah meleset dan memberikan suatu hasil/konsekuensi yang bertolak belakang. Salah satu contoh yang mereka ungkapkan adalah peraturan di Israel yang mewajibkan para pemberi hutang untuk menghapus (sebagian) hutang mereka pada tahun ke tujuh (sabbatical year). Hukum tersebut bermaksud baik, mencoba membantu masyarakat miskin yang terlilit hutang dan untuk memotivasi mereka untuk terus berusaha keluar dari garis kemiskinan. Namun yang terjadi adalah para pemilik dana kemudian coba menghindari hal tersebut dengan hanya memberi pinjaman pada tahun-tahun awal setelah tahun ketujuh (sabbath), sehingga pada tahun-tahun akhir dimana banyak masyarakat miskin yang sebenarnya sangat membutuhkan dana mengalami kesulitan dan kehidupan mereka menjadi semakin sulit.

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil (keluarga/pribadi), Alhamdulillah siapapun kita, umumnya dalam membuat suatu keputusan senantiasa dilandasi dengan niatan/tujuan yang baik – apalagi ketika hal tersebut merupakan suatu keputusan yang besar/sulit. Khusus untuk kasus Saya, keputusan untuk coba menjalani dua hal besar sekaligus Insya Allah didasari niatan baik, untuk mensejahterakan keluarga dan mengoptimalkan segala karunia yang ada. Harapan Saya bahwa keputusan yang Saya ambil bisa memberikan hasil yang baik sangat besar, namun ternyata the law of unintended consecuences berlaku untuk hal yang saya putuskan. Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan yang telah Saya buat telah menimbulkan beberapa hasil/konsekuensi yang sangat bertolak belakang dari tujuan keputusan tersebut, membuat khawatir seluruh keluarga dan menyia-nyiakan banyak karunia yang ada. Keputusan untuk mecoba menjalani dua hal besar sekaligus telah mempengaruhi pola keseharian Saya, pikiran yang bercabang membuat semakin sulit untuk berkonsentrasi dan otomatis riset menjadi macet, macetnya riset membuat pikiran bingung dan semakin sedikit kontak dengan teman-teman, semakin sedikit kontak membuat semakin banyak peluang bisnis menghilang … semakin hari semakin sibuk tanpa arti, lebih banyak bingung sendiri, dan yang lebih parah – semakin sedikit waktu untuk sekedar mengungkap sayang pada istri.

Ketika kita mendapat hasil/konsequensi yang sama sekali bertolak belakang dari apa yang kita harapkan, mungkin hal tersebut sebenarnya merupakan peringatan atau tanda bahwa ada hal/proses yang salah. Dalam banyak situasi (termasuk contoh dalam artikel di atas) yang salah bukanlah pada niatan atau keputusan (hukum) yang dibuat, melainkan pada pelakunya atau pada proses keputusan tersebut dijalankan. Dari apa yang dialami, jadi ingat nasehat ibu bapak: niatkan dengan baik, putuskan dengan tenang, lakukan dengan riang, dan senyumlah (apapun hasilnya). Saya telah lakukan dua yang pertama tapi Saya telah lupa dua yang terakhir, mungkin keteledoran Saya melakukan dua hal tersebut telah membuat the Law of unintended consecuquences berlaku pada kasus Saya.

Mungkin sekarang adalah saatnya bagi Saya untuk belajar melakukan segalanya dengan riang dan diiringi senyum, karena Saya percaya, Insya Allah setiap niat baik yang dilakukan dengan iklas (riang) dan iringi tawakal (senyum) akan memberikan hasil yang baik.