Jelangkung, Kuntilanak, Suster Ngesot, Hantu Jeruk Purut, adalah sedikit dari banyak hantu yang bergentayangan di dunia per-film-an Indonesia.
Momentum pertumbuhan per-film-an Indonesia ditandai dengan dengan bergentayangannya kembali hantu-hantu lama dan diperkenalkannya beberapa hantu debutan. Mungkin dunia bisnis per-film-an kita memang harus didukung oleh banyak hantu – atau mungkin banyak rumah produksi kita yang berpikir: kalau film ingin laku, maka banyak-banyaklah menampilkan hantu!

Saya sendiri bukanlah seorang pecinta film horor/teror. Film horor terakhir yang pernah Saya tonton dan tidak terlupakan adalah jelangkung, 20 menit duduk tegang dan bingung cari alasan buat kabur terhormat dari bioskop. Bagaimanapun juga, itu adalah pengalaman yang sulit dilupakan.

Ketidakmampuan Saya menikmati film horor/teror tidak mengurangi apresiasi Saya terhadap film-film tersebut. Terlepas dari efek negatif/positif film-film horor di masyarakat, Saya selalu melihat film-film tersebut sebagai bentuk karya kreatif para pembuatnya. Tumbuh kembangnya suatu jenis film tentu tidak terlepas dari tuntutan pasar. Di Indonesia dan di berbagai belahan dunia lainnya film bergenre horor/teror terbukti memiliki segmen pasar yang cukup besar. Kebangkitan para hantu di dunia per-film-an kita bisa dilihat sebagai upaya kreatif para produser film untuk memanfaatkan segmen pasar yang ada.

Pertanyaan yang menarik adalah: mengapa banyak orang tertarik untuk menikmati sesuatu yang menegangkan dan menyeramkan (negative feelings)?

Satu penjelasan/teori yang diterima secara umum mengatakan bahwa perasaan lega yang diperoleh setelah mengalami sesuatu yang menegangkan atau menyeramkan adalah salah satu faktor yang mendukung banyak orang untuk mengkonsumsi perasaan-perasaan negatif tersebut. Teori lainnya mengatakan bahwa tiap-tiap orang mempunyai tingkatan toleransi perasaan negatif yang yang berbeda, perasaan negatif yang membuat seseorang tidak nyaman, bisa merupakan hal yang biasa atau bahkan menyenangkan bagi orang lainnya.

Berdasarkan pengalaman Saya pribadi, Saya sangat setuju dengan penjelasan di atas. Ketika Saya berhasil kabur dari bioskop (setelah 20 menit yang menegangkan) Saya memperoleh perasaan lega yang luar biasa. Perasaan lega luar biasa itu Saya dapat dari 20 menit pertama sebuah film horor Indonesia, bayangkan bagaimana perasaan lega yang banyak orang dapatkan ketika selesai menonton keseluruhan film horor SAW. Saya juga setuju dengan teori kedua, karena Saya dan istri tercinta terbukti memiliki tingkatan toleransi yang berbeda. Film horor yang membuat Saya tegang luar biasa, umumnya malah membuat Honey tertidur nyenyak.

Disadari atau tidak, sebagian besar dari kita memang memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi perasaan-perasaan negatif dan tingkatan toleransi kita terhadap perasaan-perasaan negatif tersebut mungkin merupakan cerminan apa yang kita hadapi dalam keseharian kita. Banyaknya hantu dan tokoh-tokoh seram yang bergentayangan di bioskop bisa menjadi suatu indikator bahwa tingkat toleransi perasaan negatif dari para penonton kita cukup tinggi. Tingkat toleransi perasaan negatif yang tinggi ini mungkin merupakan gemblengan kehidupan sehari-hari kita. Tidak bisa dipungkiri bahwa teror, pemerasan, korupsi, dan berbagai ‘horor nyata’ lainnya masih merajalela di keseharian kita dan dibandingkan semua itu, film-film horor yang ada mungkin benar-benar menjadi hiburan penghibur lara.

(Tulisan ini terinspirasi dari tulisan adinda pipit tercinta, yang lebih memilih makan buncis dari pada menulis naskah film horor)

Share on Facebook