28 Desember 2007

Alhamdulillah, selama satu minggu ini kami diberi kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat. Dari perjalan kami, banyak hal yang kami temui, pertandingan sepakbola keras nan panas, gedung megah nan indah, dan pemandangan cantik nan menarik. Namun bukan hal-hal tersebut yang menjadikan perjalanan ini sangat berarti, namun pertemuan kami dengan beberapa sahabat baru yang menjadikan perjalanan ini sangat berarti. Terima kasih kami untuk kalian semua….sungguh suatu kebahagian bisa bertemu dan berkenalan dengan kalian semua.

  • Liburan. Pagi hari sabtu lalu dengan penuh rasa syukur kami menuju Bremen airport. Alhamdulillah, berbekal persiapan selama hampir satu minggu, kami memulai satu minggu perjalan kami ke negeri pizza dan spagetti, Itali. Dalam tas telah terkumpul: tiket murah Ryan Air dan TuiFly, tiket murah kereta malam Itali, dan reservasi tempat penginapan termurah di tiga kota Itali. (Kel. Nugroho, dari Mr. Nugroho: dan perbekalan yang paling utama, sebuah harapan bahwa kami akan memperoleh tiket untuk pertandingan derby besar: Inter Milan Vs AC Milan)
  • Ryanair dan Bremen Airport. Terkenal sebagai the lowest cost carrier in Europe, Ryanair umumnya menggunakan bandara kecil yang agak jauh dari pusat kota. Namun khusus untuk rute Ryan Air, diantaranya menuju: London, Paris, Stockholm, dan Milan, mereka menggunakan Bremen airport yang sangat mudah di jangkau. Cukup menggunakan trem no. 6 dari stasiun kota Bremen kita mencapai airport dalam waktu kurang lebih 20 menit. (Kel. Nugroho)
  • Malam mingu di Milan. Dari bandara kami menuju Milan Central Station (stasion kereta), sebuah gedung besar yang indah (beberapa bagian masih dalam tahap renovasi). Setelah menyimpan sebagian perbekalan di penginapan, kami memulai malam minggu pertama kami di Itali dengan berjalan menuju pusat kota Milan. Sungguh sayang, sepanjang jalan kami tidak bisa menemukan tukang jagung atau ketan bakar, padahal dalam cuaca dingin seperti malam itu, jagung dan ketan bakar apalagi ditambah bandrek bisa jadi makanan favorite di Milan. Setibanya di Galleria Vittorio Emanuelle II, tepat di tengah-tengah Galleria kami disuguhi konser piano tunggal. Diiringi lagu klassik dan lagu populer, ditambah suasana megah dan indah, membuat rindu kami akan jagung bakar sedikit terlupakan. Setelah beberapa lama, udara dingin dan irama perut lapat yang memaksa kami meninggalkan konser tersebut. Ketika kami kembali dari makan malam kami, tanpa disangka kami dapat menikmati konser Natal Michael Bolton tepat di depan Duomo Milan, di barisan terdepan. Alhamdulillah, walau tanpa jagung bakar dan bandrek, malam minggu kami di Milan menjadi pengalaman yang luar biasa. (Kel. Nugroho)
  • Inter Milan Vs AC Milan. Alhamdulillah, harapan kami untuk bisa menyaksikan pertandingan besar ini terkabul. Keringat dingin dan perasaan tidak menentu telah menyergap dari pagi. San siro dan pertandingan dua tim besar Itali adalah salah satu daya tarik terbesar perjalan ini. Sebelum pertandingan kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat di Milan, namun karena pikiran dan perasaan telah terbang ke stadion San Siro, tidak banyak yang bisa Saya ingat dari perjalan pagi itu. Alhamdulillah kami mendapat tempat yang baik, pertandingan yang menarik, dan pengalaman yang luar biasa hari itu. (Mr. Nugroho)
  • Shopping in Milan. Hari ketiga di Milan kami dedikasikan untuk berbelanja. Alhamdulillah, kami bisa berbelanja air mineral, keripik, dan batu batere di Milan. Ternyata benar, Milan adalah kota pusat belanja, karena kami bisa menemukan banyak jenis air mineral, banyak jenis keripik, dan banyak jenis batu batere di sanašŸ™‚ namun sayang kami segan untuk masuk ke outlet2 lainnya (cuma numpang difoto di outlet Zara) karena melihat isi dompet yang tidak seberapašŸ˜¦ (Kel. Nugroho)
  • Kereta malam Italia. Kata orang: “Banyak jalan menuju Roma”, dan naek kereta malam mungkin salah satunya. Walaupun agak sempit, Alhamdulillah kami bisa sedikit memejamkan mata dan beristirahat. Serasa bagai ikut rombongan Julius Caesar yang baru pulang perang, bawa bawaan berat, badan agak pegel-pegel, dan kurang tidur, akhirnya ketika matahari terbit kami tiba dengan selamat di Roma. Alhamdulillah setelah mengisi perut dengan Croissant dan Cappuccino (menu sarapan selama seminggu ini) yang hmm lezatnya, pegal2 dan rasa kantuk pun terobati. (Kel. Nugroho)
  • Rome, La CittĆ  Eterna (“the Eternal City”). Alhamdulillah, Roma adalah salah satu kota terindah (setelah Bandung tentunya) yang pernah kami kunjungi. Kata beberapa orang yang telah berkali-kali berkunjung ke Roma, katanya tak akan pernah cukup kata untuk menceritakan keindahan Roma dan kami relatif setuju dengan pernyataan itu, oleh karena itu – kami bawa kamerašŸ™‚ karena kami percaya bahwa gambar bisa bercerita seribu kata, jadi kami membuat puluhan foto di Roma, yang Insya Allah bisa sedikit menceritakan betapa indahnya Roma. Di atas segala keindahan yang kami temukan di Roma, kami menemukan indahnya persahabatan. Alhamdulillah, dengan ijin Allah, kami bisa bertemu dan berkenalan beberapa teman baru. Terima kasih untuk teman-teman semua yang telah menjadikan perjalanan kami jauh lebih berarti, semoga Allah senantiasa meridhai dan mempererat ikatan silaturahmi diantara kita. (Kel. Nugroho)
  • Pantai di Venesia. Dari pertama kali kami berkenalan belum pernah kami punya kesempatan untuk berjalan berdua di pantai, jujur faktor utamanya karena sang suami tidak begitu cocok dengan udara panas di pantai. Alhamdulillah, akhirnya di kota Venesia tepatnya di daerah Lido, kami bisa menemukan pantai dengan suhu 3 -8 derajat celcius dan akhirnya untuk pertama kali kami bisa bergandengan tangan, walau dengan sarung tangan (ditambah syal dan jaket tebal), di pantai. (Kel. Nugroho)
  • Home Sweet Home. Alhamdulillah, selama perjalanan ini Allah telah mengijinkan kami mencoba berbagai tempat duduk dan sofa, dari tempat duduk pesawat, tempat duduk bus, tempat duduk kereta, tempat duduk perahu, dan berbagai jenis tempat duduk/sofa di ruang tunggu hotel, bandara, terminal, stasiun, dan pelabuhan. Namun tidak peduli apapun merek dan jenisnya, Alhamdulillah, Allah telah menganugrahkan kami sebuah sofa dan rumah di mana kami begitu bahagia bisa kembali ke sana. (Kel. Nugroho)