14 Desember 2007

Akhirnya tiba waktu untuk kembali ke appartemen mungil kami di Bielefeld, berikut perjalanan kami menuju appartemen mungil tercinta:

  • Kuala Lumpur. Sebelum kembali ke Bielefeld, kami sempat mampir ke Kuala Lumpur walau hanya 1,5 hari. Alhamdulillah kami tidak perlu menginap di hotel, karena telah disediakan akomodasi oleh keluarga besar East Heritage Kuala Lumpur (terima kasih banyak) dan sempat diantar jalan-jalan oleh Kang Tata dan Teh Ikeu keliling Kuala Lumpur. Yang pasti, kami tidak melewatkan untuk melihat menara Petronas. Di Suria KLCC kami bertemu seorang ibu yang baik hati yang menerangkan bagaimana menuju Skybrigde Petronas (tanpa beliau kami tidak akan pernah ke sana). Untuk menuju Skybridge ini, kami harus mengantri tiket yang Alhamdulillah gratis. Kemudian kami harus menunggu sebentar di ruang exhibition. Setelah itu kami dipanggil dan masuk ke dalam ruangan yang layaknya seperti bioskop, di sana kami harus menggunakan kacamata 3D untuk bisa menikmati film 3D tentang Petronas, cukup mengagumkan, benar-benar suatu media pemasaran dan pembelajaran yang efektif. Akhirnya kami menuju Skybridge dengan menggunakan lift yang berkecepatan tinggi, dari atas kami dapat melihat pemandangan kota Kuala Lumpur. Alhamdulillah, kami juga sempat berbelanja di Petaling Street, sholat di mesjid Jame’ dan jalan2 di Dataran Merdeka. Satu tip untuk teman-teman yang ingin mengunjungi Kuala Lumpur, sebaiknya jangan berencana untuk melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur pada hari Senin, karena banyak tempat2 yang menarik justru tutup pada hari Senin. (Kel. Nugroho)
  • Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Bandara udara di Kuala lumpur, sangat megah dan luas. Diakui sebagai salah satu bandara terbaik di dunia. Pesawat kami take off pada hari selasa dini hari sehingga kami berkesempatan menikmati suasana malam di KLIA. Ditemani roti canai susu (penganan khas Malaysia – seperti martabak) dan fasilitas free Hot Spot di bandara, membuat waktu menunggu menjadi tidak terasa. (Kel. Nugroho)
  • Emirates Business Class. Alhamdulillah, karena suami mendapatkan bonus, kami bisa juga menduduki tempat duduk di Business Class (gak pernah mimpi bisa duduk di sini, karena harga tiketnya mahal). Sempat bingung dengan tombol2 dan perlengkapannya, selalu bertanya ke suami, ini untuk apa dan bagaimana menggunakannya🙂 dan ternyata untuk kami (yang ukuran tubuhnya tidak terlalu tinggi) agak kerepotan dengan jarak tempat duduk yang agak jauh dari monitor (tv) yang touch screen. Ketika ditawari pilihan film (video on demand) dengan semangat kami memilih salah satu fim Bollywood, karena umumnya film Bollywood tidak membutuhkan banyak energi untuk dimengerti. Alhamdulillah, kami sangat puas dengan segalanya, makanannya, tempat duduknya yang sangat nyaman untuk beristirahat, dan pelayanan yang sangat baik. Alhamdulillah, mudah2an bukan yang terakhir🙂 (Mrs. Nugroho)
  • Jet lag. Akhirnya sampai juga di Jerman. Alhamdulillah teman2 menjemput kami (terima kasih banyak untuk Kel. Wiryana dan Kel. Abdul Rouf yang telah menjemput kami di bandara). Udara di sini sangat dingiin dan kami masih sangat jet lag sehingga seharian tidak keluar rumah. Bahkan untuk melangkahkan kaki untuk belanja terasa sangat berat, sehingga hanya makan indo mie dan bongkar oleh2🙂 Besoknya coba untuk lebih semangat dengan cara nonton The Golden Compass di Cinestar Bielefeld. Tapi seperti biasa, kombinasi sofa empuk, gelap, dan film yang ternyata kurang menarik, telah membuai Kel. Nugroho untuk tertidur pulas (Mrs. Nugroho telah mulai terbuai sejak awal, Mr. Nugroho coba bertahan namun akhirnya tetap tergoda dan tertidur pada 15 menit terakhir). (Kel. Nugroho)