Beberapa hari yang lalu kami berbelanja di salah satu supermarket besar di kota Bandung. Ketika melakukan pembayaran, kami seharusnya memperoleh uang kembalian sebesar Rp 1.275. Tetapi karena kasir tidak memiliki pecahan uang Rp.50 dan Rp. 25, maka kami hanya memperoleh uang kembalian Rp. 1.200. Hal tersebut berulang kembali ketika beberapa hari kemudian kami berbelanja di Supermarket yang lain. Dan hal tersebut ternyata selalu terjadi ketika melibatkan uang pecahan kecil (Rp. 25, Rp. 50, bahkan kadang Rp. 100).

Seingat saya hal ini telah berlangsung sejak lama, namun bedanya beberapa tahun yang lalu, kasir masih memberikan kompensasi berupa permen sebagai ganti uang kecil. Sekarang, mereka secara terang-terangan telah “mengkorupsi” uang kembalian kita tanpa kompensasi apapun, bahkan tanpa permohonan maaf!

Suatu hari Saya begitu marah atas perlakukan tersebut, namun setelah Saya renungkan kembali mengapa hal tersebut terjadi, sebenarnya kita (konsumen) juga telah ikut berperan membiasakan hal tersebut. Karena umumnya kita menganggap Rp. 25, Rp. 50, atau bahkan Rp. 100 tidaklah layak untuk diributkan. Namun kita sadari atau tidak, kita telah membudayakan suatu kebiasaan: membiarkan prilaku korupsi terjadi di depan mata kita, bahkan di depan anak-anak kita! Sehingga hal tersebut menjadi suatu suatu hal yang dipandang lumrah.

Bayangkan, ketika suatu supermarket rata-rata memiliki 1000 konsumen perhari, setiap dari mereka “merelakan” Rp. 25 rupiah uang kembalian mereka, maka dalam setahun supermarket tersebut telah memperoleh dana tambahan Rp. 9.125.000 (1000x25x365), lebih dari sembilan juta rupiah. Katakanlah ada 100 supermarket di Indonesia dengan jumlah konsumen di atas 1000 yang dipaksa merelakan Rp. 25 uang kembalian mereka, maka setiap tahun ada dana lebih dari 900 juta yang telah secara terang-terangan dikorupsi di depan mata konsumen!

Di Amerika saat ini sedang terjadi perdebatan mengenai ide untuk menarik 1 sen dollar dari peredaran dan menjadikan 5 sen dollar sebagai pecahan uang terkecil. Beberapa alasan pihak yang mendukung ditariknya 1 sen dollar dari peredaran adalah sebagai berikut: ongkos produksinya dan distribusinya yang semakin tinggi, alasan efisiensi, dan alasan keselamatan (karena koin satu sen dollar sangat kecil, bisa berbahaya bagi anak-anak). Pihak yang menentang ide di atas berargumen bahwa dengan ditariknya 1 sen dollar maka harga-harga akan menjadi lebih mahal (karena digenapkan ke harga yang lebih tinggi) dan hal ini akan sangat merugikan konsumen.

Sepengetahuan Saya*, hingga saat ini Bank Indonesia masih belum menarik peredaran uang logam pecahan kecil (bahkan untuk pecahan Rp. 1). Dengan kata lain, ke-tidakberadaan-an pecahan uang kecil di pusat-pusat perbelanjaan adalah tanpa alasan!

Uraian di atas, adalah gambaran sudut pandang Saya pribadi. Ketika Saya sampaikan hal ini pada istri, istri saya berkata, cobalah lihat dari sudut pandang lain, mungkin kita bisa melihat permasalahan ini dengan lebih baik. Kata-katanya yang mesra telah mendorong Saya melihat permasalahan ini dari sudut pandang pemilik supermarket. Mungkin mereka memang kesulitan untuk mendapatkan pecahan uang kecil, mungkin tanpa pecahan uang kecil mereka bisa melayani konsumen dengan lebih efisien (mempercepat waktu transaksi), dan mungkin mereka mencoba melindungi putra dan putri konsumen mereka dari bahaya menelan uang logam kecil. Tapi apa benar tidak ada solusi lain yang sama-sama menguntungkan?

Sebenarnya ketidakberadaan uang kecil di pusat-pusat perbelanjaan bisa diatasi dengan solusi sederhana. Kalau memang mendapatkan uang pecahan kecil sangat sulit, pusat-pusat perbelanjaan bisa membuat alat tukar khusus pengganti uang kecil, misalkan berupa kertas kecil dengan cap pusat perbelanjaan tersebut dengan nominal Rp. 25 atau Rp. 50 (jangan berupa permen) dan menginformasikan pada konsumen bahwa mereka hanya bisa menggunakan alat tukar tersebut di pusat perbelanjaan yang sama. Dengan cara ini konsumen tidak akan dirugikan dan bahkan mereka akan merasa sangat dihargai. Dan alat tukar khusus tadi bisa menarik konsumen untuk terus datang ke pusat perbelanjaan yang sama (menjadi media iklan yang lumayan efektif). Kita tidak bisa pungkiri bahwa mungkin ada sebagian konsumen yang benar-benar tidak membutuhkan uang kecil, oleh karena itu akan lebih baik jika di sebelah kasir juga disediakan sebuah kotak khusus. Bagi konsumen yang tidak membutuhkan pecahan uang kecil, mereka bisa memasukkan kertas pengganti uang kecil tadi dalam kotak tersebut, dan dalam jangka waktu tertentu pemilik supermarket bisa membuka kotak tersebut dan menyumbangkan uang yang terkumpul untuk kepentingan sosial. Bayangkan, jika benar-benar ada dana lebih dari 900 juta rupiah yang bisa terkumpul setiap tahunnya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk ikut serta memajukan bangsa ini.

Hal di atas mungkin hanya merupakan gambaran kecil, betapa banyak hal yang sebenarnya mampu kita perbaiki dan mungkin memberikan dampak yang besar. Tapi kita harus memulainya segera, salah satunya dengan mulai menuntut Rp. 25 uang kembalian kita, setiap kali kita berbelanja!

(* Saya tidak melakukan riset lebih mendalam mengenai peredaran uang pecahan kecil, sehingga claim tersebut di atas sebagian besar hanya berdasar pemikiran pribadi dan sebaiknya tidak dilangsung diterima tanpa dikaji lebih lanjut)