07 Desember 2007

Tak terasa sudah 2 minggu kami di Indonesia. Banyak pelajaran dan hikmah yang kami dapat, banyak bahagia dan tawa yang kami rengkuh, dan semakin dekat waktu kembali, semakin berat rasa dalam hati. Satu pelajaran penting yang kami dapat adalah untuk terus belajar ikhlas kepada Allah dan percaya bahwa apa yang terjadi pada kita adalah yang terbaik untuk kita. Sejak saat ini, tidak ada lagi kalimat “bersiap untuk keadaan terburuk”, melainkan “senantiasa siap untuk menerima yang terbaik” karena semua yang kita dapat, Insya Allah adalah yang terbaik untuk kita.

 

  • Gedung Baru. Setelah sekian lama, akhirnya almamater tercinta (Statistika UNPAD) punya gedung sendiri. Lumayan mentereng, walau belum selesai 100%. Ketika melirik ruangan dosen, ada satu ruangan kecil, tanpa jendela, sebelah tempat sholat, bertuliskan: EKO NUGROHO. Alhamdulillah, ternyata telah disediakan tempat kerja, sepertinya sengaja diberikan tempat tanpa jendela supaya bisa konsentrasi bekerja, dan didekatkan dengan tempat sholat supaya tidak ada alasan lupa sholat. (Jujur – pas pertama sempet coba cari-cari tempat lain yang lebih terang) (Mr. Nugroho)
  • Restauran Sambara. Setelah sekian lama, akhirnya kami berkesempatan makan malam bersama dua orang guru kami berserta keluarganya. Alhamdulillah, kami bisa sedikit menunjukkan terima kasih kami atas segala bimbingan, bantuan, dan dorongan yang senantiasa mereka berikan kepada kami. Sekaligus kami juga memohon doa restu mereka, agar segala usaha kami bisa mencapai hasil maksimal. Dengan menu khas makanan sunda, suasana restauran yang sangat mendukung, makan malam waktu itu menjadi sangat berkesan. (Kel. Nugroho)
  • Medical Check-Up. Entah suasana rumah sakit, entah kostum dokternya, entah tempat parkirnya, apapun itu, sepertinya sampai kapanpun gak akan bisa dengan tenang dan senyum mengembang datang ke rumah sakit, apalagi untuk ditusuk jarum suntikūüė¶ Dua hari berturut-turut mesti datang ke rumah sakit, di hari kedua, muncul hasil yang lumayan bikin terkejut – tekanan darah 140/100! Dokter yang memeriksa bahkan sampai menganjurkan agar Saya menemui dokter spesialis, karena untuk seseorang yang baru berumur 27 th, tekanan darah tersebut terlalu tinggi. Berbekal keyakinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh gulai kambing, sate kambing, sop kambing, nasi goreng kambing, dan tongseng kambing yang jadi menu favorit selama satu minggu terakhir Saya mohon ada pemeriksaan ulang. Setelah istirahat 1 jam, akhirnya tekanan darahnya bisa turun ke batas normal 130/90… Alhamdulillah. (Mr. Nugroho)
  • Ubi rebus on Sky Cafe. Menikmati ubi rebus memang lebih nikmat di tempat yang tinggi, diselimuti hawa dingin, ditemani secangkir kopi, dan diiringi obrolan sana-sini. Alhamdulillah, dapet kesempatan menikmati semua itu, di lantai 24 gedung 2 BPPT Jakarta. Diterima dengan hangat oleh tuan rumah, Bapak Kusmayanto Kadiman, dan berkesempatan bertemu langsung dengan teman2 dari Netsains membuat suasana sore itu sangat menyenangkan. Walaupun sempat sangat berharap bahwa ubi rebus menjelma menjadi nasi goreng atau minimal mie rebus (soalnya cuma sempat sarapan bubur jam 07 pagi). (Mr. Nugroho)
  • Lien Auliya Rachmach. Kamis minggu ini kami mendapat kehormatan bertemu salah seorang penulis muda paling berbakat yang pernah kami kenal. Bukunya yang berjudul: Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah, telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi kami. Kata-katanya begitu indah, puisi-puisinya begitu menggugah, dan berbagai hal di dalamnya penuh dengan hikmah. Terima kasih Lien, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan limpahan rahmat untuk Lien. (Kel. Nugroho)