Suamiku bilang, agar mudah dikenal dan diingat oleh orang2 di sekeliling kita, kita harus bisa menanamkan image (kesan) diri kita pada orang-orang tersebut. Walaupun sangat subjektif, umumnya kita bisa menklasifikasikan image menjadi dua: the good image (kesan yang baik) ataupun the bad image (kesan yang kurang baik). The bad image umumnya lebih mudah ditanamkan, karena biasanya orang lebih mudah mengingat keburukan seseorang dibanding dengan kebaikannya. Tetapi orang yang bisa menanamkan good image tentunya lebih banyak diburu, contohnya ketika kita masih kuliah, teman yang mempunyai image paling rajin pasti diburu oleh teman-temannya, terutama ketika waktu ujian, semuanya selalu ingin duduk disebelahnya🙂

 

Selain dari dua klasifikasi image tersebut di atas, kita bisa memilih untuk menanamkan image unik. Image unik ini bergantung dari sisi mana seseorang melihatnya, bisa dianggap sebagai image baik atau seseorang bisa menilainya sebagai image yang kurang baik. Contohnya, image tukang minta makan (seperti suami saya). Ada sebagian orang yang menganggap kurang baik, ih gak punya modal, kerjaannya hanya cuma minta makan saja. Tetapi ketika mereka mencoba melihatnya dari sisi lain, umumnya mereka juga mengakui bahwa hal tersebut cukup efektif untuk mempererat tali silaturahmi (asal jangan sehari 3 kali tentunya) dan membuka kesempatan untuk sedikit beramal (memberi makan orang yang selalu laper🙂

 

Ada satu pengalaman pribadi berkaitan dengan image ini. Tidak sengaja saya sering bilang ‘terlalu mahal’ pada segala barang-barang ketika saya dan teman saya sedang berbelanja, maklum tidak terbiasa melihat harga-harga di sini (karena selalu saya hitung dalam Rupiah). Kalau masih bisa mendapatkan harga yang murah dan masih layak, saya lebih suka membeli barang-barang di pasar murah (flohmark) dibanding di toko. Kemudian untuk buku, kalau hanya dipakai untuk jangka waktu yang pendek, saya lebih suka untuk memfotokopi daripada membeli dengan harga yang cukup mahal, dengan kata lain Saya selalu mencoba untuk bisa se-efesien mungkin dalam membelanjakan uang yang ada. Karena terlalu sering mengatakan ‘terlalu mahal’, secara tidak langsung saya telah menanamkan image ‘tidak punya uang’. Dan suatu ketika, salah satu teman baik saya memberikan hadiah pada saya berupa uang yang jumlahnya tidak sedikit (diberikan pada Saya dalam amplop). Otomatis saya terkejut, karena sebetulnya saya tidak memerlukan uang tersebut.

 

Setelah berpikir kenapa hal tersebut terjadi, ternyata karena saya telah menanamkan image yang salah. Tetapi dibalik itu semua saya pun menjadi mengerti, image apa pun yang kita tanamkan baik secara sengaja atau tidak sengaja, Insya Allah teman yang baik akan selalu mengerti dan selalu ada untuk kita. Jadi jangan takut dalam memilih image selama image yang kita tanamkan adalah gambaran yang sebenarnya tentang diri kita, Insya Allah kita akan memperoleh kebaikan darinya. So…be confident, be your self, and be responsible!