Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar kata insentif. Dalam keseharian kita intensif ini bisa berupa banyak hal. Buat yang sudah bekerja umumnya kita langsung menterjemahkan kata tersebut sebagai “bonus” (Remunerative incentives), sedangkan buat yang lain mungkin bisa berupa pujian, perasaan bangga, dan kekaguman (Moral incentives). Sebagai contoh, saya sering mendapat insentif dari istri saya berupa makan malam hangat, jika saya bisa pulang tidak terlalu malam. Saya juga sering mendapat insentif kalau saya bersedia menjadi ahli pijat. Masih banyak contoh-contoh lainnya dan kita sadari atau tidak, lingkungan di sekeliling kita, keluarga, masyarakat, juga ajaran agama menerapkan berbagai sistem insentif untuk memotivasi kita. Bahkan belakangan ini isu mengenai insentif telah menjadi topik utama dalam berbagai riset dan pemberitaan. Contoh paling baru adalah salah satu artikel The Times pada tanggal 23 November kemarin yang membahas tentang diberlakukannya, untuk pertama kali, sistem insentif (Remunerative incentive) di lingkungan Vatikan. Dari sedikit uraian di atas, muncul pertanyaan: Sebenarnya kenapa sih insentif ini diperlukan?

Fungsi dari insentif adalah untuk memotivasi seseorang agar mau melakukan suatu hal yang diinginkan oleh si pemberi insentif. Dengan kata lain, pada dasarnya kita memang mahluk yang kurang motivasi, terutama untuk melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain. Jujur saja, bahkan untuk hal-hal kecil yang notabenya untuk kepentingan sendiri, seperti bangun pagi-pagi, Saya masih butuh insentif dari istri tercinta. “Insentif pagi” ini biasanya bisa berupa kata mesra, ciuman, tarik selimut, atau cuci piring dengan ribut, tergantung mood (mohon diperhatikan betapa puitisnya kalimat terakhir – mut-but -mood).

Saya tidak bisa men-general-isir bahwa semua orang butuh insentif untuk melakukan sesuatu, tapi tampaknya sedikit sekali orang yang akan menolak insentif yang efektif, apapun bentuknya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau kita belajar memberi insentif dengan efektif. Lalu bagaimanakah insentif yang efektif itu?

Insentif yang efektif minimal memenuhi 2 karakteristik berikut:

  1. menarik, dan siapun yang diberi insentif ini akan termotivasi untuk melakukan hal yang diminta
  2. menguntungkan, artinya pemberian insentif ini akan mendatangkan keuntungan, baik bagi si pemberi insentif maupun bagi orang yang diberi insentif.

Adalah hal yang tidak mudah untuk bisa menyediakan/menawarkan insentif yang efektif. Salah seorang yang Saya kenal sangat ahli dalam hal ini adalah ibu dan istri tercinta. Setiap senyum mereka, masakan mereka, dan kenyamanan untuk berada di dekat mereka, adalah insentif yang sangat efektif, dan untuk itu semua, bukan hanya sekali Saya sebrangi lautan luas di bumi ini.