Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

gak lama lagi…

Dug,dug,dug…

begitu setiap malem si “utun” tersayang nendang2. Gak cuma malem, setiap pit lagi nulis depan komputer, pasti dia aktif sekali. Entahlah, lagi jungkir balik dengan heboh mungkin ya? sepertinya dia ingin nulis juga, hehehe…

pit dan yhan manggilnya “utun”. kata bibi, itu bisa jadi panggilan yang unisex. berhubung kami tidak mau terlalu tahu soal jenis manusia apakah yang akan lahir ini (perempuan atau laki-laki), jadi kami memanggilnya Utun aja. sebenernya bisa aja di panggil “iyang”, tapi… sayang ah, itu kan panggilan keramat ibunya! masa samaan…

Laki perempuan, sama saja yang penting konsisten, kalo laki jadi laki yang baik, kalo perempuan jadi perempuan yang baik :) hehehe…

Utun diprediksi lahir awal agustus, sekarang sudah masuk minggu ke 28. Normalnya minggu ke 38-42 bayi lahir. jadi kemungkinan minggu pertama agustus utun memperkenalkan dirinya pada kita semua. Semoga semua lancar, mohon doanya terus… doakan juga biar utun lahir sebagai anak yang sehat, sehat, sehat, berbudi luhur, pandai dan ganteng atau cantik! hehehe….

setiap malam sebelum tidur, pit ajak utun berdoa, buat papanya yang sedang bekerja keras demi anak istri di rantau jakarta (mirip cerita di film2 indonesia jaman 70an ya?;p), juga berdoa untuk kakek neneknya, untuk om dan bibinya, untuk semua orang yang menunggu utun lahir. Pit juga selalu bilang, bahwa banyak sekali yang menantikan utun lahir, dan (semoga) banyak juga yang berbahgia dalam penantian itu. Semoga dengan begitu, utun bisa lahir ke bumi tanpa ragu-ragu dan penuh semangat! :) doakan kami yah….!!

Filed under: tulisan iyang

Pulang


sebenernya ini tulisan yang saya tulis tahun lalu di blog, sepertinya cocok juga kalo ditaro di sini :)

setiap orang punya makna sendiri tentang “pulang”

Buat saya, pulang adalah salah satu hal yang paling saya sukai di dunia ini.
Pulang itu seperti mengisi kembali kekuatan diri.
entahlah, bagi saya pada setiap sudut di rumah tersimpan kekuatan yang luar biasa.
di rumah ada Ibu, Bapak dan Adik saya. Semuanya memancarkan aura yang begitu saya rindukan setiap kali saya jauh dari rumah. Aura yang selalu memanggil saya untuk pulang saat jiwa sudah terasa sangat letih.

Rumah saya sangat sederhana, tapi disanalah saya tumbuh. selama bertahun-tahun menjalani dinamika kehidupan, menghadapi fase demi fase pertumbuhan jiwa dan raga. disanalah segala pelajaran hidup saya simpan. dalam bentuk kenangan yang tidak ternilai dengan apapun.

saya selalu pulang setiap kali saya “letih” akan kehidupan ini. mengambil kembali serpihan kenangan tentang massa lalu yang kemudian mampu membangkitkan semangat saya kembali. setiap pulang, semuaya terasa lebih berarti. semakin menyadari kehidupan ini. semakin menyadari betapa berharganya sebuah keluarga dan arti sebuah “rumah”.

yang paling membahagiakan adalah bahwa saya selalu dinanti. maka ketika sampai di depan pintu rumah, seketika aura itu merasuk, menyegarkan segenap jiwa yang sedang letih. hanya senyuman yang bertebaran di rumah itu. di hujani kebahagiaan yang tak terbatas.

ada semacam “ritual” yang sering saya lakukan di rumah. naik ke tempat tidur bapak dan ibu. dulu, saat kami bertiga (saya, kakak dan adik) masih bersama di rumah, setiap pagi saat baru bangun tidur kita akan merambah tempat tidur bapak ibu, bertiga saling bergelut, memecah pagi dengan tawa yang kencang. dengan itu kami mengawali hari penuh semangat.
rindu sekali…

saat ini jika saya di rumah, saya hanya bisa berdua main di tempat tidur Bapak. Kakak saya kadang2 ikut kalo sedang pulang ke Indonesia. rasanya momen itu menjadi berharga sekali saat ini. Kamar bapak ibu, tempat tidur tua itu, beserta bantalnya yang banyak sekali adalah media yang mengirim semangat dan kebahagiaan terbesar bagi kami. kami tahu, bukan semata karena benda-benda itu, tapi karena di kamar itulah kami disayangi dengan luar biasa oleh kedua orang tua kami. di doakan dalam setiap sholatnya, dirindukan di setiap saat. dan saya sangat bersyukur memiliki semua itu.

Rumah itu seperti stasiun raksasa. pusat dari berbagai koneksi. saya di luar kota, kakak saya di luar negri akan tetap terhubung dengan erat oleh rumah. maka kita akan selalu merindukan pulang. ketika dunia luas senantiasa menantang kita dengan banyak sekali keinginan dan target pencapaian, maka rumah adalah sumber energi sekaligus tempat menghela nafas.

bagi saya rumah adalah tempat terindah.
kekuatan di setiap sudutnya adalah buah dari setiap doa yang mengucur tanpa henti dari kedua orang tua saya. benang panjang nan kuat yang selalu terkoneksi antara para anak yang merantau dengan rumahnya adalah juga doa yang saling dipanjatkan. doa yang selalu saya minta setiap saat, Ya Rabb… berkahi setiap sudut rumah hamba, berkahi jiwa-jiwa didalamnya…

Semoga 3 anak ini bisa bergelut lagi di atas tempat tidur itu… Eko, pipit, fauzi.
Teriakan ibu akan melengkapi kebahagiaan kami di pagi itu, “Sudah… ayo mandi…!”
Teriakan penuh kasih yang sampai ke langit, dibalas oleh suara tawa kami yang riang, “hahaha…!”
suara-suara yang akan terus tersimpan di langit sampai kini, hingga kami merasa selalu bisa mendengarnya setiap saat. merindukannya… merindukan pulang…

11 Desember 2007,
sehari sebelum ulang tahun ibu.
besok saya akan pulang, insya Allah…

Filed under: tulisan iyang

satu tahun yhan dan pipit

Bila lautan kehidupan itu seluas jagat raya,

Maka jarak yang kami arungi baru sejengkal

Bila seluruh air samudra adalah rasa dari rumah tangga

Maka kami baru mencicipinya setetes saja

Namun bila boleh kami menyampaikan

sejengkal pengarungan dan setetes rasa kehidupan pernikahan kami

Ingin kami tuturkan,

Indah… indah sekali…

Kami tersadar betapa tak terkatakan keagungan Allah

Ia ciptakan kekasih, karena Ia tahu kita amat membutuhkannya

Perlahan, pelan… kami bangun sedikit demi sedikit kekuatan baru

Berdua, kelak bertiga, mungkin berempat dan lebih banyak lagi

Kami bangun semangat di hati kami, menatap masa depan

Dengan penuh kebahagiaan dan keyakinan

Karena kami tahu, kami tidak pernah lagi kekurangan cinta

Cinta yang mampu saling menguatkan

Cinta yang mampu menghalau kelelahan

Cinta yang membesarkan cinta kami pada sang Pencipta cinta

Kami tahu kedepan tidak akan lebih mudah,

Tapi kami juga tahu bahwa Insya Allah kami mampu untuk lebih kuat

Bertualang mengarungi jagat kehidupan

Merasakan seluruh pahit manis pernikahan

Dan kelak membuat anak cucu kami tersenyum bahagia

Melihat kami mesra, sampai tua…

Terima kasih tak terhingga, sungguh terima kasih…

Atas doa, nasihat dan dorongan bagi kami

Untuk membuat kami percaya

Bahwa rumah tangga sakinah penuh barakah adalah keindahan tiada tara…

Allah sajalah yang membalas semua kebaikan

Dengan nikmatNya yang tak terhingga…

Pipit&Yhan

4 Mei 2007 – 4 Mei 2008

Berikut ini adalah khutbah nikah yang disampaikan ust. Aan Anshori pada akad pernikahan pipit dan yhan, juga pada akad nikah mas eko dan mba kanty. Semoga bisa mengingatkan kita semua tentang kebahagiaan terbesar saat dipersatukan Allah dalam tali pernikahan.

Memelihara Perjanjian Suci

Nasihat Perkawinan pada Akad Nikah
Yhanuar Ismail Purbokusumo dengan Fitriah Dwiastuti
Masjid Baiturrahman, Perumnas Adiarsa Karawang
4 Mei 2007

oleh : H. Aan Anshori


Bismillahirrahmanirrahiim…

Assalamu´alaikum warrahmatullohi wabaarakatuuh.

Innalhamdulillhi nahmaduhu wa nasta`iinuhu wa nastaghfiruhu wa nauudzubillahi min syuruuri anfusina wa sayyi´aati ´amaalinaa man yahdillahu falaa mudhillalahu wa manyudhlil falaa haadiyalah.
Asyhadu an Laa Ilaaha Ilallah wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ´abduhu wa rasuluhu. Allahumma sholli wasallim ´ala Muhammadin wa ´ala alihi wa ashhaa bihi wa man tabi´ahum bi´ihsaanin ila yaumiddiin.

Ananda calon kedua mempelai yang berbahagia,
Allah ciptakan bumi dengan segala yang ada diatasnya, samudra luas, bukit tinggi, rimba belantara, untuk kebahagiaan manusia. Allah edarkan matahari, bulan dan bintang, turunkan hujan, tumbuhkan pepohonan dan sinari tanaman untuk kebahagiaan manusia.


Tetapi Allah Yang Maha Tahu memberikan lebih dari itu. Dia tahu betapa sering kita perlukan seseorang yang mau mendengarkan bukan saja kata yang diucapkan tetapi juga jeritan hati yang tidak terungkapkan. Yang mau menerima segala penasaran, tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih.
Karena itu Dia ciptakan kekasih.

Allah tahu disaat kita dilanda duka, frustasi jiwa, gelisah hati, kita perlukan seseorang yang meniupkan kedamaian, memperkuat hati, tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih.
Karena itu Dia ciptakan seorang kekasih.

Allah tahu kadang-kadang kita berdiri sendirian dalam mengejar impian. Kita membutuhkan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita, tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih.
Karena itu Dia ciptakan seorang kekasih.

Supaya hubungan diantara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta dan kasih sayang, Allah menetapkan suatu ikatan suci aqad nikah. Dengan dua kalimat yang sederhana –ijab dan qobul- terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Dan nafsu berubah menjadi cinta dan kasih sayang

Ananda Fitriah dan Yhanuar,
Begitu besarnya perubahan ini, sehingga Alquran menyebut aqad nikah sebagai “mitsaqan ghalizha“ (perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut dalam alquran. Pertama ketika Allah membuat perjanjian dengan para Nabi –dengan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad- (33:7). Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (4:154), dan ketiga, ketika Allah menyatakan hubungan pernikahan.


Karena itu, peristiwa yang sebentar lagi akan terjadi bukanlah peristiwa kecil di hadapan Allah SWT. Aqad nikah yang akan dilakukan ananda berdua sama tingginya dengan perjanjian para Rasul, sama dasyatnya dengan perjanjian Bani Iasrail di bawah bukit Thur yang bergantung di atas mereka.

Peristiwa aqad nikah tidakhanya disaksikan oleh kedua orang tua ananda, saudara-saudara dan para sahabat, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama disaksikan oleh Allah, Penguasa alam semesta.

Bila anda sia-siakan perjanjian ini, bila ananda ceraikan ikatan yang sudah terbuhul, bila ananda putuskan janji yang sudah terpatri, ananda bukan saja harus bertanggung jawab kepada mereka yang hadir saat ini, ananda juga harus bertanggung jawab di hadapan Allah Rabbul ´Alamin.

Rasulullah bersabda, “Laki-laki itu pemimpin di tengah-tengah keluarganya dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin di rumah suaminya dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.“ (HR.Bukhori dan Muslim)

Karena itu Rasulullah mengukur baik dan buruknya seseorang dari caranya dia memperlakukan keluarganya. Rasulullah bersabda, “Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluargamu.“

Ananda yang berbahagia,

Mengapa Allah dan Rasul-Nya mewasiatkan kita untuk memelihara aqad yang suci ini? mengapa kebaikan manusia diukur dari caranya memperlakuakn keluarga? Mengapa suami dan istri harus mempertanggungjawabkan peran ynag mereka laksanakan di hadapan Allah? Jawabannya sederhana: karena Allah tahu bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat bergantung pada hubungan mereka dnegan orang-orang yang mereka cintai, dengan keluarganya.

Bila di dunia ini ada syurga, syurga itu ialah pernikahan yang berbahagia. Tetapi bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Oleh karena itu, persoalan rumah tangga sebagai penyebab “stress” yang paling besar dalam kehidupan manusia.

Ribuan tahun yang silam di padang Arofah, dihadapan ratusan ribu umat islam yang pertama, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah perpisahan. “Wahai manusia, takutlah pada Allah, pada urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanah Allah. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah. Sesungguhnya kamu punya hak terhadap istrimu dan istrimupun mempunyai hak atas kamu. Ketahuilah, aku wasiatkan pada kalian untuk berbuat baik pada istri kalian jika mereka (istri) patuh kepadamu. Janganlah kamu berbuat aniaya pada mereka.” (HR. Muslim dan Tarmidzi)

Bapak dan Ibu Sawidjan B Gunadi,
Ijinkan saya menyampaikan nasihat yang pertama kepada saudara mempelai pria yang kini harus memikul wasiat Nabi dalam Haji Wada.

Pagi ini dengan nikmat dan hidayah Allah SWT, ananda Yhanuar Ismail Purbokusumo sampai pada saat paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan ananda. Saat paling indah, sebab mulai pagi ini cinta tidak lagi berbentuk impian dan khayalan. Saat yang paling bahagia sebab akhirnya ananda berhasil mendampingi wanita yang ananda cintai. Saat yang paling mendebarkan, sebab mulai pagi ini ananda memikul amanan Allah sebagai pemimpin keluarga. Ananda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah buat ananda untuk bebagi suka dan duka.


Karena itu, wanita yang duduk di sisimu bukanlah segumpal daging yang dapat anda perbuat semena-mena dan bukan pula budak belia ynag dapat anda perlakuakan sewenang-wenang. Ia adalah wanita yang dianugrahkan Allah untuk membuat hidup anda lebih indah dan lebih bermakna. Ia adalah amanat Allah yang akan anda pertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Nabi Muhammad bersabda, “Ada dua dosa yang akan Aalah dahulukan siksanya di dunia ini yaitu Al-baghyu dan durhaka pada Ibu Bapak.” (HR. Tarmidzi dan Bukhari)

Albahgyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat dzalim danmenganiaya orang lain. Dan Albaghyu yang paling dimurkai Allah ialah berbuat dzalim terhadap istri sendiri. Termasuk albaghyu adalah menelantarkan istri, menyakiti, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya. Karena itu Rasulullah mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dari caranya ia bergaul dengan istrinya. Rasul bersabda, “Tidak memuliakan wanita, kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

Kalau saya harsu menyimpulkan nasihat saya kepada ananda Yhanuar Ismail, saya hanya ingin mengatakan, muliakan istri ananda begitu rupa sehingga kelak bila Allah mentakdirkan ananda meninggal lebih dahulu, lalu kami tanya istri ananda tentang perilaku ananda, ia akan menjawab seperti Aisyah: “Ah,… semua tingkah lakunya indah, menakjubkan…”

Bapak Ahmad Sunarko beserta Ibu,
Perkenankan saya sekarang untuk menyampaikan wasiat Rasulullah SAW pada putri Bapak sebagai mempelai wanita.


Ananda Fitriah Dwiastuti, rasul yang mulia bersabda, “ Seandainya aku boleh memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, aku akan perintahkan istri untuk sujud pada suaminya; karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah atas mereka.” (HR. Abu Daud. Al-Hakim)

Banyak istri menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. jarang terpikirkan bagaimana ia berusaha membahagiakan suami. Cinta dan kasih sayang tumbuh dalam suasana “memberi”, bukan “mengambil”, “giving” bukan “taking”. Cinta adalah “sharing” –saling berbagi. Ananda tidak akan memperoleh cinta kalau yang ananda tebar kebencian. Ananda tidak akan memetik kasih sayang, kalau yang anda tanam kemarahan. Ananda tidak akan meraih ketenangan bila yang ananda suburkan dendam dan kekecewaan.

Ananda boleh memberikan apa saja yang ananda miliki, tetapi untuk suami, tidak ada pemberian istri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi kesenangan dan penderitaan. Artinya bahagia sama dinikmati, derita sama diatasi.

Rasul yang mulia bersabda bahwa syurga terletak di bawah telapak kaki kaum ibu. Apakah rumah tangga yang ananda bangun hari ini akan menjadi syurga atau neraka bergantung pada ananda, pada ibu rumah tangga. Rumah tangga menjadi syurga bila disitu ananda hiaskan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

Ananda Fitriah, istri itu hurufnya ada lima. I-iman, S-shaleh, T-taat, R-ridho, I-ihklas. Kalau rumah tangga dikelola oleh istri yang beriman, sholeh, taat, ridho dan ikhlas, Insya Allah rumah tangga akan mawaddah wa rahmah.

Mudah-mudahan rumah tangga hidep sing pikabetaheun, ulah pikanyaaheun. Bral hidep! Geura ngambah ngojayan sagara rumah tangga. Ibu jeung Apa baris nyerangkeun ti basisir asih bari dimomotan ku do´a. Amin ya Robbal´alamin.
(Mudah-mudahan rumah tangga kalian saling mengasihi bukan dikasihani. Pergilah kalian! Segera merambah mengarungi samudra rumah tangga. Ibu dan Bapak memperhatikan dari jauh dengan penuh kasih sambil menghaturkan doa selalu. Amin ya Robbal´alamin)

Marilah kita antarkan kedua mempelai pada kehidupan mereka yang baru. Kepada mereka berdua, ingin kita amanatkan firman Allah, “Berbekalah kalian, sesungguhnya bekal yang paling baik ialah taqwa.” (Al-Baqarah : 197)

Marilah kita berdoa untuk mereka,
Ya Allah, pagi ini dua hambaMu, Fitriah Dwiastuti dan Yhanuar Ismail yang dhoif mematri janji dihadapan kebesaranMu. Kami tahu tidak mudah bagi mereka untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridho dan maghfirohMu. Kami tahu amat berat bagi mereka menghadapai topan godaan di hadapan mereka. Karena itulah,kami datang memohon rahman dan rohiim-Mu.

Ya Allah, ya Rabbana, sinarilah hati mereka dengan cahaya petunjuk-Mu. Terangi jalan mereka dengan sinar taufikMu. Kalau Engkau berkenan menganugerahkan nikmatMu atas mereka, bantulah mereka untuk banyak berdzikir dan bersyukur atas nikmatMu. Hindarkan mereka dari kealfaan orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan mereka untuk merasakan curahan rahmatMu. Bimbinglah mereka untuk membagikan anugrahMu kepada hamba-hambaMu.

Bila engkau berkenan memberikan ujian pada mereka, berilah pada mereka keteguhan hati dan kesabaran.Lalu bangunkan mereka di tengah keheningan malam, gerakkan bibir-bibir mereka untuk menyebut nama-namaMu yang suci. Basahkan sajadah mereka dengan air mata kekhusyuan ketika merintih dihadapanMu memohon Rahman dan RohiimMu. Dan jadikanlah saat-saat seperti itu saat yang paling menenteramkan hati mereka.

Ya Allah, mereka telah berniat untuk melaksanakan amanatMu dengan seluruh kemampuan mereka. Cintakan iman pada mereka dan hiaskan iman itu pada jantung mereka. Bencikan mereka pada kekufuran, kefasikkan dan kemaksiatan. Jadikan mereka diantara orang-orang yang mendapat hidayahMu.

Ya Allah, indahkan rumah mereka dengan kalimat-kalimatMu yang suci. Suburkan mereka dengan keturunan yang membesarkan asmaMu. Penuhi hidup mereka dnegan amal sholeh yang Kau ridhoi. Jadikan mereka Ya Allah, teladan yang indah bagi seluruh keluarganya.

Ya Allah, damaikanlah pertengkaran dia antara kami, pertalikan hati kami dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkanlah kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, berkatilah pandangan kami, penglihatan kami, hati kami. Dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pengasih.

“Baarakallahu laka wabaaraka ´alaika wajama´a baarakumaa fii khair.“

Wassalamu´alaikum warahmatullohi wabaarakatuuh.

Filed under: tulisan iyang

Teh, Kopi, dan Kue Tambang

Tanpa disadari, beberapa minggu belakangan ini ada ritual rutin yang menjadi kegiatan pagi. Jam 6 di beranda rumah, menikmati koran pagi bergantian dengan mbah Gun. Saya di temani teh melati manis yang masih mengepul tebal asapnya, dan Mbah Gun kopi hitam pekat yang di seduh air mendidih. Kadang di temani singkong goreng atau pisang goreng, kalau tidak ada, roti selai juga jadi. Kalo gak ada juga, biskuit roma atau biskuit kelapa. Dan pagi ini, dengan kue tambang.

Sudah lama sekali tidak makan kue tambang, di warung-warung kampung pasti selalu dijual. Dulu di rumah Aki di purwakarta juga Uwa Eem atau Bi Atit sering bikin. Kue tambang pagi ini adalah kiriman Bulek Pur dari Depok kemarin. Walau bukan buatan sendiri, tapi enak juga. Pagi yang agak mendung, teh panas yang harum, plus kopi dan koran baru. Alhamdulillah, nikmat…

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, ritual pagi ini diselingi oleh obrolan ringan yang kadang penting kadang tidak. Campur aduk bahasa jawa Mbah Gun dan bahasa jawa saya yang sok-sokan menyesuaikan (logatnya doang!). Pagi ini karena tanggal merah, saya agak lama ngaso di beranda, setelah sebelumnya mengantar Bulek Pur sekeluarga yang pulang subuh ke Depok. Mestinya hari ini gak libur karena kantor ada acara di Agrinex (Pameran Pertanian di Jakarta) 5 hari kedepan. Tapi badan rasanya agak cape, setelah kemarin seharian keliling jakarta dan pulang agak malam (sampai rumah langsung ketiduran tanpa buka baju kerja). Mungkin akan sedikit telat ngantor, atau bolos aja sekalian (hehehe…), pengen beres-beres rumah juga karena minggu depan Putri dan Robin (adek ipar) pulang dari Jepang.

Bulek Pur sekeluarga pulang, rumah kembali sepi. Seperti hari-hari sebelumnya, cuma ada Saya, Mbah Gun dan Mba Olis. Kadang berdua doang dengan Mbah Gun karena mba olis pulang. Maka ritualpun dijalankan…dengan menu breakfast “Kue Tambang” pagi ini.

Obrolan dibuka dengan membicarakan sariwan mbah yang belum pulih benar, padahal sudah di kasih Abotil dan Vit C. Tapi tidak mengurangi mbah bercerita banyak seperti hari-hari sebelumnya. Obrolanpun tidak terganggu oleh sariawan. Mungkin Kopi pekat itu teramat nikmat buat mbah, sampai sariwannya tidak terasa. Obrolan beralih ke soal kue tambang, rupanya semua kampung di Jawa Tengah atau Sunda memang mengenal kue ini. Mbah bilang, bisa gak ya kue ini dibuat dari jagung bukan terigu? Karena mbah adalah seorang petani jagung. Saya ketawa, saya bilang, kalo jagung nanti malah jadi kripik, susah di plintir jadi tambang. Mbah akhirnya sependapat juga, walau mungkin di hati kecilnya masih ada harapan besar bahwa jagung bisa didifersifikasi pemanfaatannya menjadi aneka pangan, persis pemikiran Prof.Syarifudin Baharsyah, mantan menteri pertanian RI pelita 6 jaman Suharto, yang usinya mungkin tidak jauh beda dengan mbah Gun.

Membahas kampung, jagung, tanpa terencana obrolan mengalir ke soal beras. Harga beras di kampung mbah yang sangat murah. Padahal di kota mahalnya minta ampun. Beras di tempat mbah ternyata gabahnya kurang kering akibat musim hujan, jadi tidak bisa di jemur. Bulog bahkan gak mau beli. Harga jatuh untuk gabah, cuma sampai 1600 rupiah, padahal harga dasar adalah 2000. Sedih sekali, kata mbah, tapi apa boleh buat? Ketika saya tanya kenapa gak di oven? (ada semacam teknik pengeringan gabah tanpa matahari, yaitu di oven, tapi gak semua desa punya pengeringan ini). Mbah bilang repot, minimal kalo mau ngoven harus sekitar 5 ton beras dan pastinya butuh biaya tambahan. Jauh dengan matahari yang gratis. Akhirnya petani lebih memilih untuk menjual gabah basah, tanpa pengeringan, yang tentu harganya lebih murah lagi. Dilema yang sangat biasa, persoalan yang menjadi pemakluman sepanjang tahun bagi masyarakat desa. Seperti Mbah Gun, yang hanya bisa menghela nafas dan mengurut dada, petani di desa itu tumbuh dalam kebersahajaan dan kelapangan dada yang luar biasa. Mengeluhpun paling hanya sehari dua hari, selanjutnya, tandur harus dimulai kembali, walau panen nanti akan membawa nasib yang sama, tapi itulah hidup yang mereka yakini harus mereka terima apa adanya.

Obrolan bergulir lagi, tak sengaja, ke Pak Harto (Mbah Gun suka sekali topik ini). Pak Harto yang anak wong tani, yang ndeso juga. Tapi bisa menjadi penguasa yang hebat. Kekuasaan yang mematikan jutaan orang, begitu kata mbah Gun, terlepas dari kekaguman Mbah Gun pada kharisma presiden selama 32 tahun itu. Kekuasaan yang membuat lupa akan masa lalunya sebagai wong cilik, tambah mbah Gun. Terus saya bilang, justru Pak Harto begitu karena teringat terus sama masa lalunya, dia gak mau jadi wong cilik lagi, gak mau susah terus. Mbah Gun ketawa, “Gak mau susah, apa iya jadi gak susah setelah kaya raya begini?” kata Mbah Gun, toh akhirnya ketika meninggal, tak sepersenpun harta di bawa mati. Malah mungkin akan menjadi bencana bila diperebutkan dengan tidak bijak oleh anak-anaknya.

Pemikiran itulah yang rupanya menjadi pegangan hidup mbah Gun, mungkin pegangan hidup mbah-mbah lainnya di Desa, yang ditempa oleh kelapangan dada luar biasa sepanjang hidupnya. Pemikiran tentang “Toh, harta tidak dibawa mati..”.

Mbah Gun sebetulnya masih sangat beruntung, seperti Aki di Purwakarta yang punya tanah cukup banyak, dan kebun lain selain sawah yang bisa diandalkan. Bahkan Mbah Gun bisa naik haji dari hasil taninya. Tapi petani yang hanya punya 0,3 Ha tanah, bahkan hanya jadi buruh tani jauh lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang seperti Mbah Gun. Orang-orang yang mungkin tidak punya alasan yang cukup kuat untuk berfikir menumpuk harta hingga menggunung seperti Pak Harto. Bagi mereka bisa makan setiap hari adalah cukup. Mereka itu, yang mensuplai beras bagi orang-orang kota. Yang kadang bagi mereka makan beras itu sendiri adalah sesuatu yang sangat mewah… tapi toh, semua diterima dengan lapang dada, ikhlas…

Sayapun akhirnya ikut menghela nafas… cerita ini, entah sudah berapa ribu kali terdengar. Di sudut-sudut kampus IPB yang sok idealis, di jurnal-jurnal ilmiah yang bertebaran di penjuru dunia, bahkan di artikel yang saya tulis sendiri di majalah. Tapi semua tidak sedikitpun mengurangi cerita-cerita ini, hingga Februari kemarin, cerita beras murah masih santer terdengar. Belum soal barang pokok yang mahal… cerita sedih masyarakat kecil tidak pernah habis… seperti hanya menjadi bahan paper dan skripsi yang tidak pernah habis untuk diteliti, didiskusikan… seperti di sekarang ini, di pagi yang sejuk dengan teh, kopi dan kue tambang.

Satu jam berlalu… mbah beranjak, waktunya ke kebun. Kebun belakang rumah yang sedang dibangun kolam ikan sekalian panen pisang, kata Mbah. Buat mbah, cerita di pagi ini adalah biasa, toh tidak perlu menjadi larut dan sedih, mbah tetap mencintai kebun dan pekerjaannya sebagai petani. Kopi hitam dan kue tambang, cukup untuk mbah bekerja sampai dzuhur mengurus kebun.

Maka ritual pagi itu selesai. Saya sendiri, entah kenapa jadi merasa sangat kenyang dan enggan mengambil kue tambang lagi, padahal kuenya enak… Entahlah, saya merasa kalah telak oleh mbah Gun. Mbah Gun bisa menghadapi kisah yang ia menjadi pelaku utama di dalamnya dengan sangat hebat. Alih-alih merasa sedih, mbah Gun sepertinya tidak peduli sama sekali, dan tetap bersemangat ke kebun. Mbah Gun punya “cara menghadapi persoalan hidup” yang baik sekali. Sedangkan saya malah merasa campur aduk, bingung… hidup makin berat rasanya, tanggung jawab makin besar…

Sayup-sayup terdengar tukang sayur, mencelos hati ini… ah, harus belanja lagi… terbayang sayur mayur dan lauk yang semakin kurang berasahabat dengan kantong. Perasaan yang mungkin dialami oleh ratusan juta penduduk Indonesia. Tapi sedikitpun saya tidak pernah berani menawar harga sayur, memang mungkin seharusnya begitu, semoga harga mahal ini berdampak pada petani yang menanamnya (sebetulnya tidak yakin juga sih, biasanya tengkulak yang untung dalam hal ini), tapi tak apalah. Kalaupun tidak ke petani, setidaknya tidak terlalu menyakitkan bagi si mba tukang sayur, seorang janda yang harus menghidupi anak-anaknya dnegan membawa gerobak sayur super berat setiap pagi buta keliling komplek. Walau berat, rasanya tidak tega menawar sayur, apalagi jika ingat bahawa diri ini belum melakukan sesuatu yang berarti untuk mengurangi cerita sedih bangsa. Padahal saya seorang sarjana…dari IPB… Kalah telak. Pagi ini saya kalah telak sekali.

Semoga Tuhan berkenan memberi saya sedikit saja semangat yang dimiliki Mbah Gun dalam menghadapi hidupnya. Mungkin saya bisa merasa lebih optimis dan berarti.

 

-Pipit-

20 Maret 2008, 08.14 WIB

Filed under: tulisan iyang

Perut Buncit

Ini tentang suatu fenomena luar biasa yang sedang pipit alami. Bisa dibilang ini adalah salah satu moment paling membahagiakan dalam hidup wanita.

Genap 3 bulan, 1 minggu, hasil perhitungan dokter dan bidan untuk usia kandungan pipit. Rasanya lamaaa… sekali melewati 3 bulan ini. Mungkin karena all day sickness yang cukup menyita perasaan. Kata ibu, dokter juga bidan, mual2 dan segala rasa yang gak enak akan ilang di 3 bulan. Setiap hari menghitung kapan 3 bulan itu tiba, pas dateng, rupanya mual belum ilang. Tapi karena sudah terbiasa, jadi yaa… santai aja. Sebenernya ditambah ”sickness” baru, pusing2 ajaib yang rasanya kaya melayang ke alam mimpi. Alhamdulillah, pas kena pusing begitu selalu pas di rumah, kalo di jalan, waduh… bisa dikira orang sakau deh. Allah memang pengertian, Alhamdulillah. 3 bulan lewat tanpa sickness lewat, akhirnya diri ini memutuskan untuk tidak lagi menghitung hari. Biarlah berjalan apa adanya, mau sicknessnya ilang atau gak, 9 bulan kehamilan ini harus dihadapi dengan ketangguhan! (semangat nih!!).

Yang menarik, yang menyenangkan buat pipit adalah, memandangi perut yang kian buncit. Kalo diliat, lucu sekali. Tapi masih malu kalo dipamerin ke orang2. Selama hidup, 23 tahun ini, belum pernah sekalipun perut ini menggembung besar, paling pas masuk angin, tapi cepet kempes setelah diurut ibu. Jujur aja, pit termasuk orang yang menjunjung tinggi idealitas tubuh (ehm!). Walau gak tinggi, setidaknya berat badan harus proporsional. Alhamdulillah sepanjang hidup itu bisa terjaga. Walau kata ibu, waktu kecil pit gendut juga. Tapi itu kan dulu, belum paham, namanya juga anak2, ga gendut ga lucu! Selama hidup, arti perut buncit buat pit adalah : bapak, dede dan sekarang ditambah mas eko ;p dan sekarang ditambah lagi, calon ibu muda nan lucu ini! Terbiasa dengan kondisi langsing (ceilah! Beneran langsing loh!), kadang ada sedikit rasa..gimana gitu waktu perut ini terus membuncit. Kalo pake baju (yang rata2 ”s”), keliatan deh! tapi pipi, tangan, kaki dan yang lainnya tidak ikut membesar… jadi terlihat tidak proporsional :( (ada yang bisa bilang gmn caranya mencapai bentuk badan proporsional saat hamil?). makanya jadi suka males keluar… (hehe, selain cuaca super dingin dan kekhawatiran terkena pusing ajaib tiba2). Tapi kalo dirumah, wah, rasanya pengen selalu memandangi perut, ngelus2. Semakin besar semakin bahagia, berarti anakku sudah mau besar, hehehe… kayak apa ya sekarang?<

Well, semuanya ini membahagiakan pastinya. Namanya ibu hamil, pasti perut buncit, pasti keliatan sama orang2, sisi baiknya, pasti diduluin dapet tempat duduk di bis :) hehe..So, buat yang selalu penasaran kayak apa kalo pipit gendut, sekarang dan berbulan2 kedepanlah saatnya tau. Pastinya tidak mengurangi paras manis nan imut ini, hahaha! Kan ibu hamil itu bercahaya, dilindungi banyak malaikat, insya Allah penuh berkah :)

Buat mas dan mba kanty, kalo penasaran liat pit hamil (kalo sempet tar dikirim foto), sementara ini lihatlah perut mas eko, gak jauh bedalah… paling perut pit masih lebih gak buncit, hihihi…
Doakan sang jabang bayi sehat sampai lahir yah…

Filed under: tulisan iyang

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey

Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Gabung yuuk!

Blog Stats

  • 20,150 hits