Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

Ayang Baca Apa?

books

Dear Ayang,

ini adalahbeberapa buku yang sedang/udah aku baca minggu ini:

1. Final Theory, Mark alpert

2. Elephant on Acid, Alex Boese (menarik dan bagus)

3. Yes!: 50 Scientifically Proven Ways to Be Persuasive, Noah J. Goldstein et.al (menarik dan bagus).

4. Brisingr, Christopher Paolini (gak selese-selese, soalnya cuma dibaca waktu lagi “bertapa” pagi-pagi ).

Ayang lagi baca buku apa?

 

Love,

Eko.

 

Filed under: alhamdulillah, resensi buku, tulisan papa , , , ,

Belajar Kreatif Bagian 3

positive-thinking

Berkat bantuan Honey, akhirnya selesai juga baca buku ‘The Art of Creative Thinking’. Kali ini supaya lebih singkat, jelas dan padat, saya tidak akan menulis banyak. Hanya beberapa poin/tips yang dianggap penting untuk bisa kreatif.

1. Menyimpan ide

Untuk menjadi kreatif, kita harus mengumpulkan/melihat ide. Ide kadang datang begitu saja, tidak melihat waktu dan tempat. Bagaimana caranya supaya ide yang kita lihat/dapatkan tidak hilang begitu saja? Write it down. Sekarang ini sudah banyak media yang bisa digunakan untuk menjaga agar ide tidak terlupakan, bisa melalui cara lama, dengan selalu membawa buku kecil/kertas dan bolpen ke mana-mana atau dengan cara modern, yaitu melalui media handphone. Di handphone kita bisa menulis, merekam dan membuat foto. Asalkan kita rajin menggunakan fasilitas tersebut, ide yang kita temukan akan tersimpan dengan baik.

2. Berasumsi

Berasumsi adalah satu kegiatan dan kebiasaan orang kreatif. Kita bisa mulai dari asumsi dasar, yang kemudian dikembangkan dengan asumsi-asumsi lainnya. Dengan cara inilah kita bisa membangun ide. Membangun ide = kreatif.

3. Berfikiran positif

Kritik itu selalu ada, dan dibagi menjadi 2, kritik yang datang dari diri sendiri, atau dari orang lain. Jika kita atau orang lain mengkritisi ide kita, jangan sampai kritik ini mengarah ke negatif, berusahalah tetap berfikiran positif, supaya kita bisa lebih kreatif.

4. Menggunakan ‘pikiran dalam’

Pikiran dalam (dept mind) di sini, bisa berupa insting, bakat, intuisi. Pikiran dalam ini bisa memberikan ide kreatif, asalkan dilatih. Untuk melatih pikiran dalam kita agar  menghasilkan ide kreatif, kita harus membiasakan diri curios, belajar, membaca, menulis dan bertanya hingga semua pengetahuan yang sudah tidak muat lagi di otak sadar kita meluber ke otak bawah sadar kita.

5. Jangan menunggu

Kadang kita menunggu sampai ide itu datang sendirinya. Ini bukanlah cara kreatif, karena orang kreatif akan selalu mencoba mencari. Jadi jangan manja. Ide juga tetap harus dicari.

6. Bersyukur

Bersyukurlah ketika kita sedang bingung, lihatlah kesulitan itu dari sudut pandang positif.  Ada waktunya kita harus mengalihkan pikiran dari suatu masalah untuk bisa mendapatkan ide penyelesaiannya. Refreshing itu perlu, kemudian sabar mengerjakan kembali, mencari ide lagi, dan terakhir adalah tawakal. Apa pun hasilnya nanti, kita harus bersyukur, dengan begitu kita akan selalu mempunyai energi postif dan selalu bisa kreatif.

Selesai

Melalui buku ini, mudah-mudahan kita bisa belajar lebih banyak tentang bagaimana caranya untuk menjadi orang yang lebih kreatif.

Buat saya, dalam mempelajari buku ini selain mendapatkan ilmu untuk jadi orang kreatif ada nilai tambah lain, karena lewat buku ini, saya dan Honey bisa berdiskusi asik. Jarang-jarang khan suami istri chating berjam-jam cuma untuk belajar bareng :) . Hehe

Filed under: resensi buku , ,

Belajar Kreatif Bagian 2

curiosity

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya.

Semua yang ditulis di sini masih mengacu ke buku yang sama ‘Art of Creative Thinking’ karangan John Aidair. Pembahasan kali ini sampai dengan Bab 10 dulu, nanti ada terusannya lagi :) . Lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali, iya gakk?

Buku ini emang asik, karena banyak kata-kata mutiara yang bagus. Emang sih, ada beberapa kata-kata yang agak susah dimengerti. Tapi dari situlah kita belajar kreatif, karena hanya orang yang bisa menumbuhkan rasa ‘curios’ (ingin tau) yang bisa jadi orang kreatif. Jadi, secara tidak langsung, baca buku ini aja kita udah belajar kreatif, karena begitu ada yang gak ngerti kita musti kreatif  cari jawaban alias tanya sana-sini :) .

Ada kata-kata yang berkesan dan membuat saya juga Honey bertanya-tanya:

‘Curiosity in children is but an appetite for knowledge’, kata John Locke.

Ketika kita masih kecil, umumnya kita selalu ingin tahu segala hal, ingin mencoba segala hal. Namun, ketika kita beranjak dewasa, rasa ingin tahu kita semakin hari semakin terkikis. Mengapa?

Semakin kami dewasa, sepertinya kami menjadi semakin manja, hanya mau tahu jika dikasih tahu. Dan biasanya alasannya banyak, ingin semuanya serba instant, gak punya waktu, gak terlalu penting dan berbagai alasan lainnya.

Semakin dewasa, kami juga semakin malas untuk ‘mengamati dan menyimak’, yang sering kami lakukan adalah hanya sekedar melihat dan mendengar. Apa bedanya mengamati dengan melihat? Apa bedanya menyimak dengan mendengar? Tentu ada bedanya.

Kegiatan menyimak dan mengamati membutuhkan energi/usaha yang lebih besar dibanding sekedar melihat atau mendengar. Kalau kita mengamati dan menyimak, akan merangsang otak kita untuk berfikir. Tapi kalau hanya melihat atau mendengar, biasanya hanya selewat, sekedar tahu saja.

Menyimak juga berarti kita belajar menjadi pendengar yang baik. Dengan menjadi pendengar yang baik, akan lebih mudah untuk kita mengumpulkan ide-ide. Sebagian besar orang hanya suka jika didengarkan, padahal kata Peter Ustinov sang pengarang ternama:

‘There is no point in talking without listening,‘ .

Di Bab 10 dibahas tentang kegiatan membaca, bahwa buku adalah sumbernya ilmu, juga sumbernya ide-ide. Semakin kita sering membaca, maka akan semakin banyak ilmu dan ide-ide yang kita dapatkan yang bisa membuat kita lebih kreatif. Namun, untuk kegiatan membaca ini ada ternyata ada seninya, salah satunya:

‘Taste the contents, then select what you wish to chew and swallow. Never swallow first, for if you believe everything you read it is better not to read.’

Jadi kita harus tetap kritis dengan hal-hal yang sudah kita baca. Termasuk tulisan ini, jangan diambil mentah-mentah, silahkan ditambah atau dikritisi.

Bersambung…

Filed under: resensi buku , ,

Belajar Kreatif Bagian 1

Abis dikirim buku ama Honey judulnyaThe Art of Creative Thinking: How tobe Innovative and Develop Great Ideas karangan John Adair, tadi pagi ‘terpaksa’ deh bukunya dibaca. Baru selese 6 Bab, tapi lumayan seru dan bermanfaat buat yang ingin belajar jadi kreatif. Bukunya gak terlalu tebel kho, 129 halaman aja :) . Tiap bab berisi ide sederhana, yang dikembangkan dan dijelaskan dengan ilustrasi atau contoh jadi mudah dimengerti pembaca. Di akhir bab selalu ada rangkuman yang berupa poin-poin penting, jadi terkesan praktis, gak perlu bikin catatan lagi. Berikut Saya tulis sedikit apa yang ada di buku itu, supaya Saya gak gampang lupa.

Untuk bisa kreatif, sebetulnya gak terlalu susah. Kreatifitas bisa dimulai dengan melihat apa (ide) yang sudah ada, lalu coba untuk menggabungkan/mengkombinasikan ide tersebut hingga menjadi sesuatu yang baru. Jadi gak perlu bingung-bingung memikirkan ide yang betul-betul baru. Tinggal melihat dari ide-ide yang sudah ada, dan membuat hubungan antara ide-ide yang ada hingga akhirnya terbentuk menjadi sebuah ide baru.

Ide-ide yang ada juga bisa kita jadikan sebagai batu pijakan untuk menghasilkan suatu kreatifitas. Seperti halnya kalau kita mau menyebrang sungai, di sungai tersebut sudah ada batu-batu yang bisa dipakai untuk pijakan dari satu sisi ke sisi lainnya, maka kita pasti akan menggunakan batu-batu tersebut untuk mencapai tujuan. Kreatifitas pun begitu, lihat ide-ide yang sudah ada yang sesuai dengan keinginan, kemudian jadikan ide-ide tersebut sebagai batu pijakan, hingga akhirnya bisa menghasilkan sebuah ide baru.

Kreatifitas juga bisa muncul, ketika kita bisa melihat sesuatu yang aneh (strange) menjadi sesuatu yang biasa (familiar) atau kebalikannya, melihat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Lihat segala sesuatu yang sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Di buku dicontohkan mengenai aktifitas menggosok gigi. Cara kita menggosok gigi hari ini pasti tidak akan sama persis dengan hari kemarin. Every minute is unique. Jadi mulailah dengan melihat sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang istimewa, dengan begitu kita sudah belajar menjadi orang yang kreatif.

Ada satu hal yang mungkin bisa menjadi penghalang untuk kita berfikir kreatif, yaitu ketika kita hanya fokus kepada satu bidang ilmu saja, tanpa mempelajari ilmu lainnya. Kita harus ‘learn to unlearn‘, maksudnya belajar untuk tidak belajar hanya satu hal saja. Jika kita bisa tau banyak hal, akan mudah bagi kita untuk menjadi orang yang kreatif.

Seorang yang ingin kreatif harus selalu membuka pikirannya dan mempunyai rasa ingin tau yang besar.

I have no exceptional talents, other than a passionate curiosity. (Einstein)

Bersambung…

Mungkin temen2 punya ide lain supaya bisa lebih kreatif?

Filed under: resensi buku , , ,

Bola Lampu vs Laser

Berikut ada satu paragraf menarik dari buku: The Law Of Simplicity (John Maeda – MIT)

http://www.amazon.com/Laws-Simplicity-Design-Technology-Business/dp/0262134721

“I was once advised by my teacher Nicholas Negroponte to become a light bulb instead of a laser beam, at an age and time in my career when I was all focus. His point was that you can either brighten a single point with laser precision, or else use the same light to illuminate everything around you.” p.53

Kadang berdalih prioritas dan tanggung jawab kita sengaja memilih menjadi sinar laser yang hanya mampu menyinari beberapa titik dalam kehidupan kita: istri, anak, pekerjaan dan teman terdekat.

Tentu sulit untuk bisa memberikan yang terbaik bagi semua orang, tetapi seperti halnya cahaya dari bola lampu, bagian yang terdekat akan memperoleh intensitas cahaya lebih banyak di banding bagian lainnya. Istri dan anak akan selalu menjadi bagian terdekat dalam hati dan pikiran kita, tetapi mengapa kita tidak coba bagi sedikit berbagai hal lainnya: senyum, cerita bahagia, rejeki, tenaga, ide, ilmu, atau apa saja yang memang layak untuk dibagi ke orang lain di sekitar kita? Dengan intensitas yang berbeda (sesuai kemampuan) kita tentunya.

Begitu juga dalam proses belajar, kadang kita memilih untuk menyinari beberapa titik dalam otak dan proses belajar kita.

Sebagian dari kita yang suka sains, kadang menutup diri untuk hal lain di luar sains dan begitu pula sebaliknya. Bahkan untuk beberapa hal yang jauh lebih spesifik lagi.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Sangat sulit untuk bisa tahu semua hal dengan tingkat pengetahuan yang sama. Kita memang harus menfokuskan energi kita untuk satu atau beberapa hal yang memang kita geluti, kita senangi, dan kita nikmati. Hanya tentu akan jauh lebih baik kalo kita juga tetap membuka pikiran dan “keingin-tahuan” kita terhadap hal-hal lainnya. Biarkan cahaya ilmu menerangi seluruh bagian otak kita, tidak perlu kita batasi atau tutupi.

Satu bahasan di buku tersebut yang Saya suka adalah bahwa “simplicity need complexity” karena dengan adanya komplesitas kita menjadi tahu mana yang simple/sederhana. Dan Saya percaya hal ini berlaku untuk hal yang lebih luas dalam hidup kita. Adanya makanan yang tidak enak, membuat kita lebih mmampu menghargai dan mensyukuri makanan yang enak. Adanya lagu yang jelek, membuat kita mampu menikmati dan mensyukuri lagu yang bagus. Begitu juga dalam hal belajar dan ilmu. Saya percaya jika kita mampu senantiasa membuka pikiran kita dan terus memompa rasa ingin tahu kita untuk mempelajari banyak hal, apresiasi dan rasa syukur kita akan ilmu/pekerjaan yang sedang kita dalami/geluti akan semakin bertambah.

Eko Nugroho

PS: Untuk adik2 semua, kalian udah tahu banyak tentang facebook, ayo belajar pake twitternya :) !

Filed under: resensi buku , , ,

The Secret. Apanya?

Sabtu pagi ini kita nonton satu film dokumenter (biasanya nonton kartun cuma kebetulan lagi gak punya) judulnya the secret (bisa di akses online di sini). Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama.

Waktu nulis post ini, Ayang masih nonton (berarti filmnya lumayan menarik), bukan berarti Saya tidak suka filmnya – hanya Saya gampang bosan. Dari sisi visualisai tidak ada hal yang terlalu menarik dari film tersebut, dari sisi konten Alhamdulillah banyak, tapi menurut Saya pribadi bukan hal yang baru, semua yang disampaikan sebenarnya telah sering kita dengar disekeliling kita.

Saya adalah seorang yang skeptis terkait dengan segala hal tentang buku manajemen diri, motivasi, atau pelatihan-pelatihan sejenisnya.  Saya selalu berpandangan bahwa tidak ada yang lebih bisa mengarahkan diri kita selain Allah dan diri kita sendiri dan bahwa setiap individu adalah unik. Tentu kita butuh orang lain untuk mengingatkandan mengarahkan kita tetapi bukan berarti apa yang mereka sampaikan sepenuhnya akan sesuai untuk diri kita.  Selamanya kita harus bisa memilah mana yang baik yang kemudian bisa kita terapkan dan mana yang mungkin harus kita kesampingkan. Saya selalu coba kritis dalam setiap hal, kadang banyak orang melihat itu sebagai pembangkangan atau penolakan tetapi sebenarnya yang coba saya sampaikan adalah menampilkan segala hal dari sisi lain supaya kita benar-benar bijaksana dalam mengambil kesimpulan.

Kembali lagi ke film dokumenter yang kita lihat, saya pribadi melihatnya sebagai sebuah pengingat akan segala hal yang telah diajarkan oleh Islam, dalam konteks yang lebih sempit dan sederhana: biasakan berpikir positif dan jangan pernah lupa bersyukur.

Satu pertanyaan muncul dibenak Saya, jika nara sumber difilm tersebut hanya orang2 biasa, tukang becak yang bahagia, tukang sate yang sukses menyekolahkan anak-anaknya, atau sekedar tukang sayur yang selalu gembira, akankan kita bersedia duduk dan terus mendengarkan tuturan mereka? Atau kita selalu perlu seseorang dengan gelar, buku best seller, atau harta yang melimpah sebagai pengingat kita?

Filed under: catatan, resensi buku, tulisan papa, youtube , , ,

You Can Save The Planet

Seperti biasa, hari jum’at jadual pergi ke perpustakaan kota (Stadtbibliothek). Gak sengaja waktu lagi nyari buku cerita anak, nemu satu buku yang judulnya : You Can Save The Planet.

Bukunya kecil dan sangat sederhana. Tapi, dari buku kecil ini, banyak manfaat yang bisa diambil. Buku kecil ini, berisi 101 tips sederhana tapi cukup efektif untuk ikut serta menjaga dan menyelamatkan bumi tercinta ini. Ini beberapa tipsnya (yang berhubungan dengan hal-hal kecil di sekitar rumah):

  • Switch It Off, ternyata alat elektronik yang standby ngabisin energi yang hampir sama ketika alat elektronik itu dinyalakan (energi yang dipakai TV berwarna ketika standby = 80% ketika TV menyala). Tips ini mungkin agak susah buat diaplikasiin kalau kita terlalu dimanja dengan adanya remote control, padahal kalau alat-alat elektronik dimatiin dengan sempurna, lumayan khan kita bisa hemat energi dan hemat bayar listrik.
  • Washday Decisions, mesin cuci hanya dinyalakan kalau sudah penuh, jadi kalau perlu mencuci satu atau beberapa pakaian pakai tangan saja. Selalu menjaga pakaian agar tetap bersih, selain baju akan lebih awet karena jarang dicuci, juga menghemat air dan deterjen. Lumayan khan kalau kita jarang mencuci, tagihan listrik, air dan uang belanja berkurang.
  • Stinky Solutions, kalau ruangan di rumah kita tercium wangi yang kurang sedap, jangan gunakan pengharum ruangan, karena mangandung zat yang membuat udara terpolusi dan tidak sehat untuk badan kita. Kenapa gak buka jendela lebar-lebar dan biarkan udara segar masuk? Lagi-lagi tips ini bisa memangkas uang belanja.
  • Don’t Waste Water, air bersih sekarang aja udah kerasa susah dicari, mungkin suatu hari nanti air minum akan lebih berharga dari pada emas, jadi yaa, mau gak mau harus mulai dari sekarang untuk menghemat air. Banyak cara untuk hemat air, ini hal-hal kecil yang kadang kita lupa: mematikan kran ketika menggosok gigi -bisa menghemat 14 liter (2 galon) air-, menutup kran dengan benar dan mengganti kran yang rusak -setetes kalau terus menerus bisa jadi seember bahkan satu bak-. Kalau kita bisa hemat air, lumayan khan bisa hemat bayar tagihan air juga.

Beberapa tips memang ada hubungannya dengan berhemat. Jadi kalo pengen tau beberapa cara berhemat dan sekaligus save our planet, coba baca deh buku ini. Insya Allah bermanfaat.

Filed under: resensi buku ,

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey

Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Gabung yuuk!

Blog Stats

  • 20,429 hits