Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

gak lama lagi…

Dug,dug,dug…

begitu setiap malem si “utun” tersayang nendang2. Gak cuma malem, setiap pit lagi nulis depan komputer, pasti dia aktif sekali. Entahlah, lagi jungkir balik dengan heboh mungkin ya? sepertinya dia ingin nulis juga, hehehe…

pit dan yhan manggilnya “utun”. kata bibi, itu bisa jadi panggilan yang unisex. berhubung kami tidak mau terlalu tahu soal jenis manusia apakah yang akan lahir ini (perempuan atau laki-laki), jadi kami memanggilnya Utun aja. sebenernya bisa aja di panggil “iyang”, tapi… sayang ah, itu kan panggilan keramat ibunya! masa samaan…

Laki perempuan, sama saja yang penting konsisten, kalo laki jadi laki yang baik, kalo perempuan jadi perempuan yang baik :) hehehe…

Utun diprediksi lahir awal agustus, sekarang sudah masuk minggu ke 28. Normalnya minggu ke 38-42 bayi lahir. jadi kemungkinan minggu pertama agustus utun memperkenalkan dirinya pada kita semua. Semoga semua lancar, mohon doanya terus… doakan juga biar utun lahir sebagai anak yang sehat, sehat, sehat, berbudi luhur, pandai dan ganteng atau cantik! hehehe….

setiap malam sebelum tidur, pit ajak utun berdoa, buat papanya yang sedang bekerja keras demi anak istri di rantau jakarta (mirip cerita di film2 indonesia jaman 70an ya?;p), juga berdoa untuk kakek neneknya, untuk om dan bibinya, untuk semua orang yang menunggu utun lahir. Pit juga selalu bilang, bahwa banyak sekali yang menantikan utun lahir, dan (semoga) banyak juga yang berbahgia dalam penantian itu. Semoga dengan begitu, utun bisa lahir ke bumi tanpa ragu-ragu dan penuh semangat! :) doakan kami yah….!!

Filed under: tulisan iyang

Pulang


sebenernya ini tulisan yang saya tulis tahun lalu di blog, sepertinya cocok juga kalo ditaro di sini :)

setiap orang punya makna sendiri tentang “pulang”

Buat saya, pulang adalah salah satu hal yang paling saya sukai di dunia ini.
Pulang itu seperti mengisi kembali kekuatan diri.
entahlah, bagi saya pada setiap sudut di rumah tersimpan kekuatan yang luar biasa.
di rumah ada Ibu, Bapak dan Adik saya. Semuanya memancarkan aura yang begitu saya rindukan setiap kali saya jauh dari rumah. Aura yang selalu memanggil saya untuk pulang saat jiwa sudah terasa sangat letih.

Rumah saya sangat sederhana, tapi disanalah saya tumbuh. selama bertahun-tahun menjalani dinamika kehidupan, menghadapi fase demi fase pertumbuhan jiwa dan raga. disanalah segala pelajaran hidup saya simpan. dalam bentuk kenangan yang tidak ternilai dengan apapun.

saya selalu pulang setiap kali saya “letih” akan kehidupan ini. mengambil kembali serpihan kenangan tentang massa lalu yang kemudian mampu membangkitkan semangat saya kembali. setiap pulang, semuaya terasa lebih berarti. semakin menyadari kehidupan ini. semakin menyadari betapa berharganya sebuah keluarga dan arti sebuah “rumah”.

yang paling membahagiakan adalah bahwa saya selalu dinanti. maka ketika sampai di depan pintu rumah, seketika aura itu merasuk, menyegarkan segenap jiwa yang sedang letih. hanya senyuman yang bertebaran di rumah itu. di hujani kebahagiaan yang tak terbatas.

ada semacam “ritual” yang sering saya lakukan di rumah. naik ke tempat tidur bapak dan ibu. dulu, saat kami bertiga (saya, kakak dan adik) masih bersama di rumah, setiap pagi saat baru bangun tidur kita akan merambah tempat tidur bapak ibu, bertiga saling bergelut, memecah pagi dengan tawa yang kencang. dengan itu kami mengawali hari penuh semangat.
rindu sekali…

saat ini jika saya di rumah, saya hanya bisa berdua main di tempat tidur Bapak. Kakak saya kadang2 ikut kalo sedang pulang ke Indonesia. rasanya momen itu menjadi berharga sekali saat ini. Kamar bapak ibu, tempat tidur tua itu, beserta bantalnya yang banyak sekali adalah media yang mengirim semangat dan kebahagiaan terbesar bagi kami. kami tahu, bukan semata karena benda-benda itu, tapi karena di kamar itulah kami disayangi dengan luar biasa oleh kedua orang tua kami. di doakan dalam setiap sholatnya, dirindukan di setiap saat. dan saya sangat bersyukur memiliki semua itu.

Rumah itu seperti stasiun raksasa. pusat dari berbagai koneksi. saya di luar kota, kakak saya di luar negri akan tetap terhubung dengan erat oleh rumah. maka kita akan selalu merindukan pulang. ketika dunia luas senantiasa menantang kita dengan banyak sekali keinginan dan target pencapaian, maka rumah adalah sumber energi sekaligus tempat menghela nafas.

bagi saya rumah adalah tempat terindah.
kekuatan di setiap sudutnya adalah buah dari setiap doa yang mengucur tanpa henti dari kedua orang tua saya. benang panjang nan kuat yang selalu terkoneksi antara para anak yang merantau dengan rumahnya adalah juga doa yang saling dipanjatkan. doa yang selalu saya minta setiap saat, Ya Rabb… berkahi setiap sudut rumah hamba, berkahi jiwa-jiwa didalamnya…

Semoga 3 anak ini bisa bergelut lagi di atas tempat tidur itu… Eko, pipit, fauzi.
Teriakan ibu akan melengkapi kebahagiaan kami di pagi itu, “Sudah… ayo mandi…!”
Teriakan penuh kasih yang sampai ke langit, dibalas oleh suara tawa kami yang riang, “hahaha…!”
suara-suara yang akan terus tersimpan di langit sampai kini, hingga kami merasa selalu bisa mendengarnya setiap saat. merindukannya… merindukan pulang…

11 Desember 2007,
sehari sebelum ulang tahun ibu.
besok saya akan pulang, insya Allah…

Filed under: tulisan iyang

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey