Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

Alhamdulillah Weekend 13 2008!

28 Maret 2008

Minggu ini permainan monopoli kembali mengisi hari libur kami, kayuhan sepeda mengiringi perjalanan kami dan kadang salju pun ikut mengisi hari-hari kami.

  • Monopoli. Baru kali ini kami bisa menikmati kembali permainan Monopoli, yang sudah sangat lama kami lupakan, kalo tidak salah terakhir bermain ini ketika masih SMP, jadi sudah lebih dari 15 tahun tidak bermain Monopoli. Tapi kali ini medianya berbeda, kami bermain Monopoli di komputer bersama Om Adit. Ternyata permainan ini seru juga, perlu taktik dan keberuntungan. Dan ternyata tidak disangka, diam-diam om Adit masternya Monopoli :) (Kel. Nugroho)
  • Musim Semi dan Salju. Udara Bielefeld seminggu ini (yang sudah masuk musim semi) bukannya semakin hangat, malah semakin dingin dan bahkan beberapa hari turun salju (justru ketika winter gak muncul). Kadang tidak bisa diprediksi, sebentar matahari muncul yang berarti cerah, namun beberapa menit kemudian tiba-tiba langit menjadi gelap, turun hujan atau salju. Namun Alhamdulillah kami sangat menikmati cuaca yang aneh ini, kami selalu menyempatkan untuk joging, meskipun kadang pulang-pulang baju kami kuyup penuh salju. (Kel. Nugroho)
  • Biker. Seminggu ini kami benar-benar intensif mejadi ‘Biker’(tukang kayuh sepeda). Meskipun udara sangat dingin dan kadang bersalju, tapi tidak membuat kami berhenti naik sepeda. Alhamdulillah meskipun cape mengayuh (kadang kangen juga sih naek kereta) tapi saya sangat menikmati naik sepeda. Makasih honey udah beliin sepeda dan makasih om Ican udah minjemin sepedanya buat honey. (Mrs. Nugroho)
  • Liburan berakhir dan makan-makan. Tidak terasa 2 minggu liburan akan segera berakhir, minggu depan mulai ’sekolah’ lagi deh. Tidak terasa sudah hampir 2 minggu gak ketemu temen kursus, mumpung masih libur, kumpul-kumpul deh sama temen-temen, seperti biasa makan-makan. Alhamdulillah bisa ngerasain makanan Cina. Vielen Dank Hui und Wanpen. Maaf Honey, kali ini gak bisa bungkus, soalnya makanannya terbatas :) (Mrs. Nugroho)

Filed under: alhamdulillah

Kutipan Dialog Film

Kemarin kami sempat menonton sebuah film yang sangat menarik: August Rush. Walau kami berdua bukanlah orang-orang dengan jiwa seni yang tinggi tapi Alhamdulillah kami sangat menikmati film dan musik, apapun jenisnya (kami sempat memutar OST Jablai berkali-kali sampe akhirnya bosen sendiri) dan film August Rush tersebut mungkin salah satu film yang paling berkesan yang pernah kami tonton. Film tersebut benar-benar menyuguhkan berbagai musik indah, dari musik klasik hingga ke alunan musik modern bahkan campuran diantara keduanya. Selain dari musiknya, cerita dan dialog yang tersuguh di dalam film tersebut mengalir begitu menarik. Berikut beberapa diantaranya:

August Rush: “The music is all around you, all you have to do is listen.”

Wizard: “You know what music is? God’s little reminder that there’s something else besides us in this universe; harmonic connection between all living beings, every where, even the stars. “

Hope: “You remember how you said Mozart was a musical prod?”
Reverend James: “Prodigy”.
Hope: “Yeah, well, I’ve got one of those and he’s living under my bed!”

Wizard: “If you could choose any name in the world. Any! What would you want to be?”
Wizard: “Come on, kid. Any.”
August Rush:” Found.”

(sumber: imdb)

Beberapa bulan belakangan ini kami mencoba membiasakan diri untuk membaca berbagai kutipan dialog (quote) dari setiap film yang kami tonton. Ada suatu budaya menarik yang kami dapat di sini, bahwa umumnya sebuah obrolan mengenai film bukan melulu mengenai aksi lucu atau menegangkan dari film tersebut, bukan pula tentang jalan cerita dari film tersebut, melainkan kutipan-kutipan dialog menarik yang tersuguh dalam film tersebut. Kami melihat hal tersebut merupakan hal yang sangat bermanfaat, karena ketika kita membaca kembali berbagai kutipan dialog tersebut, kita bisa belajar untuk lebih menghargai dan menikmati sebuah film.

Para pencinta film tentunya mengenal IMDB, situs database film yang (mungkin) paling lengkap. Melalui situs tersebut kita bisa mendapatkan berbagai informasi lengkap tentang sebuah film (termasuk kutipan-kutipan dialognya), sayangnya untuk film-film Indonesia informasi yang tersaji masih sangat terbatas, umumnya hanya rating dan casting. Salah satu alternatif lain, khusus untuk berbagai film yang saat ini sedang diputar di bioskop-bioskop Indonesia, adalah ruangfilm.com. Walaupun formatnya berbeda, upaya ruangfilm.com untuk memberikan informasi film yang memadai sangat patut dihargai.

Sayangnya, baik di IMDB maupun ruangfilm.com, kami belum bisa menemukan kutipan-kutipan dialog dari sebuah film Indonesia. Kami pikir banyak dialog menarik hasil tulisan para penulis nahkah film berbakat kita dan sungguh sayang ketika tulisan-tulisan (dialog-dialog) tersebut terlupakan begitu saja. Mungkin terkesan sangat sepele, menampilkan kutipan dialog suatu film, tapi Saya pribadi yakin bahwa hal tersebut bisa memberikan manfaatkan untuk kebangkitan perfilm-an kita. Jika ada sebuah situs database perfilm-an nasional yang bersedia mendokumentasikan berbagai dialog menarik, para pencinta film nasional akan punya cukup informasi untuk menentukan film mana yang layak tonton, dan dari sana mungkin para insan per-film-an kita bisa lebih termotivasi untuk menghasilkan film-film menarik yang bisa memberikan manfaat (bukan hanya ke-ngerian) untuk banyak orang.

Sedikit oleh-oleh berikut adalah beberapa kutipan dialog dari film Nagabonar :

Bujang: “Enak juga jadi serdadu bang. Makan dapat, rokok dapat. Kerja tak ada.”
Nagabonar: “Siapa bilang ? kita lebih enak. Tak ada yang memerintah. Kalau mau prei makan sekali-sekali masuk penjara.”

Bujang: “Banyak bendera merah putih bang”
Naga bonar: “Hari besar rupanya”.
Bujang: “Apa mungkin karena hari ini kita keluar penjara?”

(sumber: sinemadewa.blogspot.com)

Tulisan ini untuk Iyang….jangan pernah berhenti nulis naskah film Sayang! Iyang adalah penulis naskah paling baik yang mas kenal!

Filed under: tulisan papa

Dari Bapak…

(komentar untuk tulisan iyang: Teh, Kopi, dan Kue Tambang)

Selamat kepada dua Srikandi muda yang telah dengan lincah menghadapi hidupnya yang mulai merambat meninggalkan masa muda-belia-merdeka menuju masa yang tidak pernah diketahui dengan pasti seperti apa, meskipun telah membaca, melihat, mendengar cerita, bahkan menduga-duga; tetap tidak tahu persis, seperti apa, hidup kedepan ini, sebagai isteri, sebagai ibu.
Senang membaca tulisan-tulisan Pit & Mbak Kus-Eko, mengalir enak, menyusuri aliran kehidupan yg bagi orang lain sering kali terjadi begitu saja, tanpa bisa dirasai, tanpa bisa disajikan, tanpa bisa dinikmati.

Terima kasih ya Pit, dapat menjadi pemanjang kesegaran diketuaan MbahGun. Menjadikan Mbah Gun tidak sendiri, sepi. Bapak juga ga tahu benar, apa yang ada dalam benak Mbah Gun. Mestinya beliau lebih suka di kampung, di sawah, sendirian, kerja keras, dengan kedua kaki tertanam di tanah lumpur yang sudah lebih dr 70 tahun diinjaknya; kemudian pulang ketika menjelang dzuhur, yang sampai di rumah tak akan dijumpainya apapun; alih2 kopi, kue tambang, dan obrolan ringan-menyegarkan, dan koran, bahkan belum tentu ketemu orang. Kamar kosong tempat Mbah Marni dulu menggeletak sakit saja yang ditemuinya.

Dalam kelaparan Mbah Gun sering kali mendapatkan air termos hangat sudah sangat menyenangkan; kemudian ke mesjid, di depan rumah, bersimpuh, entah membaca apa; tetapi pasti do`a, untuk semua anak cucunya.
Rasanya beliau tak pernah mengeluh, apalagi meratapi hidupnya yang ditinggal pergi duluan Mbah Marni. Barangkali yang masih dibanggakan adalah anak2nya yang meskipun telah pada hidup di kota, atau tetap di desa tapi hidup lebih baik, masih eling (ingat) dan hormat dengan orang2 kampung, itu saja; setiap kita mendapati rejeki, selalu kita ingat mereka, bahkan Mbah Gun yang selalu bertugas untuk keliling kampung, ke rumah para janda dan lansia untuk berbagi kesenangan.

Sampai sekarang, ketika comment ini Bapak tulis di Tokyo, Mbah Gun masih seneng-seneng saja diBogor, itu membahagiakan aku, Bapakmu. Sudah 4 bln, diselingi pulang kampung 2minggu, Mbahmu di Bgr, di rumah kita, dan beliau masih seneng2 saja, menurut Pit; adalah karena wanita-wanita baik seperti Pit & Mbak Kus, yang mampu menyulap keseharian sebagai sesuatu yang selalu bisa diserutup; enak, sedikit, tipis, tidak menggelegak, menyegarkan; itulah jasa kalian.

Bapak, betapapun ingin, membahagiakan Simbahmu, orang yang mengukir jiwa ragaku, yang seluruh hartaku adalah haknya, yang selalu aku takut salah berbuat, yang dia guru besar hidupku; toh tak bisa; aku punya hidup sendiri, yang betapapun ingin kuseiringkan dengan irama Mbah Gun, tetap tak sejalan.
Mbahmu lah yang menjadikanku, Bapakmu, tetap bersemangat. Banyak yang ingin dilakukan Mbah Marni, sejak mudanya, tetapi karena keterbatasannya tak dpt dilakukan; kini setelah beliau wafat, tinggal Mbah Gun, yang jika saja Bapakmu dapat mengantarkan Mbahmu menikmati tuanya dengan makin mendekatkannya kepadaNya, itulah hakikat suksesku, Bapakmu.

Makanya program Shubuh-Selalu-Berganti-Mesjid, yang sudah memasuki kali ke 100 itu, Bapak perhatikan dg serius adalah karena hal itu menyenangkan Mbah Gun; jika Mbah Gun senang, maka Mbah Marnipun akan sangat senang.
Untuk itu, sekali lagi, selamat kepada Pit, dan terima kasih dr Bapakmu, yang tak mungkin dapat membalasi jasa baikmu.

Bersabarlah Pit, bersabarlah Mbak Kus; begitu banyak wanita lain yang lebih tidak menentu bukan saja masa depannya, bahkan hari ininyapun mereka tak jelas. Sementara Pit dan Mbak Kus, masih sempat memikirkan bangsanya, dan nasib rakyat kecil serta kiat menenteramkan diri dalam mendapingi Kekasih yang sedang memantapkan dirinya menjadi Ksatria Kehidupan, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Bangsa.

Terus bantu Mbahmu menikmati dunia yang jauh dr habitatnya, Haji yang berhaji bukan dari hasil taninya, tetapi hasil menjual sawahnya, seluruhnya.
Sediakan diri, waktu, intelektualmu, sabarmu, dan berbagai kelebihanmu, sebagian … untuk Mbah Gun, orang tua yang kesedihannya akan sangat melukai kebahagiaan Bapakmu yang juga sedang seperti ini.

Bapak menangis sepanjang menulis ini, di Tokyo; bukan sedih, tetapi bersyukur, bangga: ada Pit dan ada Mbak Kus yang Bapak lihat sbg sedikit wanita yang rela menjalani kewanitaannya, yang meski diketahuinya jalan itu yang akan membawanya ke surga, sering kali ditinggalkannya.

Selamat ya Pit, Selamat ya Mbak Kus; nikmati komunikasi luar biasa ini melalui medialuar biasa.
Selamat Berjuang Mas Eko. Aku punya sesuatu untuk Mas Eko & Mbak Kus; sesuatu yang dapat diberikan oleh siapapun, bahkan orang yang sangat miskin; semoga dengan sesuatu itu, Mas Eko&MbakKus semakin sukses, Aamiin.
Sampai jumpa!

Filed under: alhamdulillah

Alhamdulillah Weekend 12 2008!

21 Maret 2008

Minggu ini, Uni adalah rumah ke dua kami. Hampir setiap hari kami menghabiskan waktu di Uni, kadang mampir ke rumah sebentar untuk sholat, makan dan melepas lelah. Mudah-mudahan kami bisa lebih rajin lagi belajar dan bekerja.

  • Sepeda. Alhamdulillah, sabtu yang lalu, di Flohmarkt nemu sepeda bekas, murah dan dari ukurannya kayanya cukup untuk tubuh yang mungil ini. Niatnya ingin berolahraga supaya sehat dan juga bisa ngirit -ongkos kereta khan mahal. Karena sepeda bekas, sepeda ini punya keunikan, kalo lagi dikayuh ada bunyi2 yang mengikuti, ngik..ngik..ngik, kadang ada bunyi seperti kaleng rombeng, maklum aga2 reyot gitu deh. Tapi Alhamdulillah, meskipun begitu sepeda ini menjadi teman setia sehari-hari. Mudah2an sepedanya bisa ’sehat’ terus. (Mrs. Nugroho)
  • Minigolf Bielefeld. Habis dapet sepeda, langsung deh dicoba, kita bersepeda ke Obersee. Lumayan juga, setelah mengayuh sepeda sekitar 45 menit, akhirnya sampai juga ke tempat tujuan. Alhamdulillah pemandangannya bagus dan akhirnya bisa juga nyobain main minigolf. Permainan ini perlu skill yang cukup, terasa sulit untuk pemula. But, It was Fun. Kadang kesel dan kadang seneng. (Kel. Nugroho)
  • Liburan dan Uni. Alhamdulillah dapet libur 2 minggu, gak perlu bangun pagi-pagi untuk pergi kursus. Tapi bulan depan ada ujian dan banyak PR dari guru kursus, ya mau gak mau meskipun liburan tetep berusaha untuk belajar deh. Jadinya meskipun liburan nongkrong di Uni deh :( (Mrs. Nugroho)
  • Jogging Mesra. Minggu ini ayang rajin ikut jogging. Jogging yang biasanya hanya ditemani iringan mp3 kini ditambah istri tercinta. Alhamdulillah, adalah kebahagiaan yang tak terkira, bisa menikmati pagi bersama dan berjogging mesra :) (Mr. Nugroho)
  • Hardisk. Minggu ini juga diisi dengan perburuan hardisk baru. Tak terasa 100 GB external hardisk kami mulai penuh dan kebutuhan akan hardisk baru serasa semakin mendesak karena foto, video, dan e-book semakin menumpuk. Jenis hardisk yang kami cari adalah hardisk yang sangat langka: kapasitas besar dan harga muraaaaaaah. Saking langkanya – hingga saat ini kami belum berhasil menemukannya :( (kel. Nugroho)
  • Majalah. Kami mulai aktif mengumpulkan majalah dan bacaan, baik itu dalam bahasa jerman maupun inggris. Tidak terasa, saking aktifnya mengumpulkan bacaan tersebut, kadang kami lupa untuk membacanya :) (kel.Nugroho)

Filed under: alhamdulillah

Teh, Kopi, dan Kue Tambang

Tanpa disadari, beberapa minggu belakangan ini ada ritual rutin yang menjadi kegiatan pagi. Jam 6 di beranda rumah, menikmati koran pagi bergantian dengan mbah Gun. Saya di temani teh melati manis yang masih mengepul tebal asapnya, dan Mbah Gun kopi hitam pekat yang di seduh air mendidih. Kadang di temani singkong goreng atau pisang goreng, kalau tidak ada, roti selai juga jadi. Kalo gak ada juga, biskuit roma atau biskuit kelapa. Dan pagi ini, dengan kue tambang.

Sudah lama sekali tidak makan kue tambang, di warung-warung kampung pasti selalu dijual. Dulu di rumah Aki di purwakarta juga Uwa Eem atau Bi Atit sering bikin. Kue tambang pagi ini adalah kiriman Bulek Pur dari Depok kemarin. Walau bukan buatan sendiri, tapi enak juga. Pagi yang agak mendung, teh panas yang harum, plus kopi dan koran baru. Alhamdulillah, nikmat…

Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, ritual pagi ini diselingi oleh obrolan ringan yang kadang penting kadang tidak. Campur aduk bahasa jawa Mbah Gun dan bahasa jawa saya yang sok-sokan menyesuaikan (logatnya doang!). Pagi ini karena tanggal merah, saya agak lama ngaso di beranda, setelah sebelumnya mengantar Bulek Pur sekeluarga yang pulang subuh ke Depok. Mestinya hari ini gak libur karena kantor ada acara di Agrinex (Pameran Pertanian di Jakarta) 5 hari kedepan. Tapi badan rasanya agak cape, setelah kemarin seharian keliling jakarta dan pulang agak malam (sampai rumah langsung ketiduran tanpa buka baju kerja). Mungkin akan sedikit telat ngantor, atau bolos aja sekalian (hehehe…), pengen beres-beres rumah juga karena minggu depan Putri dan Robin (adek ipar) pulang dari Jepang.

Bulek Pur sekeluarga pulang, rumah kembali sepi. Seperti hari-hari sebelumnya, cuma ada Saya, Mbah Gun dan Mba Olis. Kadang berdua doang dengan Mbah Gun karena mba olis pulang. Maka ritualpun dijalankan…dengan menu breakfast “Kue Tambang” pagi ini.

Obrolan dibuka dengan membicarakan sariwan mbah yang belum pulih benar, padahal sudah di kasih Abotil dan Vit C. Tapi tidak mengurangi mbah bercerita banyak seperti hari-hari sebelumnya. Obrolanpun tidak terganggu oleh sariawan. Mungkin Kopi pekat itu teramat nikmat buat mbah, sampai sariwannya tidak terasa. Obrolan beralih ke soal kue tambang, rupanya semua kampung di Jawa Tengah atau Sunda memang mengenal kue ini. Mbah bilang, bisa gak ya kue ini dibuat dari jagung bukan terigu? Karena mbah adalah seorang petani jagung. Saya ketawa, saya bilang, kalo jagung nanti malah jadi kripik, susah di plintir jadi tambang. Mbah akhirnya sependapat juga, walau mungkin di hati kecilnya masih ada harapan besar bahwa jagung bisa didifersifikasi pemanfaatannya menjadi aneka pangan, persis pemikiran Prof.Syarifudin Baharsyah, mantan menteri pertanian RI pelita 6 jaman Suharto, yang usinya mungkin tidak jauh beda dengan mbah Gun.

Membahas kampung, jagung, tanpa terencana obrolan mengalir ke soal beras. Harga beras di kampung mbah yang sangat murah. Padahal di kota mahalnya minta ampun. Beras di tempat mbah ternyata gabahnya kurang kering akibat musim hujan, jadi tidak bisa di jemur. Bulog bahkan gak mau beli. Harga jatuh untuk gabah, cuma sampai 1600 rupiah, padahal harga dasar adalah 2000. Sedih sekali, kata mbah, tapi apa boleh buat? Ketika saya tanya kenapa gak di oven? (ada semacam teknik pengeringan gabah tanpa matahari, yaitu di oven, tapi gak semua desa punya pengeringan ini). Mbah bilang repot, minimal kalo mau ngoven harus sekitar 5 ton beras dan pastinya butuh biaya tambahan. Jauh dengan matahari yang gratis. Akhirnya petani lebih memilih untuk menjual gabah basah, tanpa pengeringan, yang tentu harganya lebih murah lagi. Dilema yang sangat biasa, persoalan yang menjadi pemakluman sepanjang tahun bagi masyarakat desa. Seperti Mbah Gun, yang hanya bisa menghela nafas dan mengurut dada, petani di desa itu tumbuh dalam kebersahajaan dan kelapangan dada yang luar biasa. Mengeluhpun paling hanya sehari dua hari, selanjutnya, tandur harus dimulai kembali, walau panen nanti akan membawa nasib yang sama, tapi itulah hidup yang mereka yakini harus mereka terima apa adanya.

Obrolan bergulir lagi, tak sengaja, ke Pak Harto (Mbah Gun suka sekali topik ini). Pak Harto yang anak wong tani, yang ndeso juga. Tapi bisa menjadi penguasa yang hebat. Kekuasaan yang mematikan jutaan orang, begitu kata mbah Gun, terlepas dari kekaguman Mbah Gun pada kharisma presiden selama 32 tahun itu. Kekuasaan yang membuat lupa akan masa lalunya sebagai wong cilik, tambah mbah Gun. Terus saya bilang, justru Pak Harto begitu karena teringat terus sama masa lalunya, dia gak mau jadi wong cilik lagi, gak mau susah terus. Mbah Gun ketawa, “Gak mau susah, apa iya jadi gak susah setelah kaya raya begini?” kata Mbah Gun, toh akhirnya ketika meninggal, tak sepersenpun harta di bawa mati. Malah mungkin akan menjadi bencana bila diperebutkan dengan tidak bijak oleh anak-anaknya.

Pemikiran itulah yang rupanya menjadi pegangan hidup mbah Gun, mungkin pegangan hidup mbah-mbah lainnya di Desa, yang ditempa oleh kelapangan dada luar biasa sepanjang hidupnya. Pemikiran tentang “Toh, harta tidak dibawa mati..”.

Mbah Gun sebetulnya masih sangat beruntung, seperti Aki di Purwakarta yang punya tanah cukup banyak, dan kebun lain selain sawah yang bisa diandalkan. Bahkan Mbah Gun bisa naik haji dari hasil taninya. Tapi petani yang hanya punya 0,3 Ha tanah, bahkan hanya jadi buruh tani jauh lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang seperti Mbah Gun. Orang-orang yang mungkin tidak punya alasan yang cukup kuat untuk berfikir menumpuk harta hingga menggunung seperti Pak Harto. Bagi mereka bisa makan setiap hari adalah cukup. Mereka itu, yang mensuplai beras bagi orang-orang kota. Yang kadang bagi mereka makan beras itu sendiri adalah sesuatu yang sangat mewah… tapi toh, semua diterima dengan lapang dada, ikhlas…

Sayapun akhirnya ikut menghela nafas… cerita ini, entah sudah berapa ribu kali terdengar. Di sudut-sudut kampus IPB yang sok idealis, di jurnal-jurnal ilmiah yang bertebaran di penjuru dunia, bahkan di artikel yang saya tulis sendiri di majalah. Tapi semua tidak sedikitpun mengurangi cerita-cerita ini, hingga Februari kemarin, cerita beras murah masih santer terdengar. Belum soal barang pokok yang mahal… cerita sedih masyarakat kecil tidak pernah habis… seperti hanya menjadi bahan paper dan skripsi yang tidak pernah habis untuk diteliti, didiskusikan… seperti di sekarang ini, di pagi yang sejuk dengan teh, kopi dan kue tambang.

Satu jam berlalu… mbah beranjak, waktunya ke kebun. Kebun belakang rumah yang sedang dibangun kolam ikan sekalian panen pisang, kata Mbah. Buat mbah, cerita di pagi ini adalah biasa, toh tidak perlu menjadi larut dan sedih, mbah tetap mencintai kebun dan pekerjaannya sebagai petani. Kopi hitam dan kue tambang, cukup untuk mbah bekerja sampai dzuhur mengurus kebun.

Maka ritual pagi itu selesai. Saya sendiri, entah kenapa jadi merasa sangat kenyang dan enggan mengambil kue tambang lagi, padahal kuenya enak… Entahlah, saya merasa kalah telak oleh mbah Gun. Mbah Gun bisa menghadapi kisah yang ia menjadi pelaku utama di dalamnya dengan sangat hebat. Alih-alih merasa sedih, mbah Gun sepertinya tidak peduli sama sekali, dan tetap bersemangat ke kebun. Mbah Gun punya “cara menghadapi persoalan hidup” yang baik sekali. Sedangkan saya malah merasa campur aduk, bingung… hidup makin berat rasanya, tanggung jawab makin besar…

Sayup-sayup terdengar tukang sayur, mencelos hati ini… ah, harus belanja lagi… terbayang sayur mayur dan lauk yang semakin kurang berasahabat dengan kantong. Perasaan yang mungkin dialami oleh ratusan juta penduduk Indonesia. Tapi sedikitpun saya tidak pernah berani menawar harga sayur, memang mungkin seharusnya begitu, semoga harga mahal ini berdampak pada petani yang menanamnya (sebetulnya tidak yakin juga sih, biasanya tengkulak yang untung dalam hal ini), tapi tak apalah. Kalaupun tidak ke petani, setidaknya tidak terlalu menyakitkan bagi si mba tukang sayur, seorang janda yang harus menghidupi anak-anaknya dnegan membawa gerobak sayur super berat setiap pagi buta keliling komplek. Walau berat, rasanya tidak tega menawar sayur, apalagi jika ingat bahawa diri ini belum melakukan sesuatu yang berarti untuk mengurangi cerita sedih bangsa. Padahal saya seorang sarjana…dari IPB… Kalah telak. Pagi ini saya kalah telak sekali.

Semoga Tuhan berkenan memberi saya sedikit saja semangat yang dimiliki Mbah Gun dalam menghadapi hidupnya. Mungkin saya bisa merasa lebih optimis dan berarti.

 

-Pipit-

20 Maret 2008, 08.14 WIB

Filed under: tulisan iyang

20 Hari Ditinggal Cinta

Dari semenjak kecil sampai usia seperti sekarang ini, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya sendirian di rumah. Biasanya selalu ada keluarga di sekeliling yang menemani. Mereka pun tidak pernah tega untuk meninggalkan saya sendiri di rumah. Kalaupun harus terpaksa pergi, mereka tidak pernah meninggalkan saya sepanjang hari. Saya juga tidak pernah merasakan yang namanya nge-kost, harus mandiri, mengerjakan segala sendiri dan juga harus sendirian di malam hari.

Setelah menikah, kami tinggal di sebuah appartemen mungil, hanya berdua dan jaauuh sekali dari keluarga. Selama ini, kalo suami tercinta belum juga pulang padahal hari sudah larut malam, saya pasti merayu supaya dia bersedia cepat pulang, karena saya tidak suka kalau harus sendiri di rumah -terutama jika di luar sedang hujan besar atau angin kencang-. Jadi sampai saat ini saya tidak pernah terbiasa untuk sendirian di rumah.

Rencananya pada bulan depan (suami ter)cinta harus pergi ke kota lain untuk jalan-jalan (diselingi acara Konferensi) selama 20 hari. Karena hal tersebut adalah tuntuan pekerjaan, mau tidak mau selama 20 hari mesti tinggal sendiri. Membayangkan 20 hari harus sendiri tanpa suami, rasanya masih berat untuk saya. Maklum baru pertama kali. Tapi mau bagaimana lagi, itu semua harus dihadapi. Akhirnya setelah dipikirkan kembali, daripada membayangkan hal yang tidak-tidak, mungkin akan lebih baik jika saya memikirkan hal-hal positif yang bisa saya lakukan selama 20 hari tersebut.

Berikut adalah beberapa hal (positif) yang sempat terlintas di pikiran saya :

Tanpa honey, sprei gak akan acak-acakan, lemari baju akan selalu rapi, gak perlu rebutan sofa, gak ada sepak bola, gak ada yang bangunin tengah malem kalo lupa belum sikat gigi, gak perlu bingung masak apa waktu weekend, gak perlu bersihin dapur sering2 (soalnya kalo honey yang masak pasti berantakan), gak perlu buru-buru kalo mau pergi jalan-jalan, gak perlu lari-lari ngejar kereta, gak perlu buru-buru kalo lagi belanja, gak ada yang cerewet soal makan, gak perlu rebutan kamar mandi kalo pagi-pagi, gak perlu denger ceramah panjang lebar (karena klo lewat telepon biayanya mahal) dan mudah-mudahan lebih banyak kata-kata romantis yang didenger.

Insya Allah, waktu 20 hari tersebut akan menjadi pengalaman berharga buat saya, walau berat mudah-mudahan bisa saya manfaatkan untuk belajar lebih mandiri, belanja sebanyak-banyaknya, nginep di rumah temen, jalan-jalan kemana-mana dan nonton film semaunya :) .

Filed under: tulisan mama

Alhamdulillah Weekend 11 2008!

14 Maret 2008

Alhamdulillah, minggu ini kami diberi kesempatan belajar membuat keputusan untuk keluarga besar kami, diberi kesempatan untuk belajar menyampaikan segala apa yang ada dipikiran kami, dan belajar untuk bisa lebih ikhlas dalam segala hal.

  • Kontrakan. Alhamdulillah, Orang tua kami berniat untuk memulai suatu usaha kecil untuk memanfaatkan waktu luang mereka dan Alhamdulillah mereka juga telah menemukan tempat yang terjangkau. Semoga Allah meridhoi segala niatan mereka dan semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk mereka. (Kel. Nugroho)
  • Moneybookers. Untuk kedua kalinya kami memanfaatkan fasilitas Moneybookers untuk transfer internasional. Selain biayanya yang relatif lebih murah dibanding dengan transfer international langsung melalui bank, Moneybookers juga memberikan pelayanan yang cukup memuaskan. Biaya yang murah memang menjadi faktor utama mengapa kami memanfaatkan Moneybookers. Untuk transfer internasional mereka hanya menarik biaya sekitar 2.3 Euro (sekitar Rp. 30 ribu) dan jumlah tersebut jauh lebih murah dibanding transfer langsung melalui bank (yang umumnya menarik biaya lebih dari 9 euro) maupun beberapa penyedia layanan transfer international lainnya.
  • Antara Uni dan Istri. Biasanya tiap malam, selalu ada kebimbangan antara tinggal lebih lama di Uni atau pulang ke rumah menemui istri tercinta. Namun minggu ini kebimbangan itu sirna, karena hampir seminggu ini sang istri tercinta juga mulai banyak menghabiskan waktunya di Uni. Kadang Uni menjadi sebuah tempat yang berat untuk dikunjungi, namun kehadiran sang Istri di Uni telah merubah sedikit pandangan Saya tentang Uni. Selain tempat kerja yang kadang berat untuk dikunjungi (apalagi senin pagi), sekarang Uni sudah bukan lagi menjadi tempat teraman untuk minum kopi berkali-kali. (Mr. Nugroho)
  • Tahu Bunting. Setelah sekian lama, akhirnya kami kembali bisa menikmati tahu bunting = tahu isi. Tahu bunting ini begitu istimewa, selain rasanya yang enak, ukurannya yang luar biasa, tahu ini juga dilengkapi sambal kolaborasi Om Ican, Adith, Tante Yuli, dan Tante Novie . Sambal ini mungkin sambal yang paling pedas yang pernah kami nikmati. Terima kasih semuanya! (Kel. Nugroho)

Filed under: alhamdulillah

Antara Kue Moci dan Burung

Beberapa waktu lalu kami berdikusi mengenai cara terbaik memperkenalkan seks kepada anak. Mungkin terlalu berlebihan, wong punya momongan saja belum, tapi daripada diskusi mengenai pengeluaran akhir bulan kemarin (yang banyak didominasi oleh tiket bola dan kopi di cafetaria) dari sudut pandang Saya topik di atas relatif lebih menarik untuk didiskusikan.

Ketika Saya bertanya pada adinda istri tercinta bagaimana cara terbaik untuk memperkenalkn seks pada anak jawaban adinda sangat sederhana: “ya ngomong !”. Setelah kesal dan bingung (yang diharapkan jawaban detail, yang keluar cuma 2 kata) akhirnya Saya sadar bahwa jawaban adinda memang tepat. Saat ini anak-anak memiliki begitu banyak alternatif untuk belajar tentang seks, sayangnya tidak semuanya berdampak positif, dan dari sekian banyak cara yang ada, mungkin “omongan” orang tua adalah cara yang ter-”aman” untuk memperkenalkan seks kepada anak. Sebelum kami ceritakan kesimpulan diskusi kami, berikut ada beberapa artikel menarik yang juga membahas topik yang sama yang kami pikir cukup relevan dengan topik diskusi kami.

Hanyawanita.com sempat memuat sebuah artikel menarik mengenai topik yang sama. Artikel tersebut menganjurkan bahwa pengetahuan tentang seks sebaiknya diajarkan kepada anak dari sejak dini disesuaikan dengan tingkat pengertian sang anak. Dari artikel tersebut, Saya baru tahu bahwa ada sebagaian orang yang menggunakan kata “kue moci” sebagai penyebut alat kelamin wanita dan “burung” untuk alat kelamin pria, kenapa mesti kue moci dan kenapa mesti burung? (kalo ada yang tau rasionalisasinya, tolong kasih tau kami).

Kompas beberapa waktu lalu juga menampilkan satu artikel menarik berjudul: Diskusi seks dengan anak kenapa tidak? artikel tersebut membahas mengenai hasil penetian terbaru yang mengungkapkan pentingnya komunikasi seks antara orang tua dan anak juga efek positif yang bisa didapat dari terjalinnya komunikasi tersebut. Selain itu disebutkan pula bahwa komunikasi atau diskusi mengenai seks sebaiknya dilakukan berulang kali. Masalahnya, jika kami nanti mesti rajin berdiskusi dengan anak, kami tidak yakin bahwa kami punya cukup bahan unuk di diskusikan.

Dua artikel tersebut di atas membenarkan jawaban adinda bahwa cara terbaik untuk memperkenalkan seks pada anak: “ya ngomong!” . Yang jadi masalah bagaimana cara ngomong-nya? mulai dari mana? kapan mesti ngomongnya? berapa kali mesti ngomong? dan yang paliiing penting – siapa yang mesti paling banyak ngomong?

Pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki terlalu banyak alternatif (kadang 2 alternatif sudah terlalu banyak) dan kami belum bisa sepakat, tapi kami sepakat bahwa kami tidak akan melibatkan nama-nama kue, atau nama binatang sebagai ganti nama-nama alat kelamin, mungkin kita akan memanfaatkan alpabet yunani seperti di matematika: alpha untuk alat kelamin pria dan gamma untuk alat kelamin wanita.

Selain itu kami berdua juga sepakat untuk berdoa dan belajar sekuat tenaga memperbaiki kemampuan komunikasi kami, terutama dengan anak-anak. Dan mudah-mudahan ketika waktunya tiba, seks dan segala hal yang terkait didalamnya bukan menjadi sebuah topik tabu dimana kami enggan mendiskusikannya, melainkan menjadi salah satu topik diskusi menarik antara kami dan anak-anak kami. Dan untuk mempermudah jalannya diskusi tersebut, Saya percaya stadion sepakbola bisa menjadi salah satu alternatif tempat diskusi yang menarik (anak-anak tidak bisa kabur selama 2 jam, dan kalau topiknya terlalu sensitif bisa kita sampaikan waktu stadionnya lagi rameee)

Filed under: tulisan papa

Alhamdulillah Weekend 10 2008!

7 Maret 2008

Minggu ini adalah minggu ketika kasih sayang dan olahraga terkait erat dan ketika konsistensi terasa begitu berat.

  • Demo, Naik Sepeda dan Salju. Beberapa hari lalu dapet berita dari Guru, kalo besok akan ada demo, jadi besok gak ada kereta dan bis yang beroperasi. Waduh, repot nih kalo ada demo begini, masalahnya dari rumah ke tempat kursus cukup jauh, kalo jalan kaki kira-kira 40 menit dan menurut berita dari Radio, kira2 temperatur besok -4 sampai 7 derajat, kalo harus jalan dan kedinginan, males deh. Untung honey lagi baik, setelah dirayu akhirnya honey mau nganterin ke tempat kursus. Jadi hari ini, pagi-pagi, dingin-dingin, agak-agak licin, dorong-dorong sepeda :) . Kita naik sepeda hari ini, karena sepedanya hanya ada satu dan itu pun pinjem dari ‘anak kos’ yang baik hati -Om Ican Danke!- jadi harus boncengan. Seru deh hari ini. (Kel. Nugroho)
  • 30 Menit. hampir satu minggu coba konsisten jogging 30 menit, dalam kondisi apapun. Alhamdulillah walau tidak ada penurunan berat badan, badan terasa lebih baik. 10 menit pertama dari jogging begitu mudah, 10 menit berikutnya mulai lelah, 10 menit yang terakhir adalah yang paling parah, napas terengah-engah dan terasa sangat lelah. Ketika orang lain mengakhiri jogging dangan pelemasan, Saya mengakhirinya dengan cemilan :) (Mr. Nugroho)
  • Buku harian. Kami memiliki sebuah buku harian bersama, kami berbagi halaman dalam buku tersebut. Beberapa minggu terakhir, buku tersebut tidak sempat kami isi, namun minggu ini Ayang kembali mulai mengisinya dengan tulisan tangannya yang indah, mengingatkan betapa pentingnya melakukan hal tersebut. Insya Allah suatu hari nanti buku itu dan blog ini akan menjadi warisan berharga untuk anak-anak kami, dan semoga mereka bisa belajar darinya.
  • Supir. Alhamdullilah, setelah lebih dari 12 tahun akhirnya Om bersedia pensiun dari pekerjaan sambilannya sebagai ’supir’ karawang-jakarta. Kami sungguh bahagia dengan kabar tersebut.  Semoga pengganti beliau bisa iklas melakukan pekerjaannya dan semoga dimasa-masa ‘pensiun’ ini Om bisa semakin produktif dan semakin sehat. (Kel. Nugroho)

Filed under: alhamdulillah

Jalan-jalan Pagi itu

Sudah beberapa hari, matahari di kota ini hanya menyapa sebentar. Hanya udara yang dingin, langit yang mendung, angin yang kencang dan hujan yang selalu hadir. Di tengah cuaca seperti itu, membuat saya nyaman terlelap dalam buaian mimpi, rasanya enggan untuk membuka mata ini, apalagi untuk melakukan olahraga. Tidak pernah terpikir di kepala ini untuk melakukan olahraga apa pun di cuaca seperti ini. Tapi justru berbanding terbalik dengan honey, entah kenapa, mungkin karena ingin cepat kurus, ternyata sudah beberapa hari ini honey selalu menyepatkan untuk berlari pagi minimal 30 menit, tanpa peduli dengan cuaca. Ketika tahu hal tersebut, hati ini sepertinya belum ikhlas untuk melihat honey berlari di tengah cuaca seperti ini, hujan-hujanan dan harus melawan angin yang kencang. Menurut saya, berolahraga di udara seperti itu adalah tidak sehat. Saya sempat melarangnya tapi karena kepalanya keras, hehe.. tetep saja honey berolahraga. Kesel.. ya.. tapi.. ya sudah.. mo bilang apa lagi, saya cuma bisa berdo’a semoga honey gak sakit.

Pagi itu, honey bilang, kalau dia akan berlari pagi sebentar. Udara saat itu memang agak cerah, ya sudah saya jawab ‘ok’ dan berpesan sedikit, ‘tapi kalau bisa jangan hujan-hujanan’. Beberapa saat kemudian ternyata hujan, hati ini sedih, hmm.. honey hujan-hujanan lagi. Saya coba untuk tidak khawatir, biarkan saja, nanti juga kalau kedinginan pasti pulang. Tapi khawatir itu tidak hilang. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sih honey tetep berolahraga? Rasanya gak akan nemu jawabannya, kalau tidak mencoba sendiri. Akhirnya saya putuskan, ok, saya tulis pesan: ‘ayang, aku jalan-jalan sebentar’. Saya langkahkan kaki di tengah udara yang dingin, hujan dan angin yang kencang. Jujur dari dulu sampai sekarang saya selalu takut dengan suara angin yang kencang. Takut pohon tumbang, takut akan badai dan takut lainnya. Dengan segala ketakutan itu, saya putuskan tetap akan berjalan-jalan. Di tengah angin yang kencang itu, yang kadang harus saya lawan -membuat langkah ini terasa berat- dan kadang mendorong saya -meringankan langkah ini bahkan seperti melayang-, saya tetap berjalan. Di tengah hujan dan udara yang dingin saya tetap berjalan. Dengan berbekal Mp3 dan saya dengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, membuat saya lebih mantap melangkah, lupa akan ketakutan saya dan akhirnya terbuka pikiran ini.

Jalan-jalan pagi itu, tidak memberikan saya jawaban mengapa honey tetap berolahraga di tengah cuaca seperti itu, tapi jalan-jalan pagi itu mengingatkan saya tentang hidup ini, bahwa di tengah segala kegalauan, segala kesulitan, kita tetap harus berjalan menjalani hidup ini. Kadang orang-orang di sekeliling kita akan mendukung kita, kadang orang-orang di sekitar kita tidak mendukung kita, tetapi selama kita yakin bahwa yang kita lakukan adalah benar, kita tetap harus berjalan, tetap berdo’a dan berusaha untuk mencapai tujuan kita.

Filed under: tulisan mama

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey

  • Banyak kepala negara negara yang dikenang sejarah karena pidatonya, #SBY mungkin akan jadi salah satunya. #fb 7 hours ago
  • Mungkin perlu ada fit and proper test baru buat pejabat: mampu menggunakan bahasa rakyat! #cuih 8 hours ago
  • @kNugroho Dimas katanya kecelakaan. Tolong ayang telp Riska ya secepetnya. Pastiin semuanya baik2 aja. Makasih sayang. 22 hours ago
  • Gonna start designing my "twitterlike game" today. It will be a simple card game, easy, and addicted. Wanna play? #kummara #fb 1 day ago
  • @ican96 Ok siip. Danke. 1 day ago