Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

Alhamdulillah Weekend!

28 Desember 2007

Alhamdulillah, selama satu minggu ini kami diberi kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat. Dari perjalan kami, banyak hal yang kami temui, pertandingan sepakbola keras nan panas, gedung megah nan indah, dan pemandangan cantik nan menarik. Namun bukan hal-hal tersebut yang menjadikan perjalanan ini sangat berarti, namun pertemuan kami dengan beberapa sahabat baru yang menjadikan perjalanan ini sangat berarti. Terima kasih kami untuk kalian semua….sungguh suatu kebahagian bisa bertemu dan berkenalan dengan kalian semua.

  • Liburan. Pagi hari sabtu lalu dengan penuh rasa syukur kami menuju Bremen airport. Alhamdulillah, berbekal persiapan selama hampir satu minggu, kami memulai satu minggu perjalan kami ke negeri pizza dan spagetti, Itali. Dalam tas telah terkumpul: tiket murah Ryan Air dan TuiFly, tiket murah kereta malam Itali, dan reservasi tempat penginapan termurah di tiga kota Itali. (Kel. Nugroho, dari Mr. Nugroho: dan perbekalan yang paling utama, sebuah harapan bahwa kami akan memperoleh tiket untuk pertandingan derby besar: Inter Milan Vs AC Milan)
  • Ryanair dan Bremen Airport. Terkenal sebagai the lowest cost carrier in Europe, Ryanair umumnya menggunakan bandara kecil yang agak jauh dari pusat kota. Namun khusus untuk rute Ryan Air, diantaranya menuju: London, Paris, Stockholm, dan Milan, mereka menggunakan Bremen airport yang sangat mudah di jangkau. Cukup menggunakan trem no. 6 dari stasiun kota Bremen kita mencapai airport dalam waktu kurang lebih 20 menit. (Kel. Nugroho)
  • Malam mingu di Milan. Dari bandara kami menuju Milan Central Station (stasion kereta), sebuah gedung besar yang indah (beberapa bagian masih dalam tahap renovasi). Setelah menyimpan sebagian perbekalan di penginapan, kami memulai malam minggu pertama kami di Itali dengan berjalan menuju pusat kota Milan. Sungguh sayang, sepanjang jalan kami tidak bisa menemukan tukang jagung atau ketan bakar, padahal dalam cuaca dingin seperti malam itu, jagung dan ketan bakar apalagi ditambah bandrek bisa jadi makanan favorite di Milan. Setibanya di Galleria Vittorio Emanuelle II, tepat di tengah-tengah Galleria kami disuguhi konser piano tunggal. Diiringi lagu klassik dan lagu populer, ditambah suasana megah dan indah, membuat rindu kami akan jagung bakar sedikit terlupakan. Setelah beberapa lama, udara dingin dan irama perut lapat yang memaksa kami meninggalkan konser tersebut. Ketika kami kembali dari makan malam kami, tanpa disangka kami dapat menikmati konser Natal Michael Bolton tepat di depan Duomo Milan, di barisan terdepan. Alhamdulillah, walau tanpa jagung bakar dan bandrek, malam minggu kami di Milan menjadi pengalaman yang luar biasa. (Kel. Nugroho)
  • Inter Milan Vs AC Milan. Alhamdulillah, harapan kami untuk bisa menyaksikan pertandingan besar ini terkabul. Keringat dingin dan perasaan tidak menentu telah menyergap dari pagi. San siro dan pertandingan dua tim besar Itali adalah salah satu daya tarik terbesar perjalan ini. Sebelum pertandingan kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat di Milan, namun karena pikiran dan perasaan telah terbang ke stadion San Siro, tidak banyak yang bisa Saya ingat dari perjalan pagi itu. Alhamdulillah kami mendapat tempat yang baik, pertandingan yang menarik, dan pengalaman yang luar biasa hari itu. (Mr. Nugroho)
  • Shopping in Milan. Hari ketiga di Milan kami dedikasikan untuk berbelanja. Alhamdulillah, kami bisa berbelanja air mineral, keripik, dan batu batere di Milan. Ternyata benar, Milan adalah kota pusat belanja, karena kami bisa menemukan banyak jenis air mineral, banyak jenis keripik, dan banyak jenis batu batere di sana :) namun sayang kami segan untuk masuk ke outlet2 lainnya (cuma numpang difoto di outlet Zara) karena melihat isi dompet yang tidak seberapa :( (Kel. Nugroho)
  • Kereta malam Italia. Kata orang: “Banyak jalan menuju Roma”, dan naek kereta malam mungkin salah satunya. Walaupun agak sempit, Alhamdulillah kami bisa sedikit memejamkan mata dan beristirahat. Serasa bagai ikut rombongan Julius Caesar yang baru pulang perang, bawa bawaan berat, badan agak pegel-pegel, dan kurang tidur, akhirnya ketika matahari terbit kami tiba dengan selamat di Roma. Alhamdulillah setelah mengisi perut dengan Croissant dan Cappuccino (menu sarapan selama seminggu ini) yang hmm lezatnya, pegal2 dan rasa kantuk pun terobati. (Kel. Nugroho)
  • Rome, La Città Eterna (“the Eternal City”). Alhamdulillah, Roma adalah salah satu kota terindah (setelah Bandung tentunya) yang pernah kami kunjungi. Kata beberapa orang yang telah berkali-kali berkunjung ke Roma, katanya tak akan pernah cukup kata untuk menceritakan keindahan Roma dan kami relatif setuju dengan pernyataan itu, oleh karena itu – kami bawa kamera :) karena kami percaya bahwa gambar bisa bercerita seribu kata, jadi kami membuat puluhan foto di Roma, yang Insya Allah bisa sedikit menceritakan betapa indahnya Roma. Di atas segala keindahan yang kami temukan di Roma, kami menemukan indahnya persahabatan. Alhamdulillah, dengan ijin Allah, kami bisa bertemu dan berkenalan beberapa teman baru. Terima kasih untuk teman-teman semua yang telah menjadikan perjalanan kami jauh lebih berarti, semoga Allah senantiasa meridhai dan mempererat ikatan silaturahmi diantara kita. (Kel. Nugroho)
  • Pantai di Venesia. Dari pertama kali kami berkenalan belum pernah kami punya kesempatan untuk berjalan berdua di pantai, jujur faktor utamanya karena sang suami tidak begitu cocok dengan udara panas di pantai. Alhamdulillah, akhirnya di kota Venesia tepatnya di daerah Lido, kami bisa menemukan pantai dengan suhu 3 -8 derajat celcius dan akhirnya untuk pertama kali kami bisa bergandengan tangan, walau dengan sarung tangan (ditambah syal dan jaket tebal), di pantai. (Kel. Nugroho)
  • Home Sweet Home. Alhamdulillah, selama perjalanan ini Allah telah mengijinkan kami mencoba berbagai tempat duduk dan sofa, dari tempat duduk pesawat, tempat duduk bus, tempat duduk kereta, tempat duduk perahu, dan berbagai jenis tempat duduk/sofa di ruang tunggu hotel, bandara, terminal, stasiun, dan pelabuhan. Namun tidak peduli apapun merek dan jenisnya, Alhamdulillah, Allah telah menganugrahkan kami sebuah sofa dan rumah di mana kami begitu bahagia bisa kembali ke sana. (Kel. Nugroho)

Filed under: catatan

Hadiah Kami

Mencari hadiah mungkin tidak jauh berbeda seperti memilih pasangan, kita tahu karakteristiknya namun kadang pilihan yang ada tidak bisa memenuhi karakteristik yang kita inginkan. Beberapa hari ini kami mencoba mencari hadiah untuk salah seorang teman dekat kami. Karakteristik hadiah yang kami cari sebenarnya hanya dua:

  1. Barang yang disukai/berguna bagi teman kami tersebut, dan
  2. Barang yang mampu kami beli.

Sayangnya hingga saat ini kami belum menemukan hadiah yang tepat. Masalah utamanya adalah bahwa pilihan yang ada tidak bisa memenuhi kedua karakteristik di atas. Ada barang yang kami yakin akan sangat berguna sekaligus akan sangat disukai namun tidak mampu kami beli, ada barang yang kami mampu kami beli namun kami tidak yakin akan berguna atau disukai.

Mungkin juga seperti halnya mencari pasangan, masalah kami dalam mencari hadiah adalah pada standar hadiah yang kami cari, bagus dan murah (dalam mencari pasangan mungkin tampan/cantik dan kaya)! Mungkin standar hadiah yang kami cari terlalu tinggi sehingga kami mengalami kesulitan untuk menemukannya. Jadi sebenarnya solusi untuk bisa mendapatkan hadiah secara mudah sebenarnya cukup sederhana, tinggal menurunkan standar hadiah yang dicari, dan karena hadiah adalah untuk orang lain, seharusnya menurunkan standar hadiah yang dicari bisa relatif lebih mudah (dibanding kalau kita mesti menurunkan standar pasangan yang kita cari).

Namun ternyata hal tersebut tidak semudah yang kami kira, menurunkan standar hadiah yang kami cari berarti kami harus “menurunkan” lebih banyak uang dari tabungan kami (untuk bisa membeli hadiah yang lebih mahal) atau mencari hadiah yang beresiko besar tidak terpakai atau tidak disukai teman kami.

Belajar dari istri tercinta, yang berpasangan dengan seorang pria yang jauuuuh dari sempurna (yang bilang Saya tampan bisa dihitung pake 2 jari), dia selalu bilang: “I love you just the way you are!”, mengingatkan bahwa perasaan jauh lebih penting dari segala karakteristik dan standar yang ada. Jadi mungkin sebenarnya tidak akan jadi masalah hadiah apapun nanti yang akan kami berikan selama kami bisa menyertakan segenap rasa sayang kami, ungkapan terima kasih kami, dan perasaan syukur kami bersama hadiah tersebut, kami yakin sahabat kami akan menghargainya dan bisa menikmatinya.

Ijinkanlah kami mempersembahkan blog ini dan semua yang ada di dalamnya sebagai hadiah kecil untuk teman-teman semua, sebagai ungkapan rasa sayang kami, terima kasih kami, dan syukur kami karena memiliki kalian semua sebagai teman baik. Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan dan Selamat Tahun Baru 2008 untuk teman-teman semua!

Filed under: tulisan papa

Alhamdulillah Weekend!

Besok sudah Weekend lagi, begitu cepat waktu berlalu. Minggu ini sangat istimewa, karena Alhamdullilah Ibu dan Bapak akan segera punya cucu pertama ;) Berikut rangkuman aktifitas kami seminggu ini :

  • Flohmarkt. Seperti biasanya hari Sabtu kami pasti menyempatkan diri untuk mengunjungi Flohmarkt (pasar barang-barang murah/bekas). Meskipun udara di luar sangat dingiin, tidak pernah menghalangi kami untuk pergi ke tempat satu ini, tujuannya hunting barang bekas murah yang masih sangat layak untuk dipakai :) Setelah berputar-putar, kami memutuskan untuk pulang dengan tangan yang masih tetap kosong, sedih rasanya jika harus pulang tanpa membawa hasil buruan. Tapi karena masih ada waktu, walau hanya beberapa menit, kami pun kembali memutar, dan tak sengaja ada seorang bapa menjual karpet, kebetulan sekali, karena tujuan awal memang ingin membeli karpet. Saking senangnya dan terburu-buru (tanpa meneliti keadaan karpet) karena kereta sebentar lagi datang, langsung saja kami beli. Selama perjalanan deg2-an :) dan sering2 mengucapkan Bismillah, mudah2an karpetnya tidak mengecewakan. Dan Alhamdulillah setelah dibuka karpetnya cukup bagus. Tapi kho, mirip dengan karpetnya Ican, cuma warnanya beda. Hehe.. maaf om Ican, kita dapet karpetnya lebih murah :)
  • Cucu pertama Ibu dan Bapak! Pulang dari kota keheranan karena suami masih di rumah sedang berbicara lewat Internet (Voip) dengan Pipit (adik kami). Tumben, katanya mau ke Uni, sudah siang kho belum berangkat juga. Mau gak mau nguping, karena menggunakan speaker. Dan Alhamdullilah ternyata adik kami sudah positif hamil. Insya Allah ini jadi cucu pertama Ibu dan Bapak. Walaupun cucu pertamanya bukan datang dari anak pertama, kami sekeluarga bener-bener besyukur dan bahagia. Denger Pipit sudah positif, kami jadi semakin termotivasi untuk terus “berusaha dan berlatih”, seperti kata orang bijak: Practice make perfect :) .
  • Idul Adha. Alhamdulillah kami solat Idul Adha di mesjid, meskipun mesjidnya tidak sebesar di Indonesia tapi Alhamdulillah penuh. Sayang, tidak di Indonesia, karena di sini gak ada yang bikin sate kambing :( Tapi kalau dipikir-pikir ada hikmahnya juga Idul Adha kali ini tanpa sate kambing, kerena klo ada sate kambing pasti ada yang makan satenya gak tau diri dan bikin tensinya naek! Tapi Alhamdulillah, malamnya Ican, Novie, dan Yuli “mengundang” (setelah kami memohon dan meratap) makan malem pake Gulai (baca: Guleee enaak!) plus tempe tahu goreng dan sambel pedes gak kira-kira! Makasih semuanya.
  • Kado Tahun Baru. Alhadullilah…minggu ini Sven, salah seorang teman baik kami, memberi kami sebuah hadiah tahun baru. Sehabis nerima hadiah langsung bingung, solanya kami bener-bener belum menyiapkan hadiah apa-apa untuk Sven, kami bahkan sempet spechless (gak bisa ngomong apa-apa) waktu Sven ngasih. Ketika kami menerima hadiah, seakan akan Allah mengingatkan kami betapa kami telah diberikan karunia yang begitu besar, dikelilingi banyak teman baik yang sungguh-sungguh telah banyak membantu kami dalam setiap hal (apalagi soal makanan – udah gak terhitung lagi banyaknya). Alhamdullilah. Terima kasih kami untuk temen-temen semua dan untuk temen-temen yang merayakan hari natal kami ucapkan selamat hari Natal! Für Sven: Danke vielmal! Frohe Weihnachten und wir wünschen dir ein gutes Neues Jahr!

Filed under: catatan

Ketika “Nein” Menjadi “Ja”

Kemarin sore, suami tercinta menyodorkan beberapa lembar kertas yang berisikan informasi mengenai harga tiket pesawat, hotel, tiket kereta dan akomodasi lainnya. Ternyata secara diam-diam, suamiku telah membuat rencana perjalanan untuk liburan akhir tahun nanti. Setelah membaca lembar demi lembar, tanpa berfikir panjang, hanya berdasarkan jumlah biaya yang tertera pada kertas-kertas tersebut (yang memang cukup mahal) dan mengingat saat ini cuaca sangat dingin, saya menolak rencana tersebut dengan mengatakan Nein (No).

Saat itu, suami terlihat kecewa. Saya kemudian bertanya, apakah saya telah mengambil keputusan yang salah? Suami menjelaskan mengapa dia kecewa, karena saya telah mengambil keputusan tanpa benar-benar mencoba melihat permasalahan dari berbagai sisi dan tanpa terlebih dahulu mengumpulkan informasi yang memadai.

Mengenai alasan saya tentang cuaca, suami mengingatkan kembali bahwa tidak ada cuaca yang salah (tidak mendukung), yang salah umumnya adalah cara kita menghadapi cuaca tersebut. Misalkan ketika winter, suhu di luar pasti dingin, tapi bukan berarti kita harus berlindung terus di balik selimut di dalam rumah sepanjang hari dengan alasan cuacanya kurang mendukung untuk beraktifitas di luar, selama kita memakai pakaian yang tepat kita insya Allah tetap bisa beraktifitas secara optimal sambil menikmati udara segar di musim dingin (di luar rumah).

Mengenai alasan biaya yang luar biasa, suami kecewa karena saya telah mengambil keputusan hanya berdasarkan besarnya angka, bukan nilai yang sebenarnya. Dengan kata lain saya telah mengambil keputusan tanpa terlebih dahulu mengumpulkan informasi yang memadai. Setelah suami coba jelaskan, ternyata biaya tersebut adalah biaya yang cukup optimal.

Akhirnya saya mengerti bahwa keputusan yang telah saya buat, yang hanya berdasarkan pada cuaca dan biaya yang besar, tanpa informasi tambahan lain, saat itu bukanlah keputusan yang tepat, atau mungkin saya telah terbuai dengan ceramah suami yang begitu panjang :) Akhirnya karena keputusan Nein (No) saya tidak diterima, ya sudah, jadi Ja (Yes)!

Hari itu saya belajar bahwa kadang kita diharuskan untuk memutuskan sesuatu dalam waktu yang singkat, saat itu umumnya kita hanya akan mengandalkan perasaan dan informasi yang saat itu kita miliki, itu tidak salah, namun ketika kita belum terbiasa dan informasi yang kita miliki masih sangat terbatas hal tersebut dapat membawa kita kepada keputusan yang kurang tepat. Di kesempatan lain kita memiliki cukup waktu untuk mengumpulkan informasi lebih sebelum mengambil suatu keputusan dan sebaiknya kita benar-benar memanfaatkan waktu tersebut secara optimal, mengumpulkan seluruh informasi yang mendukung dan menyempatkan diri mengkaji permasalahan yang ada dari berbagai sisi.

Semakin sering kita belajar mengambil keputusan secara baik, dari hal-hal paling kecil dalam kehidupan kita hingga hal-hal yang besar, semakin banyak informasi yang kita miliki, dan Insya Allah kita akan bisa mengambil keputusan tepat dalam waktu singkat.

Seseorang yang selalu saya buatkan kopi di pagi hari selalu bilang (mungkin sudah belasan kali): be your self, be brave, make your decision, and be responsible!

Filed under: tulisan mama

Alhamdulillah Weekend!

14 Desember 2007

Akhirnya tiba waktu untuk kembali ke appartemen mungil kami di Bielefeld, berikut perjalanan kami menuju appartemen mungil tercinta:

  • Kuala Lumpur. Sebelum kembali ke Bielefeld, kami sempat mampir ke Kuala Lumpur walau hanya 1,5 hari. Alhamdulillah kami tidak perlu menginap di hotel, karena telah disediakan akomodasi oleh keluarga besar East Heritage Kuala Lumpur (terima kasih banyak) dan sempat diantar jalan-jalan oleh Kang Tata dan Teh Ikeu keliling Kuala Lumpur. Yang pasti, kami tidak melewatkan untuk melihat menara Petronas. Di Suria KLCC kami bertemu seorang ibu yang baik hati yang menerangkan bagaimana menuju Skybrigde Petronas (tanpa beliau kami tidak akan pernah ke sana). Untuk menuju Skybridge ini, kami harus mengantri tiket yang Alhamdulillah gratis. Kemudian kami harus menunggu sebentar di ruang exhibition. Setelah itu kami dipanggil dan masuk ke dalam ruangan yang layaknya seperti bioskop, di sana kami harus menggunakan kacamata 3D untuk bisa menikmati film 3D tentang Petronas, cukup mengagumkan, benar-benar suatu media pemasaran dan pembelajaran yang efektif. Akhirnya kami menuju Skybridge dengan menggunakan lift yang berkecepatan tinggi, dari atas kami dapat melihat pemandangan kota Kuala Lumpur. Alhamdulillah, kami juga sempat berbelanja di Petaling Street, sholat di mesjid Jame’ dan jalan2 di Dataran Merdeka. Satu tip untuk teman-teman yang ingin mengunjungi Kuala Lumpur, sebaiknya jangan berencana untuk melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur pada hari Senin, karena banyak tempat2 yang menarik justru tutup pada hari Senin. (Kel. Nugroho)
  • Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Bandara udara di Kuala lumpur, sangat megah dan luas. Diakui sebagai salah satu bandara terbaik di dunia. Pesawat kami take off pada hari selasa dini hari sehingga kami berkesempatan menikmati suasana malam di KLIA. Ditemani roti canai susu (penganan khas Malaysia – seperti martabak) dan fasilitas free Hot Spot di bandara, membuat waktu menunggu menjadi tidak terasa. (Kel. Nugroho)
  • Emirates Business Class. Alhamdulillah, karena suami mendapatkan bonus, kami bisa juga menduduki tempat duduk di Business Class (gak pernah mimpi bisa duduk di sini, karena harga tiketnya mahal). Sempat bingung dengan tombol2 dan perlengkapannya, selalu bertanya ke suami, ini untuk apa dan bagaimana menggunakannya :) dan ternyata untuk kami (yang ukuran tubuhnya tidak terlalu tinggi) agak kerepotan dengan jarak tempat duduk yang agak jauh dari monitor (tv) yang touch screen. Ketika ditawari pilihan film (video on demand) dengan semangat kami memilih salah satu fim Bollywood, karena umumnya film Bollywood tidak membutuhkan banyak energi untuk dimengerti. Alhamdulillah, kami sangat puas dengan segalanya, makanannya, tempat duduknya yang sangat nyaman untuk beristirahat, dan pelayanan yang sangat baik. Alhamdulillah, mudah2an bukan yang terakhir :) (Mrs. Nugroho)
  • Jet lag. Akhirnya sampai juga di Jerman. Alhamdulillah teman2 menjemput kami (terima kasih banyak untuk Kel. Wiryana dan Kel. Abdul Rouf yang telah menjemput kami di bandara). Udara di sini sangat dingiin dan kami masih sangat jet lag sehingga seharian tidak keluar rumah. Bahkan untuk melangkahkan kaki untuk belanja terasa sangat berat, sehingga hanya makan indo mie dan bongkar oleh2 :) Besoknya coba untuk lebih semangat dengan cara nonton The Golden Compass di Cinestar Bielefeld. Tapi seperti biasa, kombinasi sofa empuk, gelap, dan film yang ternyata kurang menarik, telah membuai Kel. Nugroho untuk tertidur pulas (Mrs. Nugroho telah mulai terbuai sejak awal, Mr. Nugroho coba bertahan namun akhirnya tetap tergoda dan tertidur pada 15 menit terakhir). (Kel. Nugroho)

Filed under: catatan

Ketika Rp.25 tak lagi ada

Beberapa hari yang lalu kami berbelanja di salah satu supermarket besar di kota Bandung. Ketika melakukan pembayaran, kami seharusnya memperoleh uang kembalian sebesar Rp 1.275. Tetapi karena kasir tidak memiliki pecahan uang Rp.50 dan Rp. 25, maka kami hanya memperoleh uang kembalian Rp. 1.200. Hal tersebut berulang kembali ketika beberapa hari kemudian kami berbelanja di Supermarket yang lain. Dan hal tersebut ternyata selalu terjadi ketika melibatkan uang pecahan kecil (Rp. 25, Rp. 50, bahkan kadang Rp. 100).

Seingat saya hal ini telah berlangsung sejak lama, namun bedanya beberapa tahun yang lalu, kasir masih memberikan kompensasi berupa permen sebagai ganti uang kecil. Sekarang, mereka secara terang-terangan telah “mengkorupsi” uang kembalian kita tanpa kompensasi apapun, bahkan tanpa permohonan maaf!

Suatu hari Saya begitu marah atas perlakukan tersebut, namun setelah Saya renungkan kembali mengapa hal tersebut terjadi, sebenarnya kita (konsumen) juga telah ikut berperan membiasakan hal tersebut. Karena umumnya kita menganggap Rp. 25, Rp. 50, atau bahkan Rp. 100 tidaklah layak untuk diributkan. Namun kita sadari atau tidak, kita telah membudayakan suatu kebiasaan: membiarkan prilaku korupsi terjadi di depan mata kita, bahkan di depan anak-anak kita! Sehingga hal tersebut menjadi suatu suatu hal yang dipandang lumrah.

Bayangkan, ketika suatu supermarket rata-rata memiliki 1000 konsumen perhari, setiap dari mereka “merelakan” Rp. 25 rupiah uang kembalian mereka, maka dalam setahun supermarket tersebut telah memperoleh dana tambahan Rp. 9.125.000 (1000×25x365), lebih dari sembilan juta rupiah. Katakanlah ada 100 supermarket di Indonesia dengan jumlah konsumen di atas 1000 yang dipaksa merelakan Rp. 25 uang kembalian mereka, maka setiap tahun ada dana lebih dari 900 juta yang telah secara terang-terangan dikorupsi di depan mata konsumen!

Di Amerika saat ini sedang terjadi perdebatan mengenai ide untuk menarik 1 sen dollar dari peredaran dan menjadikan 5 sen dollar sebagai pecahan uang terkecil. Beberapa alasan pihak yang mendukung ditariknya 1 sen dollar dari peredaran adalah sebagai berikut: ongkos produksinya dan distribusinya yang semakin tinggi, alasan efisiensi, dan alasan keselamatan (karena koin satu sen dollar sangat kecil, bisa berbahaya bagi anak-anak). Pihak yang menentang ide di atas berargumen bahwa dengan ditariknya 1 sen dollar maka harga-harga akan menjadi lebih mahal (karena digenapkan ke harga yang lebih tinggi) dan hal ini akan sangat merugikan konsumen.

Sepengetahuan Saya*, hingga saat ini Bank Indonesia masih belum menarik peredaran uang logam pecahan kecil (bahkan untuk pecahan Rp. 1). Dengan kata lain, ke-tidakberadaan-an pecahan uang kecil di pusat-pusat perbelanjaan adalah tanpa alasan!

Uraian di atas, adalah gambaran sudut pandang Saya pribadi. Ketika Saya sampaikan hal ini pada istri, istri saya berkata, cobalah lihat dari sudut pandang lain, mungkin kita bisa melihat permasalahan ini dengan lebih baik. Kata-katanya yang mesra telah mendorong Saya melihat permasalahan ini dari sudut pandang pemilik supermarket. Mungkin mereka memang kesulitan untuk mendapatkan pecahan uang kecil, mungkin tanpa pecahan uang kecil mereka bisa melayani konsumen dengan lebih efisien (mempercepat waktu transaksi), dan mungkin mereka mencoba melindungi putra dan putri konsumen mereka dari bahaya menelan uang logam kecil. Tapi apa benar tidak ada solusi lain yang sama-sama menguntungkan?

Sebenarnya ketidakberadaan uang kecil di pusat-pusat perbelanjaan bisa diatasi dengan solusi sederhana. Kalau memang mendapatkan uang pecahan kecil sangat sulit, pusat-pusat perbelanjaan bisa membuat alat tukar khusus pengganti uang kecil, misalkan berupa kertas kecil dengan cap pusat perbelanjaan tersebut dengan nominal Rp. 25 atau Rp. 50 (jangan berupa permen) dan menginformasikan pada konsumen bahwa mereka hanya bisa menggunakan alat tukar tersebut di pusat perbelanjaan yang sama. Dengan cara ini konsumen tidak akan dirugikan dan bahkan mereka akan merasa sangat dihargai. Dan alat tukar khusus tadi bisa menarik konsumen untuk terus datang ke pusat perbelanjaan yang sama (menjadi media iklan yang lumayan efektif). Kita tidak bisa pungkiri bahwa mungkin ada sebagian konsumen yang benar-benar tidak membutuhkan uang kecil, oleh karena itu akan lebih baik jika di sebelah kasir juga disediakan sebuah kotak khusus. Bagi konsumen yang tidak membutuhkan pecahan uang kecil, mereka bisa memasukkan kertas pengganti uang kecil tadi dalam kotak tersebut, dan dalam jangka waktu tertentu pemilik supermarket bisa membuka kotak tersebut dan menyumbangkan uang yang terkumpul untuk kepentingan sosial. Bayangkan, jika benar-benar ada dana lebih dari 900 juta rupiah yang bisa terkumpul setiap tahunnya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk ikut serta memajukan bangsa ini.

Hal di atas mungkin hanya merupakan gambaran kecil, betapa banyak hal yang sebenarnya mampu kita perbaiki dan mungkin memberikan dampak yang besar. Tapi kita harus memulainya segera, salah satunya dengan mulai menuntut Rp. 25 uang kembalian kita, setiap kali kita berbelanja!

(* Saya tidak melakukan riset lebih mendalam mengenai peredaran uang pecahan kecil, sehingga claim tersebut di atas sebagian besar hanya berdasar pemikiran pribadi dan sebaiknya tidak dilangsung diterima tanpa dikaji lebih lanjut)

Filed under: tulisan papa

Alhamdulillah Weekend!

07 Desember 2007

Tak terasa sudah 2 minggu kami di Indonesia. Banyak pelajaran dan hikmah yang kami dapat, banyak bahagia dan tawa yang kami rengkuh, dan semakin dekat waktu kembali, semakin berat rasa dalam hati. Satu pelajaran penting yang kami dapat adalah untuk terus belajar ikhlas kepada Allah dan percaya bahwa apa yang terjadi pada kita adalah yang terbaik untuk kita. Sejak saat ini, tidak ada lagi kalimat “bersiap untuk keadaan terburuk”, melainkan “senantiasa siap untuk menerima yang terbaik” karena semua yang kita dapat, Insya Allah adalah yang terbaik untuk kita.

 

  • Gedung Baru. Setelah sekian lama, akhirnya almamater tercinta (Statistika UNPAD) punya gedung sendiri. Lumayan mentereng, walau belum selesai 100%. Ketika melirik ruangan dosen, ada satu ruangan kecil, tanpa jendela, sebelah tempat sholat, bertuliskan: EKO NUGROHO. Alhamdulillah, ternyata telah disediakan tempat kerja, sepertinya sengaja diberikan tempat tanpa jendela supaya bisa konsentrasi bekerja, dan didekatkan dengan tempat sholat supaya tidak ada alasan lupa sholat. (Jujur – pas pertama sempet coba cari-cari tempat lain yang lebih terang) (Mr. Nugroho)
  • Restauran Sambara. Setelah sekian lama, akhirnya kami berkesempatan makan malam bersama dua orang guru kami berserta keluarganya. Alhamdulillah, kami bisa sedikit menunjukkan terima kasih kami atas segala bimbingan, bantuan, dan dorongan yang senantiasa mereka berikan kepada kami. Sekaligus kami juga memohon doa restu mereka, agar segala usaha kami bisa mencapai hasil maksimal. Dengan menu khas makanan sunda, suasana restauran yang sangat mendukung, makan malam waktu itu menjadi sangat berkesan. (Kel. Nugroho)
  • Medical Check-Up. Entah suasana rumah sakit, entah kostum dokternya, entah tempat parkirnya, apapun itu, sepertinya sampai kapanpun gak akan bisa dengan tenang dan senyum mengembang datang ke rumah sakit, apalagi untuk ditusuk jarum suntik :( Dua hari berturut-turut mesti datang ke rumah sakit, di hari kedua, muncul hasil yang lumayan bikin terkejut – tekanan darah 140/100! Dokter yang memeriksa bahkan sampai menganjurkan agar Saya menemui dokter spesialis, karena untuk seseorang yang baru berumur 27 th, tekanan darah tersebut terlalu tinggi. Berbekal keyakinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh gulai kambing, sate kambing, sop kambing, nasi goreng kambing, dan tongseng kambing yang jadi menu favorit selama satu minggu terakhir Saya mohon ada pemeriksaan ulang. Setelah istirahat 1 jam, akhirnya tekanan darahnya bisa turun ke batas normal 130/90… Alhamdulillah. (Mr. Nugroho)
  • Ubi rebus on Sky Cafe. Menikmati ubi rebus memang lebih nikmat di tempat yang tinggi, diselimuti hawa dingin, ditemani secangkir kopi, dan diiringi obrolan sana-sini. Alhamdulillah, dapet kesempatan menikmati semua itu, di lantai 24 gedung 2 BPPT Jakarta. Diterima dengan hangat oleh tuan rumah, Bapak Kusmayanto Kadiman, dan berkesempatan bertemu langsung dengan teman2 dari Netsains membuat suasana sore itu sangat menyenangkan. Walaupun sempat sangat berharap bahwa ubi rebus menjelma menjadi nasi goreng atau minimal mie rebus (soalnya cuma sempat sarapan bubur jam 07 pagi). (Mr. Nugroho)
  • Lien Auliya Rachmach. Kamis minggu ini kami mendapat kehormatan bertemu salah seorang penulis muda paling berbakat yang pernah kami kenal. Bukunya yang berjudul: Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah, telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi kami. Kata-katanya begitu indah, puisi-puisinya begitu menggugah, dan berbagai hal di dalamnya penuh dengan hikmah. Terima kasih Lien, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan limpahan rahmat untuk Lien. (Kel. Nugroho)

Filed under: catatan

Image!

Suamiku bilang, agar mudah dikenal dan diingat oleh orang2 di sekeliling kita, kita harus bisa menanamkan image (kesan) diri kita pada orang-orang tersebut. Walaupun sangat subjektif, umumnya kita bisa menklasifikasikan image menjadi dua: the good image (kesan yang baik) ataupun the bad image (kesan yang kurang baik). The bad image umumnya lebih mudah ditanamkan, karena biasanya orang lebih mudah mengingat keburukan seseorang dibanding dengan kebaikannya. Tetapi orang yang bisa menanamkan good image tentunya lebih banyak diburu, contohnya ketika kita masih kuliah, teman yang mempunyai image paling rajin pasti diburu oleh teman-temannya, terutama ketika waktu ujian, semuanya selalu ingin duduk disebelahnya :)

 

Selain dari dua klasifikasi image tersebut di atas, kita bisa memilih untuk menanamkan image unik. Image unik ini bergantung dari sisi mana seseorang melihatnya, bisa dianggap sebagai image baik atau seseorang bisa menilainya sebagai image yang kurang baik. Contohnya, image tukang minta makan (seperti suami saya). Ada sebagian orang yang menganggap kurang baik, ih gak punya modal, kerjaannya hanya cuma minta makan saja. Tetapi ketika mereka mencoba melihatnya dari sisi lain, umumnya mereka juga mengakui bahwa hal tersebut cukup efektif untuk mempererat tali silaturahmi (asal jangan sehari 3 kali tentunya) dan membuka kesempatan untuk sedikit beramal (memberi makan orang yang selalu laper :)

 

Ada satu pengalaman pribadi berkaitan dengan image ini. Tidak sengaja saya sering bilang ‘terlalu mahal’ pada segala barang-barang ketika saya dan teman saya sedang berbelanja, maklum tidak terbiasa melihat harga-harga di sini (karena selalu saya hitung dalam Rupiah). Kalau masih bisa mendapatkan harga yang murah dan masih layak, saya lebih suka membeli barang-barang di pasar murah (flohmark) dibanding di toko. Kemudian untuk buku, kalau hanya dipakai untuk jangka waktu yang pendek, saya lebih suka untuk memfotokopi daripada membeli dengan harga yang cukup mahal, dengan kata lain Saya selalu mencoba untuk bisa se-efesien mungkin dalam membelanjakan uang yang ada. Karena terlalu sering mengatakan ‘terlalu mahal’, secara tidak langsung saya telah menanamkan image ‘tidak punya uang’. Dan suatu ketika, salah satu teman baik saya memberikan hadiah pada saya berupa uang yang jumlahnya tidak sedikit (diberikan pada Saya dalam amplop). Otomatis saya terkejut, karena sebetulnya saya tidak memerlukan uang tersebut.

 

Setelah berpikir kenapa hal tersebut terjadi, ternyata karena saya telah menanamkan image yang salah. Tetapi dibalik itu semua saya pun menjadi mengerti, image apa pun yang kita tanamkan baik secara sengaja atau tidak sengaja, Insya Allah teman yang baik akan selalu mengerti dan selalu ada untuk kita. Jadi jangan takut dalam memilih image selama image yang kita tanamkan adalah gambaran yang sebenarnya tentang diri kita, Insya Allah kita akan memperoleh kebaikan darinya. So…be confident, be your self, and be responsible!

Filed under: tulisan mama

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey