Workshop Layangan

Tag


Dari sejak lama ingin sekali ngajak ponakan untuk ikut kegiatan komunitas, supaya mereka bisa dapetin pengalaman baru. Kabetulan hari ini dapet info ada workshop layangan, langsung saya ajak ponakan untuk datang ke acara tersebut. Tempatnya asik karena di taman di dalem kampus ITB, hijauuu.

Waktunya pas banget, pas nyampe pas acaranya dimulai. Anak-anak diajak mengekspresikan cita-sitanya menjadi gambar yang merka lukis dengan cat air di atas layangan. Seruu. Ada anak yang gambarnya sesuai dengan cita-cita mereka, tapi ada juga yang cita-citanya “sementara” diganti, karena bingung harus gambar apa yang sesuai dengan cita-citanya :D.

Setelah gembarnya selesai, layangannya dihias dengan pita dan dicoba diterbangkan. Tapi sayang, tadi cuacanya kurang mendukung karena tiba-tiba gerimis, jadi acaranya harus segera bubar. Dengan agak terburu-buru saya juga langsung ajak ponakan segera ke mobil dan pulang.

Alhamdulillah acaranya seru, Alva dan Iky juga keliatannya bisa menikmati seluruh prosesnya. Iky malah terlihat akrab dengan kakak panitianya, banyak cerita tentang gambar yang ia bikin. Sampe ketika kita mau pulang kakak panitianya cerita kalau Iky punya imajinasi yang kuat. Mudah-mudahan acara tadi bawa cerita dan gembira buat Alva dan Iky, saya pribadi happy di acara tersebut.

Ini layangan hasil karya Iky dan Alva:

ImageImageImage

Life Museum

Tag


Gara-gara baca bukunya Keri Smith “How to be an explorer of the world – portable art life museum.” jadi pengen punya life museum pribadi juga. Mudah-mudahan web ini bisa mewakili :).

 

Ada sedikit cuplikan dari buku Keri Smith, yang ingin saya bagi:

At any given moment, no matter where you are, there are hundreds of things around you that are interesting and worth documenting.

Bukunya mengingatkan kita untuk bisa mendokumentasikan beberapa hal yang menarik yang ada di sekitar kita. Hal ini menarik karena dengan begitu kita bisa melihat lebih detil terhadap sesuatu dan yang terpenting adalah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.

So, mudah-mudahan mulai hari ini saya juga bisa mendokumentasikan beberapa hal yang menarik yang kita temui di keseharian.

Di bawah ini, salah satu foto yang menurut saya menarik hari ini :)

Image

Learning & Playing with Cancer Patients

Tag


Image

What can we do to cheer kids with cancer? There are many ways, but maybe we can learn something from Mrs. Dina, one of the volunteer teachers in the children’s cancer center in Bandung (YKAKB -Yayasan Kasih Anak Kanker Bandung).

She has been volunteering for about six months in YKAKB.  And in these six months, there are about 75 child cancer patients that she has met. They vary from babies to teenagers. The children come from poor families in West Java.

Each week, she comes to YKAKB and teaches English to the children and parents. She brings a program of learning English in a fun way. As an ice breaker, she usually starts the program by asking the children to sing English songs together. By singing songs, the cancer patients can forget a little bit about their illness, they can enjoy the song and have fun. Not only singing, to make the learning process more fun, Mrs. Dina always bring board games.

Before she ends the teaching session, she usually asks the children to play board games. By playing board games, the children can learn English while having fun. We can teach about numbers, colors, etc. It’s fun and the children love it.

When I knew that Mrs. Dina is using board games in her teaching program, it makes me happy. Because what we believe, that board game has a lot of potentials, is true. Board game is a good media to teach many things to every children, even when they are in difficult conditions.

Bapak Penjaga Gedung

Tag


Malam itu saya harus mendatangi sebuah gedung di sekitar jalan Asia Afrika. Karena baru pertama kali, gedungnya terlewati dan tempat parkir terdekat berjarak agak jauh dari gedung tersebut. Terpaksa saya parkir di tempat tersebut dan berjalan kaki menuju gedung tersebut.

Ketika urusan selesai, saya harus jalan sendiri menuju tempat parkir tadi. Kaget juga ketika berjalan, di depan saya terlihat banyak tuna wisma berjejer menggelar alas tidurnya di depan ruko-ruko yang sudah tutup, dan saya harus berjalan melewatinya. Ada perasaan was-was karena saya, wanita dan berjalan sendirian. Seketika saya mempercepat langkah, berdoa dan berusaha menghilangkan semua perasaan negatif.

Sepintas saya melihat ada seorang Bapak yang mengendari motor pelan-pelan mengamati saya dari kejauhan. Dan ketika saya sudah mendekati tempat parkir, beliau mendekati saya. Ternyata beliau adalah Bapak penjaga gedung yang baru saja saya datangi. Beliau agak khawatir sehingga mengikuti saya dari belakang. Lalu saya jelaskan bahwa saya bawa kendaraan sendiri. Dan Bapak itu pun terlihat lega.

Alhamdulillah dari kejadian ini saya diingatkan, bahwa Allah selalu menjaga kita dengan cara-Nya. Semoga Bapak Penjaga Gedung yang baik itu selalu dilindungi Allah SWT dan semoga para tuna wisma tersebut bisa memperoleh tempat tinggal yang lebih baik. Aamiin.

Just play, and you’ll be happy :D

Tag



What was activity that we loved to do when we were kids? Of course playing. Kids love to play, they play almost all the time.

 
I have 3 years old nephew, he loves to play. Even if he can’t ask someone to play with, he can still play. He plays with ants. Maybe it’s sound weird, but it’s true. He plays with them and he is happy. I also have 9 years old nephew, he loves to play with his friends, toys and board games. He looks also so happy when he play.

 
Everytime I came to meet both of them, they were so happy, because me and my husband always spend sometimes just to play with them. We played hide and seek, board games, traditional game called “cingciripit”, etc. I love to play with them, because it is fun and it also makes me happy.

 
Together with Kummara’s team, we bring board games almost everywhere: school, office, mall, hospital, even on the street. We ask kids and everyone to play with. They are happy and we are even more happier.

 
So, if you think it is hard to find happiness, just play. If you wants your kids to be happy, just play with them and show them how much you love them. Playing is the simplest way to find and share happiness.

Kenapa ngoleksi board game?

Tag

, ,


Satu pertanyaan dari temen volunteer, di tengah acara Happy play.

Kenapa suka ngoleksi board game?

Spontan, saya bilang karena saya suka main board game. Semejak dikenalin board game eropa oleh mas eko, saya langsung suka dengan permainan ini, karena banyak hal. Rata-rata board game eropa punya desain yang sangat bagus. Baik board game eropa yang untuk anak atau pun dewasa punya artwork yang luar biasa. Mekanisme permainannya begitu kreatif dan sangat bervariasi. Saya, dari kecil sampai beres kuliah, hanya sempat mengenal mekanisme permainan papan yang itu2 saja: ular tangga, ludo, catur, monopoli.. sebatas itu. Saat mulai main board game eropa, saya mulai mengenal beberapa mekanisme permainan yang baru. Kadang saya suka bertanya-tanya sendiri sekaligus kagum dengan pembuatnya, bisa ya sebuah permainan punya mekanisme seperti itu. Ide board game eropa memang keren-keren.

Karena suka bermain board game, mas Eko dan saya mulai mengoleksi board game ketika kami sempat tinggal di Bielefeld, Jerman. Kebetulan di Bielefeld, setiap hari sabtu selalu ada pasar rakyat (flohmarkt). Penjual di sana rata-rata adalah para penduduk (keluarga) yang ingin menjual barang-barang yang sudah tidak terpakai di rumahnya, jadi sebagian besar barang-barangnya masih cukup bagus. Dan yang luar biasanya, di kota ini banyak yang menjual board game, dari yang klasik sampai yang baru (packagingnya belum dibuka sama sekali). Harganya tentu sangat ‘miring’ karena termasuk barang bekas. Kalau beruntung kami bisa dapet board game berharga 1 euro (15ribu saja).

Hunting board game di tempat ini selalu seru, sebelum membeli kami biasanya melihat pengarangnya, membaca sekilas ‘rule book’nya dan mengecek satu per satu komponennya, kami hanya membeli board game yang masih lengkap. Yang menjadi tantangan adalah ketika musim dingin. Menghitung board game dengan tangan yang terbungkus sarung tangan tidaklah gampang :D, tapi tetep nyenengin. Selain dari flohmarkt, kami juga hunting board game di ebay dan toko mainan, cari board game yang sedang di diskon. Membeli board game di ebay juga tidak kalah serunya, karena harus selalu memantau harga dan memilih penjual yang memang reputasinya baik.

Saya biasanya mencari board game untuk anak-anak. Saya ingin anak-anak mulai mengenal board game, juga anak saya nanti (Amin, jika diijinkan Tuhan). Mas Eko, biasanya mencari board game untuk dewasa. Hampir tiap minggu kami ke flohmarkt. Gak kerasa board game kami membludak di ruang apartemen kami :), pelan-pelan kami kirim board game koleksi kami ke Indonesia.

Kami bangun kummara dan mulai membagi kesukaan bermain board game ke banyak orang. Di car free day perdana, kami bawa board game dan sempatbbermain board game dengan Bapak Polisi :). Kami juga bawa board game ke panti asuhan dan sempat bermain board game dengan anak jalanan. Di happy play, kami berbagi gembira bermain board game dengan pasien anak. Alhamdulillah, hari ini, banyak tanda bahagia di koleksi board game kami. Semakin ‘lecek’ board game kami, berarti semakin banyak orang yang bergembira :D.

Let’s spread the board game love to everyone =D

Belajar dari 2 Sobat Cilik

Tag

,


Sejak tahun lalu, kummara punya program sosial Happy Play, mengajak pasien anak yang sedang nunggu antrian di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk bermain boardgame. Untuk menunjang program ini, Kummara selalu mengajak beberapa volunteer untuk ikut gabung di kegiatan ini, namun karena jadwalnya di weekdays, volunteer yang gabung biasanya hanya terbatas (1-3). Ada kejutan baru di 2012 ini, Happy Play perdana, 19 januari 2012 lalu begitu seruu karena gak nyangka, ada 8 orang volunteer yang gabung. Two thumps untuk antusiasme temen- temen volunteer: Nisa, Chita, Aughya, Anchi, Fanny, Finna, Puput dan Agus.

Seperti biasa acara ini dimulai jam 9 pagi, fokus kegiatan di ruang tunggu poli anak RSHS Bandung. Ketika kami datang, poli anak terlihat cukup penuh, sedih juga berarti banyak anak yang sakit hari ini. Lalu kami bongkar beberapa boardgame dan mulai mengajak para pasien untuk bermain. Karena banyak volunteer yang gabung, saya hanya fokus dengan 2 anak, namanya Petra dan Noval. Keduanya berumur 5 tahun. Petra terlihat ceria dan murah senyum, terkadang masih sedikit malu-malu. Noval lebih pendiam, tapi ketika diajak bercerita, ia semangat bercerita. Sepintas mereka terlihat seperti adik-kakak.

Kami bermain beberapa board game yg dibawa kummara. Sambil bermain, saya ajak mereka bercerita tentang penyakitnya. Keduanya sakit Leukimia, dan harus kontrol ke rumah sakit seminggu sekali. Sedih, karena anak sekecil itu harus berjuang dengan penyakit yang berat. Perjuangan mereka tidak hanya di situ, karena ternyata Noval tidak tinggal di Bandung, tapi di Cirebon. Bersama Ibunya, seminggu sekali, ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk berjuang mengobati penyakitnya. Perjuangan Petra ke RSHS mungkin sedikit ringan, karena ia tinggal di cimahi, yang tidak jauh dari kota Bandung.

Petra dan Noval terlihat kompak, meskipun bukan bersaudara. Mereka bertemu di RSHS dan di tempat inilah mereka memulai persahabatan. Mungkin karena mereka mempunyai penyakit yang sama, mereka bisa mengerti satu sama lain. Entah sampai kapan persahabatan mereka bisa terus terjalin, kita hanya bisa berdoa: semoga mereka bisa tetap bergembira dan tetap semangat berjuang menghadapi penyakitnya.

Thanks to Petra and Noval.. Hari ini saya bisa belajar kesabaran, perjuangan dari kalian, anak-anak yang hebat.

WalkingWeekend


Terinspirasi dari sebuah film “The Way” -menceritakan perjalanan seorang Ayah untuk mengenang anaknya yang telah meninggal dunia, dengan berjalan kaki dari Perancis ke Spanyol, biasa disebut El camino de Santiago-, saya dan honey membuat sebuah program Walking Weekend.

Insya Allah setiap weekend, kami akan mengambil satu hari untuk berjalan kaki ke mana saja.Walking Weekend perdana telah kami laksanakan, hari Sabtu, 3 Desember 2011 lalu. Rute yang kami coba adalah:

  1. Tubagus-sekeloa-dipatiukur. Pitstop pertama adalah tenda pisang goreng ketan :)
  2. Dipatiukur-teuku umar-ir.h.juanda-sulanjana. Pitstop kedua, bubur Mang Oyo, karena kebetulan ada janji di sana. Selesai ngebubur, jalan sedikit ke taman sari, ada perlu jait celana :D.
  3. Tamansari-sawunggaling-punrnawarman-merdeka. Pitstop ketiga yogya merdeka. Tempat yang asik untuk duduk santai, mengistirahatkan kaki.
  4. BIP-Gramedia. Jalan di mall, ini rute berat, kalo kata honey: Berat diongkos, berat di bawaan, dan berat di hati :)
  5. Surapati-gagak-sidomukti. Agak loncat, karena dari gramedia sempet naik angkot dulu :). Jalan di mall itu bener-bener bikin kaki pegel. Pitstop ke lima di kummara, saking exciting baru beli kaset wii, langsung main just dance, pegel di kaki terlupakan, pindah ke tangan :).
  6. Rute terakhir. Sidomukti-gagak-sadangserang-tubagus. Alhamdulillah sampe rumah dengan selamat.

Seru, ternyata sebagian bandung masih OK buat jalan kaki. Mudah-mudah weekend kedepan masih bisa Walking Weekend lagi. Ada yang mau ikut?

Life is too big to walk it alone - The Way

Kebelet

Tag


Kalo kebelet biasanya karena kita ingin buang air kecil, dan ini kadang menyiksa. Kita baru bisa lega, setelah bisa ngelakuinnya. Yang ini beda, kebeletnya pengen beli novel dan pengen baca. Pernah ngalamin?

Saya pernah. Karena sibuk dengan pekerjaan dan urusan lainnya, saya gak punya waktu untuk jalan-jalan ke toko buku. Keinginan itu makin lama makin besar, akhirnya ketika ada waktu senggang, saya sempetin datang ke toko buku.

Liat banyak novel, banyak yang ingin dibeli, tapi tiba-tiba inget sesuatu, gak ada budgetnya :(. Bolak-balik liat harga novel yang satu dengan yang lainnya. Pengen yang ini dan yang itu, tapi inget lagi, kalau bulan ini gak ada budget untuk beli buku, karena sudah terpakai untuk hal lain. Bingung.

Mondar-mandir.. Ada satu novel yang udah ‘manggil-manggil’ ingin dibeli, novel kecil yang berjudul “Saga no Gabai Bachan, Nenek Hebat dari Saga”. Saya ambil novelnya dan baca ringkasannya, sepertinya ceritanya menarik. Yah, nanti deh bulan depan belinya. Saya simpan lagi novelnya.

Tapi, entah kenapa, mungkin karena kebeletnya udah gak terbendung lagi dan saya udah terlanjur kepikat dengan novel tersebut. Akhirnya tanpa mikir panjang, saya beli  juga novelnya. Urusan budget, tinggal ngurangin budget bulan depan deh :).

Setelah beli, karena kebelet baca juga, langsung saya baca selama perjalanan pulang naik angkot. Kebeletnya ilang, lega rasanya :D. Saya sangat menikmati novelnya, dan banyak yang bisa saya pelajari dari Nenek Osano. Alhamdulillah.

Kebelet memang baru akan hilang, kalau kita sudah melaksanakannya. Selama kebeletnya untuk hal positif, supaya gak nyiksa ya harus kita lakukan, tapi tentunya dengan cara-cara yang positif juga. Selamat kebelet :D!

Tes Praktek SIM, Bukan Sekedar Tes Biasa


Resiko mempunyai kendaraan baru, selain harus pintar ‘memelihara’, juga tentunya harus punya surat izin mengemudikannya (SIM).

Entah mengapa ketika harus membuat SIM, terlintas rasa ‘malas’. Mungkin karena saya masih punya pikiran kuno, ‘pasti ribet, pasti ngantri, dan harus melewati prosedur yang sulit’. Tapi karena ‘butuh’ saya coba jalani.

Berbekal informasi di internet, saya sudah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pembuatan SIM yaitu fotokopi KTP yang berlaku, dan sejumlah uang. Sesampainya di Polres, saya masuk pintu utama, di situ saya menanyakan di mana tempat pembuatan SIM. Bapak yang menjaga di kantor tersebut tidak langsung menjawab malah menanyakan sesuatu yang terasa sedikit ‘aneh’, “Mau buat SIM sendiri?” lalu saya menjawab, “iya Pak”. Beliau kemudian menunjukkan arahnya kepada saya. Hmm, nampaknya ‘jalur nembak’ masih ada dalam proses pembuatan SIM.

Ternyata tidak jauh dari tempat tadi, saya langsung menemukan tempat yang dimaksud. Banyak tersedia papan petunjuk yang memberikan informasi bagaimana proses pembuatan SIM, dan ada pos khusus yang akan menjelaskan bagaimana tata cara pembuatan SIM. Berhubung saya juga sudah membaca langkah-langkahnya di internet, maka saya tidak menghabiskan waktu untuk bertanya, saya langsung mencari pos kesehatan untuk melakukan tes kesehatan.

Ada petunjuk yang mengarah kepada pos kesehatan, saya ikuti arah tersebut, namun saya sempat salah masuk, yang saya masuki adalah polikliniknya, sedangkan tempat pemeriksaan kesehatan untuk pembuatan SIM, berada di sebelahnya :). Tidak ada antrian, jadi saya bisa langsung memasuki ruang pemeriksaan. Sangat mudah dan cepat. Saya hanya menyerahkan KTP (yang nantinya dikembalikan lagi), kemudian diperiksa tekanan darah, tes buta warna (hanya 4 pertanyaan) dan tes penglihatan (menyebutkan huruf2 di baris ke5). Kemudian, ditanya tentang tinggi dan berat badan. Setelah itu, saya mendapatkan kertas hasil tes kesehatan, lalu membayar uang sejumlah Rp. 25.000. 25rb untuk secarik kertas tipis bertanda-tangan dan bercap :). Hmm, berbeda dengan yang saya baca di internet yang kisarannya Rp. 10.000-Rp.15.000. Mungkin memang sudah mengalami kenaikan.

Setelah itu, saya menuju loket pendaftaran. Di situ, saya menyerahkan hasil tes kesehatan, dan foto kopi KTP. Lalu mendapat nomor untuk melakukan tes teori. Kesulitan saya waktu itu, adalah menemukan ruangan tes teori, karena tidak ada petunjuknya, yang ada malah sebuah pintu dengan tanda berupa tulisan ‘selain petugas dilarang masuk’. Dan saya harus memasukinya. Haha.. petunjuk yang aneh. Ruangan tersebut berada di belakang loket pendaftaran, untuk menuju ruang tersebut, saya harus memasuki pintu yang bertanda aneh tersebut :).

Ruangannya cukup luas, sudah tersedia layar proyektor dan kursi-kursi. Saya menunjukkan nomor antrian, lalu saya dipersilahkan menduduki kursi no.3. Kursinya dari kayu dengan dudukan tangan khusus, sehingga di atasnya terdapat 2 tombol, bertuliskan Benar dan Salah. Sistemnya sudah cukup canggih, sehingga tidak memerlukan kertas dan pinsil/pena. Cukup menekan tombol tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Tes dimulai ketika seluruh peserta sudah hadir. Sebelum tes, tombol-tombol tersebut diuji apakah sudah berfungsi dengan baik. Setelah itu tes dimulai. Seluruh petunjuk disampaikan melalui slide di layar proyektor. Cukup menegangkan, karena setiap pertanyaan harus dijawab kurang dari 15-20 detik. Pertanyaannya ada 2 jenis, menganalisa gambar dan menganalisa situasi (biasanya situasi diulang 2-3x). Di sini, saya harus berkonsentrasi, mendengarkan, melihat dan menekan tombol.

Kesulitan saya menghadapi tes teori ini, adalah 1) ruangan kurang gelap, sehingga gambar menjadi kurang jelas, 2) pertanyaan kadang muncul ditengah-tengah, sehingga konsentrasi kita harus berpindah, setelah mendengar pertanyaan, 3) waktu yang sangat singkat. Nilai lebih dari tes teori ini adalah setelah seluruh peserta menjawab, akan disampaikan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, sehingga menambah informasi kepada kita, bagaimana etika di perjalanan, juga sedikit tentang rambu-rambu lalu lintas yang penting. Namun syukurlah, saya berhasil lulus di tes teori ini. Hanya terpaut 1 poin dengan skor tertinggi saat itu. Tes ini juga saya lalui dengan cepat.

Setelah itu saya harus menunggu untuk tes selanjutnya, yaitu tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil dan motor, sudah ditentukan jadwalnya (hal ini harus diperhatikan, supaya tidak menunggu lama di sana). Biasanya tes praktek motor didahulukan, baru kemudian tes praktek mobil (dimulai jam 11.30an).

Ketika menunggu, saya berbincang-bincang dengan bapak-bapak yang senasib dengan saya, kebetulan yang membuat mobil saat itu hanya bapak-bapak :). Salah satu dari mereka, terlihat begitu tegang, beliau menyampaikan tentang tes praktek mobil yang akan kami hadapi bersama. Beliau juga sudah mencari informasi kalau ingin tes prakteknya diluluskan harus membayar sejumlah uang sebesar Rp. 50.000. Tapi, kami semua menunggu, tetap penasaran dengan tes prakteknya.

Karena posisi tempat duduk saya langsung berhadapan dengan tempat tes praktek motor, saya juga melihat beberapa orang yang tidak lulus tes ini. Mereka diberi 2x kali kesempatan untuk tes praktek ini, jika keduanya gagal, maka harus diulang 2 hari kemudian. Ternyata cukup sulit untuk lulus tes ini.

Setelah lama menunggu (karena saya datang kepagian), akhirnya saya pun dipanggil untuk melakukan tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil, hanya diberikan 1x kesempatan, begitu gagal harus diulang 2 hari kemudian atau maximal sampai 3 bulan. Sangat tegang, karena memang cukup sulit. Mobil dikelilingi patok-patok (kiri-kanan dan belakang), jarak patok ke mobil hanya 20cm. Ceritanya itu adalah garasi mobil yang sempit. Dari garasi mobil, saya harus mengeluarkan mobil lalu berbelok ke kanan menuju tempat parkir (dibatasi patok juga, namun ruangnya besar), setelah itu saya harus berjalan mundur, berbelok dan memasukan mobil kembali ke garasi yang sempit tadi. Hal tersebut harus dilakukan sekaligus, jadi tidak boleh memindahkan gigi (misal pindah ke gigi depan, maju dulu kemudian mundur lagi untuk mengatur posisi kendaraan). Jika tes tadi berhasil dilakukan, lakukan kembali ke arah sebaliknya (berbelok ke kiri). Fuihhh.. ternyata cukup sulit buat saya. Banyak yang gagal menghadapi tes ini, dan saya pun termasuk di dalamnya :D

Satu orang langsung mengundurkan diri setelah melihat tesnya terasa sulit, mungkin beliau memilih ‘jalur cepat’ saja. Beberapa orang menganalisa dan sedikit protes, karena hanya diberikan 1x kesempatan, sedangkan motor 2x kesempatan, mengapa dibedakan. Namun memang prosedurnya sudah begitu, jadi tetap tidak dipedulikan petugas. Beberapa orang yang gagal memohon untuk ‘dipermudah’ untuk diluluskan namun petugas tidak bisa membantunya, tetap harus mengulang 2 hari ini. Saya salut juga dengan para petugas yang telah menolak ‘ketidakjujuran’ ini.

Selidik selidik dari blog tetangga yang tinggal di jakarta, ternyata tes praktek mobil ini juga tidak ada standarisasinya. Tes praktek di jakarta jauh berbeda dengan tes praktek di sini. Aneh juga yaa..

Anyway, hari ini saya melihat bahwa masih banyak orang yang berbuat jujur, namun beberapa orang kembali berniat untuk ‘tidak jujur’ karena sistem yang mereka anggap mempersulit (tidak adanya kesempatan ke2 untuk yang gagal) dan untuk membayar waktu yang terbuang hari itu.

Apakah sistem yang harus diperbaiki, atau kah niat kita yang harus diperbaiki?

Waktunya kita menguji diri sendiri :D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.