Sofa Berdua

Dari Sofa Untuk Semua

Belajar dari 2 Sobat Cilik

Sejak tahun lalu, kummara punya program sosial Happy Play, mengajak pasien anak yang sedang nunggu antrian di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk bermain boardgame. Untuk menunjang program ini, Kummara selalu mengajak beberapa volunteer untuk ikut gabung di kegiatan ini, namun karena jadwalnya di weekdays, volunteer yang gabung biasanya hanya terbatas (1-3). Ada kejutan baru di 2012 ini, Happy Play perdana, 19 januari 2012 lalu begitu seruu karena gak nyangka, ada 8 orang volunteer yang gabung. Two thumps untuk antusiasme temen- temen volunteer: Nisa, Chita, Aughya, Anchi, Fanny, Finna, Puput dan Agus.

Seperti biasa acara ini dimulai jam 9 pagi, fokus kegiatan di ruang tunggu poli anak RSHS Bandung. Ketika kami datang, poli anak terlihat cukup penuh, sedih juga berarti banyak anak yang sakit hari ini. Lalu kami bongkar beberapa boardgame dan mulai mengajak para pasien untuk bermain. Karena banyak volunteer yang gabung, saya hanya fokus dengan 2 anak, namanya Petra dan Noval. Keduanya berumur 5 tahun. Petra terlihat ceria dan murah senyum, terkadang masih sedikit malu-malu. Noval lebih pendiam, tapi ketika diajak bercerita, ia semangat bercerita. Sepintas mereka terlihat seperti adik-kakak.

Kami bermain beberapa board game yg dibawa kummara. Sambil bermain, saya ajak mereka bercerita tentang penyakitnya. Keduanya sakit Leukimia, dan harus kontrol ke rumah sakit seminggu sekali. Sedih, karena anak sekecil itu harus berjuang dengan penyakit yang berat. Perjuangan mereka tidak hanya di situ, karena ternyata Noval tidak tinggal di Bandung, tapi di Cirebon. Bersama Ibunya, seminggu sekali, ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk berjuang mengobati penyakitnya. Perjuangan Petra ke RSHS mungkin sedikit ringan, karena ia tinggal di cimahi, yang tidak jauh dari kota Bandung.

Petra dan Noval terlihat kompak, meskipun bukan bersaudara. Mereka bertemu di RSHS dan di tempat inilah mereka memulai persahabatan. Mungkin karena mereka mempunyai penyakit yang sama, mereka bisa mengerti satu sama lain. Entah sampai kapan persahabatan mereka bisa terus terjalin, kita hanya bisa berdoa: semoga mereka bisa tetap bergembira dan tetap semangat berjuang menghadapi penyakitnya.

Thanks to Petra and Noval.. Hari ini saya bisa belajar kesabaran, perjuangan dari kalian, anak-anak yang hebat.

Filed under: tulisan mama , ,

WalkingWeekend

Terinspirasi dari sebuah film “The Way” -menceritakan perjalanan seorang Ayah untuk mengenang anaknya yang telah meninggal dunia, dengan berjalan kaki dari Perancis ke Spanyol, biasa disebut El camino de Santiago-, saya dan honey membuat sebuah program Walking Weekend.

Insya Allah setiap weekend, kami akan mengambil satu hari untuk berjalan kaki ke mana saja.Walking Weekend perdana telah kami laksanakan, hari Sabtu, 3 Desember 2011 lalu. Rute yang kami coba adalah:

  1. Tubagus-sekeloa-dipatiukur. Pitstop pertama adalah tenda pisang goreng ketan :)
  2. Dipatiukur-teuku umar-ir.h.juanda-sulanjana. Pitstop kedua, bubur Mang Oyo, karena kebetulan ada janji di sana. Selesai ngebubur, jalan sedikit ke taman sari, ada perlu jait celana :D .
  3. Tamansari-sawunggaling-punrnawarman-merdeka. Pitstop ketiga yogya merdeka. Tempat yang asik untuk duduk santai, mengistirahatkan kaki.
  4. BIP-Gramedia. Jalan di mall, ini rute berat, kalo kata honey: Berat diongkos, berat di bawaan, dan berat di hati :)
  5. Surapati-gagak-sidomukti. Agak loncat, karena dari gramedia sempet naik angkot dulu :) . Jalan di mall itu bener-bener bikin kaki pegel. Pitstop ke lima di kummara, saking exciting baru beli kaset wii, langsung main just dance, pegel di kaki terlupakan, pindah ke tangan :) .
  6. Rute terakhir. Sidomukti-gagak-sadangserang-tubagus. Alhamdulillah sampe rumah dengan selamat.

Seru, ternyata sebagian bandung masih OK buat jalan kaki. Mudah-mudah weekend kedepan masih bisa Walking Weekend lagi. Ada yang mau ikut?

Life is too big to walk it alone - The Way

Filed under: alhamdulillah, tulisan mama

Kebelet

Kalo kebelet biasanya karena kita ingin buang air kecil, dan ini kadang menyiksa. Kita baru bisa lega, setelah bisa ngelakuinnya. Yang ini beda, kebeletnya pengen beli novel dan pengen baca. Pernah ngalamin?

Saya pernah. Karena sibuk dengan pekerjaan dan urusan lainnya, saya gak punya waktu untuk jalan-jalan ke toko buku. Keinginan itu makin lama makin besar, akhirnya ketika ada waktu senggang, saya sempetin datang ke toko buku.

Liat banyak novel, banyak yang ingin dibeli, tapi tiba-tiba inget sesuatu, gak ada budgetnya :( . Bolak-balik liat harga novel yang satu dengan yang lainnya. Pengen yang ini dan yang itu, tapi inget lagi, kalau bulan ini gak ada budget untuk beli buku, karena sudah terpakai untuk hal lain. Bingung.

Mondar-mandir.. Ada satu novel yang udah ‘manggil-manggil’ ingin dibeli, novel kecil yang berjudul “Saga no Gabai Bachan, Nenek Hebat dari Saga”. Saya ambil novelnya dan baca ringkasannya, sepertinya ceritanya menarik. Yah, nanti deh bulan depan belinya. Saya simpan lagi novelnya.

Tapi, entah kenapa, mungkin karena kebeletnya udah gak terbendung lagi dan saya udah terlanjur kepikat dengan novel tersebut. Akhirnya tanpa mikir panjang, saya beli  juga novelnya. Urusan budget, tinggal ngurangin budget bulan depan deh :) .

Setelah beli, karena kebelet baca juga, langsung saya baca selama perjalanan pulang naik angkot. Kebeletnya ilang, lega rasanya :D . Saya sangat menikmati novelnya, dan banyak yang bisa saya pelajari dari Nenek Osano. Alhamdulillah.

Kebelet memang baru akan hilang, kalau kita sudah melaksanakannya. Selama kebeletnya untuk hal positif, supaya gak nyiksa ya harus kita lakukan, tapi tentunya dengan cara-cara yang positif juga. Selamat kebelet :D !

Filed under: alhamdulillah, tulisan mama ,

Tes Praktek SIM, Bukan Sekedar Tes Biasa

Resiko mempunyai kendaraan baru, selain harus pintar ‘memelihara’, juga tentunya harus punya surat izin mengemudikannya (SIM).

Entah mengapa ketika harus membuat SIM, terlintas rasa ‘malas’. Mungkin karena saya masih punya pikiran kuno, ‘pasti ribet, pasti ngantri, dan harus melewati prosedur yang sulit’. Tapi karena ‘butuh’ saya coba jalani.

Berbekal informasi di internet, saya sudah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pembuatan SIM yaitu fotokopi KTP yang berlaku, dan sejumlah uang. Sesampainya di Polres, saya masuk pintu utama, di situ saya menanyakan di mana tempat pembuatan SIM. Bapak yang menjaga di kantor tersebut tidak langsung menjawab malah menanyakan sesuatu yang terasa sedikit ‘aneh’, “Mau buat SIM sendiri?” lalu saya menjawab, “iya Pak”. Beliau kemudian menunjukkan arahnya kepada saya. Hmm, nampaknya ‘jalur nembak’ masih ada dalam proses pembuatan SIM.

Ternyata tidak jauh dari tempat tadi, saya langsung menemukan tempat yang dimaksud. Banyak tersedia papan petunjuk yang memberikan informasi bagaimana proses pembuatan SIM, dan ada pos khusus yang akan menjelaskan bagaimana tata cara pembuatan SIM. Berhubung saya juga sudah membaca langkah-langkahnya di internet, maka saya tidak menghabiskan waktu untuk bertanya, saya langsung mencari pos kesehatan untuk melakukan tes kesehatan.

Ada petunjuk yang mengarah kepada pos kesehatan, saya ikuti arah tersebut, namun saya sempat salah masuk, yang saya masuki adalah polikliniknya, sedangkan tempat pemeriksaan kesehatan untuk pembuatan SIM, berada di sebelahnya :) . Tidak ada antrian, jadi saya bisa langsung memasuki ruang pemeriksaan. Sangat mudah dan cepat. Saya hanya menyerahkan KTP (yang nantinya dikembalikan lagi), kemudian diperiksa tekanan darah, tes buta warna (hanya 4 pertanyaan) dan tes penglihatan (menyebutkan huruf2 di baris ke5). Kemudian, ditanya tentang tinggi dan berat badan. Setelah itu, saya mendapatkan kertas hasil tes kesehatan, lalu membayar uang sejumlah Rp. 25.000. 25rb untuk secarik kertas tipis bertanda-tangan dan bercap :) . Hmm, berbeda dengan yang saya baca di internet yang kisarannya Rp. 10.000-Rp.15.000. Mungkin memang sudah mengalami kenaikan.

Setelah itu, saya menuju loket pendaftaran. Di situ, saya menyerahkan hasil tes kesehatan, dan foto kopi KTP. Lalu mendapat nomor untuk melakukan tes teori. Kesulitan saya waktu itu, adalah menemukan ruangan tes teori, karena tidak ada petunjuknya, yang ada malah sebuah pintu dengan tanda berupa tulisan ‘selain petugas dilarang masuk’. Dan saya harus memasukinya. Haha.. petunjuk yang aneh. Ruangan tersebut berada di belakang loket pendaftaran, untuk menuju ruang tersebut, saya harus memasuki pintu yang bertanda aneh tersebut :) .

Ruangannya cukup luas, sudah tersedia layar proyektor dan kursi-kursi. Saya menunjukkan nomor antrian, lalu saya dipersilahkan menduduki kursi no.3. Kursinya dari kayu dengan dudukan tangan khusus, sehingga di atasnya terdapat 2 tombol, bertuliskan Benar dan Salah. Sistemnya sudah cukup canggih, sehingga tidak memerlukan kertas dan pinsil/pena. Cukup menekan tombol tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Tes dimulai ketika seluruh peserta sudah hadir. Sebelum tes, tombol-tombol tersebut diuji apakah sudah berfungsi dengan baik. Setelah itu tes dimulai. Seluruh petunjuk disampaikan melalui slide di layar proyektor. Cukup menegangkan, karena setiap pertanyaan harus dijawab kurang dari 15-20 detik. Pertanyaannya ada 2 jenis, menganalisa gambar dan menganalisa situasi (biasanya situasi diulang 2-3x). Di sini, saya harus berkonsentrasi, mendengarkan, melihat dan menekan tombol.

Kesulitan saya menghadapi tes teori ini, adalah 1) ruangan kurang gelap, sehingga gambar menjadi kurang jelas, 2) pertanyaan kadang muncul ditengah-tengah, sehingga konsentrasi kita harus berpindah, setelah mendengar pertanyaan, 3) waktu yang sangat singkat. Nilai lebih dari tes teori ini adalah setelah seluruh peserta menjawab, akan disampaikan jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, sehingga menambah informasi kepada kita, bagaimana etika di perjalanan, juga sedikit tentang rambu-rambu lalu lintas yang penting. Namun syukurlah, saya berhasil lulus di tes teori ini. Hanya terpaut 1 poin dengan skor tertinggi saat itu. Tes ini juga saya lalui dengan cepat.

Setelah itu saya harus menunggu untuk tes selanjutnya, yaitu tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil dan motor, sudah ditentukan jadwalnya (hal ini harus diperhatikan, supaya tidak menunggu lama di sana). Biasanya tes praktek motor didahulukan, baru kemudian tes praktek mobil (dimulai jam 11.30an).

Ketika menunggu, saya berbincang-bincang dengan bapak-bapak yang senasib dengan saya, kebetulan yang membuat mobil saat itu hanya bapak-bapak :) . Salah satu dari mereka, terlihat begitu tegang, beliau menyampaikan tentang tes praktek mobil yang akan kami hadapi bersama. Beliau juga sudah mencari informasi kalau ingin tes prakteknya diluluskan harus membayar sejumlah uang sebesar Rp. 50.000. Tapi, kami semua menunggu, tetap penasaran dengan tes prakteknya.

Karena posisi tempat duduk saya langsung berhadapan dengan tempat tes praktek motor, saya juga melihat beberapa orang yang tidak lulus tes ini. Mereka diberi 2x kali kesempatan untuk tes praktek ini, jika keduanya gagal, maka harus diulang 2 hari kemudian. Ternyata cukup sulit untuk lulus tes ini.

Setelah lama menunggu (karena saya datang kepagian), akhirnya saya pun dipanggil untuk melakukan tes praktek mobil. Ternyata untuk tes praktek mobil, hanya diberikan 1x kesempatan, begitu gagal harus diulang 2 hari kemudian atau maximal sampai 3 bulan. Sangat tegang, karena memang cukup sulit. Mobil dikelilingi patok-patok (kiri-kanan dan belakang), jarak patok ke mobil hanya 20cm. Ceritanya itu adalah garasi mobil yang sempit. Dari garasi mobil, saya harus mengeluarkan mobil lalu berbelok ke kanan menuju tempat parkir (dibatasi patok juga, namun ruangnya besar), setelah itu saya harus berjalan mundur, berbelok dan memasukan mobil kembali ke garasi yang sempit tadi. Hal tersebut harus dilakukan sekaligus, jadi tidak boleh memindahkan gigi (misal pindah ke gigi depan, maju dulu kemudian mundur lagi untuk mengatur posisi kendaraan). Jika tes tadi berhasil dilakukan, lakukan kembali ke arah sebaliknya (berbelok ke kiri). Fuihhh.. ternyata cukup sulit buat saya. Banyak yang gagal menghadapi tes ini, dan saya pun termasuk di dalamnya :D

Satu orang langsung mengundurkan diri setelah melihat tesnya terasa sulit, mungkin beliau memilih ‘jalur cepat’ saja. Beberapa orang menganalisa dan sedikit protes, karena hanya diberikan 1x kesempatan, sedangkan motor 2x kesempatan, mengapa dibedakan. Namun memang prosedurnya sudah begitu, jadi tetap tidak dipedulikan petugas. Beberapa orang yang gagal memohon untuk ‘dipermudah’ untuk diluluskan namun petugas tidak bisa membantunya, tetap harus mengulang 2 hari ini. Saya salut juga dengan para petugas yang telah menolak ‘ketidakjujuran’ ini.

Selidik selidik dari blog tetangga yang tinggal di jakarta, ternyata tes praktek mobil ini juga tidak ada standarisasinya. Tes praktek di jakarta jauh berbeda dengan tes praktek di sini. Aneh juga yaa..

Anyway, hari ini saya melihat bahwa masih banyak orang yang berbuat jujur, namun beberapa orang kembali berniat untuk ‘tidak jujur’ karena sistem yang mereka anggap mempersulit (tidak adanya kesempatan ke2 untuk yang gagal) dan untuk membayar waktu yang terbuang hari itu.

Apakah sistem yang harus diperbaiki, atau kah niat kita yang harus diperbaiki?

Waktunya kita menguji diri sendiri :D

Gambar: http://images.iniirma.multiply.com

Filed under: tulisan mama

Kekuatan Sosial Media Sesungguhnya

Beberapa dari kita masih sibuk untuk menambah follower dan mencari perhatian orang-orang yang kita follow. Karena kesibukan itu kadang kita lupa untuk memanfaatkan kekuatan sosial media yang sebenarnya.

Berikut adalah sebuah uraian yang sangat menarik betapa beberapa orang telah mampu melakukan yang sangat luar biasa lewat sosial media dan sesungguhnya siapapun bisa melakukannya, termasuk kita semua.

Bagaimana Keterhubungan di Media Sosial Mendorong Orang untuk Berbuat Kebaikan?

Link berita yang di-twit oleh Pemimpin Redaksi Detikcom @budionodarsono Rabu (11/8/2010) sekitar pukul 23.00 WIB itu menggelisahkan banyak orang. Alissa Wahid yang baru saja selesai mengeloni anaknya langsung bangun dan sibuk dengan BB-nya untuk menghimpun informasi lebih jauh. Dengan setengah histeris dia nge-twit:
@alissawahid : @budionodarsono ya ampuun.. Wartawan detiknya sopo pak, mungkin aku bs kontak lgs

Berita itu berjudul “Terlilit Utang Rp 20 Ribu, Ibu Ajak Dua Anaknya Bakar Diri“.

Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Waktunya untuk lebih peduli!

Filed under: catatan, sosial media , , ,

Seni Memilih

Presentasi berikut adalah satu presentasi yang menarik. Sang presenter, Sheena Iyengar, adalah seorang peneliti sekaligus penulis buku: The Art of Choosing. Presentasi ini begitu menarik bagi kami, karena kadang tidak menyadari bahwa dibalik hal-hal yang biasa kita lakukan (memilih) kadang terkandung banyak aspek luar biasa.

Filed under: catatan , , ,

Dari Sofa Untuk Istana


Dear Bapak Yang Bekerja di Istana,

Belakangan ini Saya membaca banyak sekali masalah yang sedang menimpa Bapak. Dari mulai para anak-anak yang melapor ditoyor salah satu oknum yang mirip anggota pengawal Bapak, anak pengguna jalan yang kabarnya sedikit trauma karena kegarangan para pengawal Bapak, anak yang terluka bakar karena ketidakmampuan anak buah Bapak membuat produk yang aman, dan mungkin ratusan masalah lainnya yang disebabkan oleh mereka yang dekat dengan Bapak.

Bapak, Bapak rajin berkeluh kesah pada kami semua, bahwa ada banyak pihak yang coba memperburuk citra kerja Bapak. Tapi apakah Bapak sudah benar-benar melihat sekeliling Bapak? Mungkin yang memperburuk citra Bapak adalah mereka yang selalu berada di dekat Bapak. Bapak, Saya dulu sempat mengagumi Bapak atas ketegasan Bapak menentang salah satu penghuni istana sebelumnya. Ketegasan Bapak itulah yang begitu membekas bagi Saya. Belakangan ketegasan itu tidak lagi tersisa di penampilan Bapak. Bapak kadang hanya terlihat membaca, bukan berbicara. Kami rakyat jelata kadang bingung apakah yang Bapak sampaikan sungguh suara hati Bapak atau hasil olahan mereka yang coba membentuk citra tertentu bagi Bapak? Lebih parah lagi, kadang bahasa yang Bapak sampaikan begitu berbelit dan susah kami mengerti.

Bapak, Bapak bekerja di sebuah istana, dengan tugas mulia – menjadi pelayan bagi seluruh bangsa. Mungkin citra itulah yang seharusnya Bapak jaga: seorang pelayan, bukan penguasa. Begitu sulitkah untuk menjadi pelayan yang baik? Bangsa ini rumah kami, kami cuma berharap pelayan Bangsa ini bisa secara rutin membersihkan Bangsa ini dari segala bentuk kotoran dan tikus-tikus perusak. Bangsa ini memiliki segalanya, kami cuma berharap pelayan Bangsa ini tahu bagaimana mengolah segala sumber daya yang ada untuk kenyamanan dan kesejahtraan kita bersama. Bangsa ini sebuah bangsa besar dan kami cuma mengharapkan pelayan bangsa ini selalu mampu membawa hal tersebut kapanpun dan dimanapun ia berada, bukan kemudian hanya berkeluh kesah di mana-mana. Mungkin cuma itu harapan kami semua.

Bapak, di sekitar kita begitu banyak manusia-manusia yang luar biasa. Mereka bekerja keras untuk membuat pekerjaan Bapak lebih mudah. Mereka melakukan itu semua tanpa fasilitas penunjang apapun dan sedikitpun mereka tidak pernah berkeluh kesah. Saya coba belajar dari mereka, mungkin ada baiknya jika Bapak bersedia bergabung bersama Saya.

Bapak, kami tidak pernah mengerti apa yang Bapak keluhkan. Jika Bapak mengeluh karena banyak orang coba menjelekkan Bapak, lalu kenapa? Kita selalu memiliki pilihan dalam hidup kita dan pilihan kita adalah yang menentukan siapa diri kita. Kita bisa memilih untuk hidup berdasarkan pandangan orang atau tetap berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan segala tugas dan kewajiban kita. Adalah hak setiap orang untuk menilai Bapak. Tetapi Bapak sendirilah yang sesungguhnya bisa menentukan apakah penilaian mereka benar atau salah. Kami bisa membantu Bapak menunjukkan pada mereka semua bahwa mereka salah – tapi kami juga perlu sedikit bukti, bahwa Bapak benar-benar peduli.

Bapak, Saya mohon maaf – bukan Saya bermaksud menggurui Bapak. Saya kadang merasa begitu geli dan gereget. Karena Saya yakin bahwa Bapak sebenarnya mampu menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Hanya kadang entah kenapa, Bapak terlihat ragu dan tidak pernah berani mengambil sebuah keputusan sendiri. Bapak, jaman dulu kala ketika seorang raja bingung – ia kadang menyediri, menyepi, bersemedi. Mungkin konsep yang sama bisa coba Bapak terapkan. Bapak bisa coba menyendiri – menjauhkan diri dari orang-orang yang selama ini selalu berada dekat dengan Bapak. Menyepi, coba menutup telinga dari ratusan bahkan ribuan saran yang tak berarti dan coba lebih mendengar suara hati Bapak sendiri. Bersemedi, melihat dan mengenal segalanya kemudian coba mendekatkan diri dan menyatu pada lingkungan sesungguhnya. Saya tidak berharap Bapak menyamar menjadi rakyat biasa dan hadir di warung kopi untuk mendengar keluhan rakyat semua. Tapi mungkin ada baiknya Bapak sedikit meluangkan waktu untuk berbicara langsung dari hati dengan kami (baca: ngetweet). Mungkin dengan melakukan itu semua, segala solusi atas segala permasalahan yang Bapak hadapi kini bisa muncul dengan sendiri.

Bapak, apa yang kami tulis di sini hanyalah sedikit upaya kami berbagi. Jika memang ada sedikit manfaatnya, tentu kami bahagia. Jika ternyata tidak, tidaklah mengapa. Kami akan selalu berdoa untuk Bapak. Semoga Bapak bisa sehat dan bisa menyelesaikan segala tugas Bapak. Kami juga berdoa semoga ungkapan kami berikutnya tentang Bapak bisa lebih banyak berisi pujian dan doa, bukan lagi berisi keprihatinan belaka.

Salam hangat,
Dari kami yang duduk di sofa.

Filed under: dari hati , , ,

Sopuy Rica-Rica -Sarapansabtu

Janji mau bagi-bagi resep Sarapansabtu kami, kali ini koki Rangga membuat Sopuy Rica-rica.

Bahan:

  • Sosis 1 bungkus
  • Telur Puyuh secukupnya
  • Baso 1 bungkus
  • Kemiri secukupnya
  • Bawang Putih 4 siung
  • Bawang Merah 4 siung
  • Cabe Merah 1/4 kg
  • Gula, garam, vetsin secukupnya
  • Air 400ml

Cara Pembuatan:

  1. Rebus telur puyuh sampai matang, kupas, sisihkan.
  2. Rebus baso dan sosis sampai matang, sisihkan.
  3. Tumbuk bawang merah, bawang putih dan kemiri, masukan garam, gula dan vetsin.
  4. Tumis bumbu halus sampai masak, angkat.
  5. Tumbuk kembali bumbu tersebut bersama cabe merah sampai halus.
  6. Tumis bumbu halus tersebut sampai matang, lalu masukkan air, sosis, telur puyuh dan baso sampai mendidih.
  7. Hidangkan dengan nasi putih.

PS: Telur, sosis dan baso bisa diganti dengan menggunakan bahan lain.

Selamat mencoba!

Filed under: alhamdulillah, Kiriman

Roti Jala Kari Ayam -Sarapansabtu

Sejak bulan lalu, saya dan suami beserta adik-adik kami memulai sebuah kegiatan (wajib) ‘Sarapan Sabtu’ di setiap sabtu pagi, yang tentunya tidak jauh dari acara sarapan. Uniknya, setiap minggu kami memilih salah satu dari kami untuk menjadi koki yang bertanggung jawab penuh menyediakan sarapan di sabtu pagi, menu sarapan yang dipilih pun harus makanan yang berasal dari luar Jawa Barat (boleh dari luar negeri). Dengan begitu, kami bisa mengenal dan mencicipi berbagai makanan yang ada di belahan dunia ini.

Koki tentunya boleh dibantu oleh siapa pun yang bersedia membantu, dalam hal belanja atau pun memasak. Makanan yang disajikan, nantinya akan dinilai. Kriteria penilaian di bagi menjadi 3 kategori: Rasa, Unik, dan Tampilan. Setelah seluruh anggota mendapatkan giliran memasak, maka koki yang mendapatkan nilai terbesar akan menjadi  pemenangnya. Seperti pada umumnya, maka pemenang akan mendapatkan hadiah (buku/tiket nonton).

Alhamdulillah, sarapan sabtu ini telah berjalan sebulan lebih. Sebenarnya bukan makanan & hadiahnya yang penting dalam sarapan sabtu ini, tapi kebersamaan yang tercipta. Mungkin tidak semua keluarga mempunyai kesempatan seperti ini. Pagi-pagi walaupun dengan mata yang masih mengantuk, bisa berkumpul, berdoa bersama, mengenal berbagai makanan, curhat dan bercanda ria memberikan kebahagiaan tersendiri. Walaupun sarapan sabtu mungkin hanya berlangsung selama 1 jam, namun cukup membekas dalam hati kami. Semoga sarapan sabtu ini bisa terus berjalan dan terus mempererat keluarga kami dan semoga sarapan sabtu kami bisa menjadi inspirasi di keluarga Anda.

Oya, kami akan selalu menuliskan resep dari sarapan sabtu yang kami lakukan. Ini salah satunya, Roti Jala Kari Ayam, yang katanya dari Aceh:

Bahan Roti Jala:

  • Santan kental 250 ml
  • Tepung terigu Bogasari Kunci Biru atau Roda Biru 110   gram
  • Telur ayam 2 butir
  • Garam 1/2 sendok teh

Kari Ayam:

  • Dada ayam 250 gram, potong dadu
  • Bawang Bombay 1/2 buah, cincang kasar
  • Minyak goreng 2 sendok makan
  • Bumbu kari ayam 1 bungkus, siap pakai
  • Sereh 1 batang, memarkan
  • Daun jeruk purut 3 lembar
  • Air 100 ml
  • Santan kental 300 ml

Cara Membuat:

1.     Roti Jala: Blender semua bahan hingga halus lalu masukkan ke dalam kantung semprot. Panaskan pan dadar yang telah diberi margarin, semprotkan adonan menyerupai jala, masak hingga matang lalu angkat. Lakukan hingga adonan habis, sisihkan.

2.     Kari Ayam: Panaskan minyak, tumis bawang Bombay hingga harum lalu masukkan bumbu kari, sereh dan daun jeruk. Masukkan ayam, aduk-aduk lalu tambahkan air, masak hingga mendidih.

3.     Tambahkan santan kental, masak hingga mendidih lalu angkat.

4.     Sajikan roti jala bersama kari ayam hangat.

Hasil Jadi  4 Porsi

SELAMAT MENCOBA :D

Filed under: alhamdulillah

Asiknya Tinggal di Gang

Mencari rumah di bandung, memang sulit. Harganya yang cukup tinggi, membuat saya dan suami memilih untuk mengontrak. Mencari rumah kontrakan pun sebenarnya sangat sulit bagi kami, butuh waktu berminggu-minggu hingga akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang cukup besar, fasilitasnya bagus, sangat dekat dengan mesjid, dan berada di tengah-tengah lingkungan yang ramah walaupun hanya di sebuah gang.

Ini adalah pengalaman pertama saya tinggal di sebuah gang. Setiap pagi saya dibangunkan oleh adzan subuh dari mesjid, suara pintu rumah tetangga, atau langkah kaki para tetangga yang akan melaksanakan ibadah solat subuh. Kalau pun suara-suara tersebut tidak mampu membuka mata yang terlelap. Tidak lama, mata pun akan terbuka karena suara-suara lainnya yang berdatangan, tukang roti keliling, tukang bubur, atau suara tetangga yang sedang berbincang-bincang. Tidak hanya itu, suara gemercik air dari kran yang dibuka, atau wangi masakan yang menyentuh hidung, juga mampu membangunkan tubuh ini :) . Tembok yang berdempetan satu sama lain ternyata tidak mampu meredam suara-suara tersebut.

Kadang tanpa sengaja, telinga ini mengikuti percakapan para tetangga yang sedang asik berbincang di sebelah rumah. Bukan bermaksud menguping, tapi suara tersebut menghampiri dengan sendirinya. Mungkin ini cara tercepat untuk mengenal tetangga lebih jauh, tanpa perlu bertatap muka :D .

Tanpa melihat, saya pun bisa tahu, kalau tetangga saya sedang mengajarkan burungnya bernyanyi. Tawa anak-anak yang sedang bermain bola, bermain sepeda. atau sekedar memanggil temannya untuk bermain. Suara-suara tersebut sedikit pun tidak menggangu saya, tapi justru memberikan suasana ‘hidup’, sehingga tidak merasa sepi.

Tetangga kami sangat ramah, kami sering dikirim dan saling mengirim makanan. Pernah satu kali, kami menghirup wangii yang sangat enakk, -sepertinya tetangga kami sedang membuat kue-. Beberapa saat kemudian, datanglah semangkuk kue putri salju. Senangnya :D

Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berada di lingkungan yang ramah, bersih dan aman ini, meskipun hanya di sebuah gang. Ternyata tinggal di Gang itu asik :)

Filed under: alhamdulillah, tulisan mama

Ayang di facebook

Kanty Kusmayanty's Facebook Profile

Twitter-nya Ayang

Honey di facebook

Eko Nugroho's Facebook Profile

Twitter-nya Honey

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya.

Kalender

Januari 2012
S S R K J S M
« Des    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Gabung yuuk!

Blog Stats

  • 53,636 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.